PTMA sebagai Ruang Perwujudan Identitas Gerakan Muhammadiyah
PTMA sebagai Ruang Perwujudan Identitas Gerakan Muhammadiyah
Penulis: Dr. Hasbullah, MPdI, Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu & Sekertaris ALAIK PTMA
Identitas Muhammadiyah adalah Gerakan Islam, Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar, dan Tajdid yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta berdasar Islam. Identitas tersebut bukan sekadar rumusan administratif dalam Anggaran Dasar Persyarikatan, melainkan ruh yang harus menghidupi seluruh amal usaha Muhammadiyah, termasuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA). Bagi PTMA, identitas ini menjadi arah, ukuran, dan energi dalam menjalankan tugas pendidikan tinggi, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.
Perguruan Tinggi Muhammadiyah memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam pergerakan Muhammadiyah. Ia bukan hanya tempat mencetak sarjana, tetapi juga laboratorium peradaban tempat ilmu pengetahuan, iman, akhlak, dan kepedulian sosial dipadukan. Karena itu, keberadaan PTMA tidak dapat dipisahkan dari misi Muhammadiyah untuk menegakkan Islam dan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya: adil, makmur, bermartabat, dan diridai Allah SWT.
Muhammadiyah adalah gerakan Islam. Artinya, seluruh kegiatan Persyarikatan harus berangkat dari keyakinan terhadap Allah SWT, Rasulullah SAW, dan ajaran Islam yang dibawa melalui Al-Qur’an serta Sunnah. Dalam konteks PTMA, pengertian gerakan Islam menuntut agar kampus tidak berhenti pada fungsi transfer ilmu semata. Kampus harus menjadi ruang pembentukan insan yang beriman, berilmu, berakhlak, dan berorientasi pada kebaikan masyarakat.
Sebuah PTMA yang memiliki identitas Muhammadiyah harus mampu menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan iman bukan dua hal yang terpisah. Ilmu tanpa iman berpotensi kehilangan arah moral, sedangkan iman tanpa ilmu berpotensi menjadi kaku dan tidak mampu menjawab persoalan zaman. Karena itu, PTMA dituntut menghadirkan integrasi antara nilai-nilai Islam dan pengembangan keilmuan modern.
Integrasi tersebut dapat diwujudkan melalui kurikulum yang memuat nilai-nilai Islam dan keislaman, pengembangan mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, penguatan pendidikan akhlak, serta pembiasaan ibadah dan kegiatan keislaman di kampus. Namun, lebih penting dari itu, integrasi harus hadir dalam budaya akademik. Dosen harus menjadi teladan dalam kejujuran ilmiah, ketepatan waktu, tanggung jawab, kesetaraan, dan kepedulian terhadap mahasiswa. Mahasiswa pun perlu dibiasakan menghargai perbedaan, menghormati proses belajar, dan menggunakan ilmu untuk kemaslahatan umat.
Dengan cara demikian, PTMA benar-benar menjadi bagian dari Gerakan Islam Muhammadiyah, bukan hanya lembaga pendidikan yang menggunakan nama Muhammadiyah. Kampus menjadi tempat lahirnya generasi intelektual Muslim yang mampu berpikir kritis, bertindak konstruktif, dan berkomitmen pada kebaikan bersama.
Dakwah Melalui Ilmu dan Pendidikan
Identitas kedua Muhammadiyah adalah dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Dakwah dalam pengertian yang luas bukan hanya ceramah dari mimbar masjid, tetapi juga seluruh upaya mengajak manusia kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. PTMA memiliki peluang luar biasa untuk menjalankan dakwah tersebut melalui ilmu pengetahuan, teknologi, seni, kesehatan, ekonomi, hukum, pendidikan, dan berbagai bidang keahlian lainnya.
Dosen PTMA melakukan dakwah ketika mengajarkan ilmu dengan jujur, menghindari plagiarisme, dan membimbing mahasiswa untuk berpikir secara ilmiah. Mahasiswa melakukan dakwah ketika menggunakan kemampuannya untuk membantu masyarakat, menghasilkan karya yang bermanfaat, dan menolak praktik curang dalam kehidupan akademik. Peneliti melakukan dakwah ketika menghasilkan inovasi yang menjawab persoalan nyata masyarakat, seperti pangan, kesehatan, energi, pendidikan, lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi.
Dakwah PTMA juga harus menyentuh masyarakat sekitar. Program pengabdian kepada masyarakat seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diarahkan untuk memberikan dampak nyata. Misalnya, fakultas kesehatan dapat mengembangkan layanan edukasi kesehatan masyarakat; fakultas teknik dapat membantu penguatan teknologi tepat guna; fakultas ekonomi dapat membina usaha mikro; dan fakultas pendidikan dapat memperkuat mutu pembelajaran di sekolah-sekolah sekitar.
Melalui kegiatan tersebut, PTMA menegaskan bahwa amar ma’ruf nahi munkar adalah gerakan sosial yang konkret. Kampus hadir di tengah masyarakat, mendengar persoalan mereka, dan menawarkan solusi berbasis ilmu. Inilah dakwah yang progresif: bukan hanya menyampaikan nilai kebaikan, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan nyata.
Identitas ketiga Muhammadiyah adalah tajdid, yaitu pemurnian dan pembaharuan pemahaman serta pengamalan Islam. Tajdid menuntut umat Islam untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang tepat, terbuka terhadap ijtihad, serta berani melakukan perbaikan terhadap praktik yang tidak sesuai dengan tuntunan Islam.
Dalam konteks PTMA, tajdid berarti kampus harus terus berbenah dan berinovasi. Mutu pendidikan harus ditingkatkan secara berkelanjutan. Kurikulum perlu dikembangkan agar relevan dengan kebutuhan dunia kerja, perkembangan teknologi, dan tantangan masyarakat. Penelitian harus diperkuat agar mampu menghasilkan temuan yang bermanfaat. Tata kelola institusi harus bersih, profesional, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan.
Tajdid juga berarti PTMA tidak boleh puas dengan cara kerja lama apabila cara tersebut tidak lagi efektif. Kampus perlu memanfaatkan teknologi digital, memperkuat kolaborasi dengan dunia industri, membangun jejaring riset, dan mendorong mahasiswa berpikir kreatif serta berdaya saing. Pada saat yang sama, pembaruan tersebut tidak boleh kehilangan akar nilai Islam dan keindonesiaan.
Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan yang memandang Islam sebagai Dinul Hadharah, agama yang membawa peradaban. Pandangan ini menuntut PTMA untuk menghadirkan Islam yang rasional, moderat, progresif, dan ramah terhadap ilmu pengetahuan. Islam yang diajarkan di PTMA bukan Islam yang menutup ruang berpikir, melainkan Islam yang mendorong manusia untuk belajar, meneliti, berkarya, dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Membentuk Kepribadian Muhammadiyah
Salah satu tugas utama PTMA adalah membentuk kepribadian Muhammadiyah pada mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan. Kepribadian Muhammadiyah bukan sekadar kemampuan membaca atau menghafal materi keislaman, melainkan kesatuan antara iman, ilmu, amal, dan akhlak.
Mahasiswa Muhammadiyah idealnya memiliki kesadaran keislaman yang kuat, semangat belajar, sikap moderat, jiwa kepemimpinan, kepedulian sosial, dan komitmen terhadap kebangsaan. Mereka perlu dibiasakan menjadi pelaku perubahan di lingkungan kampus, keluarga, dan masyarakat. Karena itu, pembinaan mahasiswa tidak cukup dilakukan melalui perkuliahan formal. Perlu ada ruang organisasi, diskusi ilmiah, pelatihan kepemimpinan, kegiatan sosial, penelitian mahasiswa, dan pengabdian masyarakat.
Organisasi kemahasiswaan seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), serta unit kegiatan mahasiswa lainnya memiliki peran penting dalam membentuk karakter mahasiswa. Melalui organisasi, mahasiswa belajar mengelola perbedaan, mengambil keputusan, memimpin, melayani, dan bekerja sama. Pengalaman-pengalaman inilah yang kelak membentuk mereka sebagai calon pemimpin masyarakat dan bangsa.
Dosen dan tenaga kependidikan juga perlu terus dibina agar memahami identitas Muhammadiyah. Mereka adalah teladan sehari-hari bagi mahasiswa. Sikap dosen dalam mengajar, berinteraksi, meneliti, dan mengambil keputusan akan menjadi pembelajaran tidak langsung yang sangat berpengaruh bagi mahasiswa.
Identitas Muhammadiyah juga menuntut PTMA untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Muhammadiyah menerima Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Oleh karena itu, PTMA harus menghadirkan wajah kampus yang cinta tanah air, menghargai kebhinekaan, dan berkomitmen pada persatuan bangsa.
Di tengah perkembangan zaman yang cepat, bangsa Indonesia menghadapi berbagai persoalan, seperti kesenjangan pendidikan, kemiskinan, perubahan iklim, disrupsi teknologi, disinformasi, dan tantangan kesehatan masyarakat. PTMA perlu menjawab persoalan tersebut melalui riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat. Kontribusi kampus tidak cukup diukur dari jumlah publikasi atau akreditasi semata, tetapi juga dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.
PTMA juga perlu memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, lembaga riset, masyarakat sipil, dan almamater. Kolaborasi semacam ini akan memperluas dampak kampus serta memperkuat posisi PTMA sebagai pusat keunggulan ilmu pengetahuan dan peradaban.
Menjaga Identitas di Tengah Perubahan
Tantangan terbesar PTMA saat ini adalah menjaga identitas Muhammadiyah di tengah tuntutan modernisasi dan persaingan pendidikan tinggi. Kampus tidak boleh terjebak menjadi institusi yang hanya mengejar jumlah mahasiswa, pendapatan, atau peringkat, tetapi kehilangan ruh keislaman dan kepersyarikatan.
Sebaliknya, PTMA juga tidak boleh berhenti pada slogan keislaman tanpa kemampuan akademik yang unggul. Identitas Muhammadiyah akan kuat apabila PTMA mampu menunjukkan keunggulan nyata: dosen berkualitas, penelitian bermakna, layanan pendidikan yang baik, lulusan yang kompeten, dan kontribusi sosial yang terasa.
Oleh karena itu, setiap civitas akademika perlu memahami bahwa menjadi bagian dari PTMA adalah menjadi bagian dari gerakan. Mengajar adalah dakwah. Belajar adalah ibadah. Meneliti adalah ikhtiar untuk kemaslahatan. Melayani masyarakat adalah wujud amar ma’ruf. Membenahi kampus adalah tajdid.
Pada akhirnya, PTMA yang kuat adalah PTMA yang mampu menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam melalui ilmu, pendidikan, dan peradaban. Dengan berpegang pada identitas Gerakan Islam, Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar, dan Tajdid, Perguruan Tinggi Muhammadiyah akan semakin kokoh sebagai rumah bagi generasi cerdas, berakhlak, berdaya saing, dan berdedikasi untuk umat serta bangsa.