Membangun Loyalitas Kader tanpa Mematikan Daya Kritis

Suara Muhammadiyah

2 August 2026

133
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Membangun Loyalitas Kader tanpa Mematikan Daya Kritis

Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur

Di setiap organisasi besar, selalu muncul pertanyaan yang sama dari generasi ke generasi, yaitu bagaimana menjaga loyalitas kader tanpa membuat organisasi kehilangan ruang kritik? Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika organisasi menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat, sementara tantangan internal juga semakin kompleks. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan tentu tidak terkecuali.

Sering kali loyalitas dipahami sebagai kesediaan untuk selalu mengikuti keputusan organisasi tanpa banyak bertanya. Sebaliknya, sikap kritis kerap dicurigai sebagai bentuk pembangkangan atau ketidaksetiaan. Padahal, dua hal tersebut sesungguhnya tidak perlu dipermasalahkan. Loyalitas dan daya kritis justru dapat berjalan beriringan apabila keduanya dibangun di atas fondasi nilai yang benar.

Muhammadiyah sejak awal tidak pernah lahir dari budaya kepatuhan yang membabi buta. Gerakan ini justru lahir dari keberanian KH Ahmad Dahlan untuk mempertanyakan praktik-praktik keagamaan dan sosial yang dianggap tidak lagi sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah. Semangat tajdid yang menjadi ruh Muhammadiyah merupakan wujud nyata dari keberanian berpikir kritis, sekaligus kesetiaan terhadap ajaran Islam.

Tradisi kritis bukanlah ancaman bagi Muhammadiyah, melainkan bagian dari identitasnya. Kondisi yang menjadi persoalan adalah ketika kritik berubah menjadi sekadar pelampiasan emosi, kehilangan adab, atau bahkan didorong oleh kepentingan pribadi. Sebaliknya, loyalitas juga menjadi masalah ketika berubah menjadi kultus terhadap figur, menghilangkan objektivitas, dan menghambat kreativitas kader.

Di era digital, tantangan tersebut semakin terasa. Media sosial menghadirkan ruang yang sangat terbuka bagi setiap orang untuk menyampaikan pendapat. Informasi beredar begitu cepat, sering kali tanpa proses tabayun yang memadai. Dalam situasi seperti ini, sebagian kader lebih memilih menyampaikan kritik melalui ruang publik dibandingkan dengan menyelesaikannya melalui mekanisme organisasi. Tidak sedikit pula yang menjadikan media sosial sebagai arena untuk mencari pengaruh pribadi dengan mengorbankan marwah persyarikatan.

Di sisi lain, masih terdapat budaya organisasi yang belum sepenuhnya memberikan ruang dialog. Kritik kadang dipandang sebagai ancaman terhadap kewibawaan pimpinan. Akibatnya, kader muda memilih diam atau bahkan menjauh karena merasa pendapatnya tidak dihargai. Kondisi seperti ini sesungguhnya jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan kritik yang disampaikan secara terbuka namun bertanggung jawab.

Organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang seluruh anggotanya selalu sepakat. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu mengelola perbedaan menjadi energi perbaikan. Perbedaan pendapat merupakan keniscayaan, apalagi Muhammadiyah dihuni oleh kader dari beragam disiplin ilmu, latar belakang profesi, pengalaman organisasi, hingga generasi yang berbeda.

Karena itu, loyalitas tidak boleh diukur dari seberapa sering seseorang memuji pimpinan atau mengamini setiap keputusan. Loyalitas justru terlihat ketika kader tetap menjaga marwah organisasi, bekerja keras demi kemajuan persyarikatan, serta bersedia menyampaikan kritik secara jujur demi perbaikan bersama.

Dalam tradisi Islam, amar ma'ruf nahi munkar mengandung makna bahwa mengingatkan merupakan bentuk kasih sayang, bukan permusuhan. Kritik yang lahir dari niat untuk memperbaiki merupakan bagian dari amanah dakwah. Sebaliknya, membiarkan kekeliruan karena takut dianggap tidak loyal justru dapat merugikan organisasi dalam jangka panjang.

Muhammadiyah memiliki modal sosial yang sangat besar untuk membangun budaya seperti ini. Musyawarah telah menjadi tradisi yang mengakar sejak awal berdirinya persyarikatan. Musyawarah bukan sekadar forum untuk mengambil keputusan, tetapi juga ruang untuk bertukar gagasan, menyampaikan argumentasi, dan mencari solusi terbaik secara kolektif.

Namun demikian, budaya musyawarah perlu terus diperkuat agar tidak berhenti pada formalitas. Setiap kader harus merasakan bahwa suaranya didengar, argumentasinya dipertimbangkan, dan kontribusinya dihargai. Sebaliknya, kader juga perlu belajar bahwa tidak semua usulan harus diterima. Ketika keputusan telah dihasilkan melalui mekanisme yang sah, seluruh elemen organisasi berkewajiban menjalankannya dengan penuh tanggung jawab.

Di sinilah letak keseimbangan antara loyalitas dan daya kritis. Kritik dilakukan sebelum keputusan diambil melalui mekanisme yang sesuai. Setelah keputusan menjadi keputusan organisasi, loyalitas diwujudkan melalui komitmen untuk melaksanakan hasil musyawarah. Jika di kemudian hari ditemukan kekurangan, evaluasi kembali dilakukan melalui saluran organisasi, bukan melalui polarisasi yang merusak persatuan.

Penguatan kaderisasi juga menjadi faktor yang sangat menentukan. Kaderisasi tidak cukup hanya menanamkan kecintaan kepada Muhammadiyah, tetapi juga harus membangun kemampuan berpikir kritis, tradisi membaca, budaya berdiskusi, serta keberanian menyampaikan pendapat secara santun. Organisasi akan kehilangan daya hidup apabila hanya melahirkan kader yang patuh tetapi tidak kreatif. Sebaliknya, organisasi juga akan rapuh apabila melahirkan kader yang kritis tetapi tidak memiliki komitmen terhadap persyarikatan.

Dalam konteks inilah pimpinan memiliki peran strategis. Kepemimpinan yang inklusif akan menciptakan suasana psikologis yang aman bagi kader untuk menyampaikan gagasan. Pemimpin tidak perlu merasa kehilangan wibawa saat menerima kritik. Justru pemimpin yang besar adalah mereka yang mampu mendengarkan, memilah, dan mengolah kritik menjadi bahan perbaikan bagi organisasi.

Sementara itu, kader juga harus menjaga etika dalam menyampaikan kritik. Kritik yang baik selalu didasarkan pada data, argumentasi, dan solusi, bukan pada prasangka atau sentimen pribadi. Kritik yang santun tidak berarti kehilangan ketegasan, sebagaimana kritik yang keras belum tentu menunjukkan keberanian.

Muhammadiyah sedang menghadapi tantangan besar memasuki abad kedua. Kompleksitas persoalan umat, perkembangan teknologi, perubahan sosial, hingga dinamika geopolitik global menuntut organisasi ini untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya. Semua itu membutuhkan kader-kader yang loyal terhadap nilai-nilai persyarikatan sekaligus memiliki keberanian intelektual untuk menawarkan pembaruan.

Sudah saatnya loyalitas dimaknai sebagai kesetiaan kepada cita-cita Muhammadiyah, bukan sekadar kepada individu atau jabatan. Loyalitas adalah menjaga nama baik persyarikatan melalui karya nyata, pengabdian yang ikhlas, serta komitmen terhadap keputusan organisasi. Pada saat yang sama, daya kritis harus dipahami sebagai bagian dari ikhtiar kolektif untuk memastikan Muhammadiyah tetap menjadi gerakan tajdid yang mampu menjawab tantangan zaman.

Muhammadiyah tidak membutuhkan kader yang sekadar menganggukkan kepala, tetapi juga tidak membutuhkan kader yang gemar mempertentangkan segala sesuatu. Yang dibutuhkan adalah kader yang mampu berpikir jernih, berbicara dengan adab, bekerja dengan integritas, serta mengabdi dengan keikhlasan. Loyalitas dan daya kritis bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua sayap yang akan membawa Muhammadiyah terus terbang tinggi sebagai gerakan Islam berkemajuan yang memberi manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Takziah Tetangga Oleh: Mohammad Fakhrudin Telah kita ketahui bahwa memperlakukan tetangga dengan s....

Suara Muhammadiyah

5 August 2025

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Sejumlah orientalis mengatakan bahwa Islam disebarkan lewat pedang. Gagasan ini....

Suara Muhammadiyah

20 October 2023

Wawasan

Oleh: Bahrus Surur-Iyunk Penulis Buku Cendekiawan Melintas Batas, 70 Tahun Perjalanan Syafiq. A. Mug....

Suara Muhammadiyah

18 September 2024

Wawasan

Ikhtiar Menghadang Campak  Oleh: Farindira Vesti Rahmasari – Ekorini Listiowati, Univers....

Suara Muhammadiyah

9 March 2026

Wawasan

Mengenal Lebih Dekat Lembaga Parekraf PP Muhammadiyah Oleh: Ghifari Yuristiadhi Masyhari M Muhamma....

Suara Muhammadiyah

29 July 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah