Puasa Membentuk Kepekaan Sosial

Publish

27 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
127
Dok Istimewa

Dok Istimewa

Puasa Membentuk Kepekaan Sosial

Rusdi, S.Si., M.Si, Dosen Kesehatan Lingkungan FKM UMKT, Ketua MLH PDM Kota Samarinda 

Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki kedudukan sangat penting dalam pembinaan spiritual dan moral umat Islam. Ibadah ini tidak hanya berorientasi pada hubungan antara manusia dengan Allah SWT, tetapi juga mengandung dimensi sosial yang sangat kuat. Puasa menjadi sarana pendidikan jiwa yang efektif dalam membentuk karakter, mengendalikan hawa nafsu, serta menumbuhkan kepekaan sosial terhadap sesama manusia. Oleh karena itu, puasa tidak dapat dipahami semata-mata sebagai aktivitas menahan lapar dan dahaga, melainkan sebagai proses pembentukan manusia yang berakhlak mulia dan peduli terhadap kondisi sosial di sekitarnya.

Allah SWT mewajibkan puasa dengan tujuan yang sangat jelas, yaitu agar manusia mencapai derajat ketakwaan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”(QS. Al-Baqarah: 183).

Ketakwaan dalam Islam bersifat komprehensif, mencakup ketaatan individu kepada Allah serta kepedulian sosial terhadap sesama manusia. Dengan demikian, puasa menjadi ibadah yang mengintegrasikan dimensi spiritual dan sosial secara seimbang.

Makna Puasa dalam Perspektif Sosial

Secara bahasa, puasa berarti menahan diri. Dalam konteks syariat, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari disertai niat karena Allah SWT. Namun, makna menahan diri ini tidak hanya terbatas pada aspek fisik, melainkan juga mencakup pengendalian sikap, ucapan, dan perilaku sosial.

Puasa melatih manusia untuk mengendalikan hawa nafsu, termasuk sifat egoisme, keserakahan, dan ketidakpedulian terhadap orang lain. Dalam kehidupan sosial, banyak konflik

dan ketimpangan muncul akibat dominasi hawa nafsu dan kepentingan pribadi. Melalui puasa, seorang Muslim dididik untuk mengutamakan nilai kesabaran, empati, dan kepedulian sosial.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa puasa harus berdampak pada perbaikan akhlak dan perilaku sosial. Beliau bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan puasanya yang hanya meninggalkan makan dan minum” (HR. Al-Bukhari). Hadits ini menegaskan bahwa puasa yang tidak membentuk akhlak dan kepekaan sosial merupakan puasa yang kehilangan esensinya.

Salah satu hikmah terbesar dari puasa adalah memberikan pengalaman langsung kepada orang yang berpuasa tentang rasa lapar dan haus. Pengalaman ini menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan empati terhadap orang-orang yang hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Jika orang yang berkecukupan saja merasa berat menahan lapar selama beberapa jam, maka seharusnya ia mampu membayangkan betapa sulitnya kehidupan mereka yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan dasar.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengecam sikap orang-orang yang tidak peduli terhadap kaum lemah dan miskin: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin” (QS. Al-Ma’un: 1–3).

Ayat ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap kaum miskin merupakan bagian integral dari keimanan. Puasa berfungsi sebagai sarana pendidikan agar seseorang tidak menjadi pribadi yang abai terhadap penderitaan sosial.

Puasa sebagai Pendidikan Kepekaan Sosial

Puasa merupakan madrasah ruhani yang melatih kepekaan sosial secara berkelanjutan. Selama bulan Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal sosial seperti sedekah, infak, dan memberi makan orang yang berbuka puasa. Rasulullah SAW memberikan teladan terbaik dalam hal ini. Ibnu Abbas r.a. berkata: “Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kedermawanan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa puasa seharusnya meningkatkan kepedulian sosial, bukan justru melahirkan sikap individualistis. Ibadah puasa mendidik umat Islam agar senantiasa berbagi dan memperhatikan kebutuhan sesama, terutama mereka yang kurang mampu.

Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda: “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun” (HR. At- Tirmidzi).

Hadits ini menunjukkan bahwa Islam sangat mendorong terbentuknya solidaritas sosial melalui ibadah puasa.

Salah satu bukti nyata bahwa puasa memiliki dimensi sosial yang kuat adalah kewajiban zakat fitrah. Zakat fitrah diwajibkan kepada setiap Muslim yang mampu sebagai bentuk kepedulian terhadap fakir miskin. Tujuan zakat fitrah bukan hanya menyucikan jiwa orang yang berpuasa, tetapi juga memastikan bahwa kaum dhuafa dapat merasakan kebahagiaan di hari raya.

Rasulullah SAW bersabda: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perkataan kotor, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin” (HR. Abu Dawud).

Hadits ini menegaskan bahwa puasa yang sempurna adalah puasa yang disertai kepedulian sosial dan perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat.

Puasa dan Pengendalian Ego Sosial

Kepekaan sosial tidak dapat tumbuh tanpa kemampuan mengendalikan ego. Puasa melatih manusia untuk menahan keinginan pribadi demi ketaatan kepada Allah SWT. Ketika seseorang mampu menahan sesuatu yang halal karena perintah Allah, maka ia seharusnya lebih mampu menahan diri dari mengambil hak orang lain, berlaku zalim, atau bersikap tidak peduli terhadap penderitaan sesama.

Allah SWT berfirman: “Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, meskipun mereka dalam kesusahan” (QS. Al-Hasyr: 9).

Ayat ini menggambarkan puncak kepekaan sosial, yaitu sikap altruistik yang mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi. Puasa menjadi latihan spiritual untuk menanamkan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Jika puasa dijalankan dengan pemahaman yang benar, maka dampaknya akan terlihat jelas dalam kehidupan sosial masyarakat. Orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh akan menjadi pribadi yang lebih sabar, toleran, jujur, dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Puasa juga mampu menekan perilaku negatif seperti kemarahan, permusuhan, dan ketidakadilan sosial.

Rasulullah SAW bersabda: “Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, janganlah berkata kotor dan jangan berbuat bodoh” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa berfungsi sebagai pelindung dari perilaku yang merusak hubungan sosial.

Puasa merupakan ibadah yang sarat dengan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Melalui puasa, umat Islam dididik untuk mengendalikan hawa nafsu, menumbuhkan empati, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama manusia. Puasa yang benar tidak hanya menghasilkan kesalehan individu, tetapi juga melahirkan kesalehan sosial yang tercermin dalam sikap peduli, berbagi, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.

Oleh karena itu, puasa hendaknya dimaknai sebagai momentum untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus memperkuat hubungan antar manusia. Dengan menjadikan puasa sebagai sarana pembentukan kepekaan sosial, umat Islam dapat berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang adil, harmonis, dan berkeadaban, sesuai dengan tujuan utama syariat Islam.


Komentar

Cara membatalkan pinjaman easycash

Berikut Cara Pembatalan Pinjaman EasyCash, Simak Panduan Berikut 1.anda bisa menghubungi layanan live chat melalui WA (0813-6110-7652) atau call center (0831-6617-3896) 2.Siapkan Data Diri Pastikan KTP, nomor HP terdaftar, dan detail pinjaman siap digunakan saat verifikasi. 3.Sampaikan Alasan: Berikan alasan pembatalan yang jelas kepada petugas. 4.Ikuti Instruksi: Petugas akan memberikan instruksi pengembalian dana 5.Layanan 24/7 Artikel ini telah tayang

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Pelajari Bahasa Arab untuk Memahami Al-Qur`an  Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya....

Suara Muhammadiyah

7 June 2024

Wawasan

Karakteristik Ayat-ayat Puasa (2) Membangun Semangat Menaklukkan Tantangan Berat Ust. Rifqi Rosyidi....

Suara Muhammadiyah

23 March 2024

Wawasan

Dari Desa Membaca Buya Syafii (Kisah Saya dan Kelas Reading Buya Syafii) Oleh: Rizkul Hamkani, kom....

Suara Muhammadiyah

17 February 2025

Wawasan

Halal Bihalal: Silaturahmi yang Menyehatkan Jiwa Oleh: Ahsan Jamet Hamidi/Ketua Ranting Muhammadiya....

Suara Muhammadiyah

14 April 2025

Wawasan

Refleksi Peringatan Sumpah Pemuda 2025 Oleh: Mohammad Fakhrudin Bulan Oktober bagi bangsa Indonesi....

Suara Muhammadiyah

30 October 2025