Puasa Menjaga Jiwa dari Sandera Pesona Dunia yang Menggoda

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
82
Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA. Foto: Cris

Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA. Foto: Cris

JEMBER, Suara Muhammadiyah – Praktikum puasa (ash-shiyam) dari sudut pandang kesehatan banyak muatan kemaslahatannya. Di lain sisi, secara spiritual juga tak kalah pentingnya.

Menukil Yusuf Qardhawi dalam Fiqh Al-Shiyam, tersebut salah satunya, pembersihan jiwa (tazkiyah al-nafs).

Menurut Muhammad Saad Ibrahim, kata nafs di sini dimaknai sebagai jiwa. Yang kemudian mengerucut pada ruh. “Kalau ruh itu sendiri, sudah bersih,” ujarnya.

Tapi ketika kemudian, ruh itu ditiupkan ke dalam tubuh manusia, maka berarti menyatu pada tubuh.

“Tubuh dari tanah,” ucap Saad. Di sini, unsur tanah mendominasi manusia. Saad mengajak untuk mengantisipasi agar jiwa yang sedemikian bersihnya itu, dijaga dan dirawat dengan baik.

“Jangan kemudian jiwa kita tersandera oleh hal-hal yang berhubungan aksesesoris (duniawi). Kalau jiwa kita tersandera oleh yang aksesesoris itu, jiwa kita hilang, justru menjadi kotor,” jelasnya.

Di sinilah pentingnya umat Islam berupaya menyempurnakan penghambaan kepada Allah. Sekalipun harus menahan aneka pernak-pernik aksesoris duniawi yang begitu menggoda.

“Jangan tersandera,” tegas Saad, singkat dan gamblang dalam Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Jember, Ahad (8/2) di Kantor PDM Kabupaten Jember, Bondoyudo, Jemberlor, Patrang, Jember, Jawa Timur.

Maka, di sitilah diperlukan bantalan vital I’la’u lil-janibirruhi ‘alal-janibil-maddiyi lil-insan. Yakni menempatkan posisi yang berkait kejiwaan (kerohanian) lebih tinggi daripada dunia yang sifatnya fisikly dan sebagainya.

“Sehingga ini pentingnya mengelola jiwa kita. Nanti bisa melahirkan kesabaran dan sebagainya,” imbuh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.

Di samping itu, implementasi ibadah puasa sebagai proses mendidik (tarbiyatun lil iradah). Saad menggarisbawahi, titik sentral puasa melatih kemauan yang kuat (puasa, red).

“Ketika kita masih anak-anak, diajar untuk punya iradah (kemauan) berpuasa,” ujar Saad, mencontohkan sampel sederhana terkait konteks tersebut. “Puasa mengajarkan itu (iradah),” tambahnya sekali lagi.

Jauh lebih fundamental lagi, puasa juga memiliki hikmah sosial (hikmah ijtima’iyyah), khususnya puasa Ramadhan. Pokok pangkal puasa itu memberikan pengajaran pentingnya kesetaraan sosial.

“Menumbuhkan dalam jiwa rasa penderitaan orang fakir dan miskin,” tuturnya.

Maka, setiap muslim lewat puasa, dilatih untuk memiliki sensitivitas sosial kepada sesama. “Kita merasakan kondisi orang lain. Jiwa kita ini terasa masuk ke dalam posisi saudara kita yang menderita,” bebernya.

Di sinilah relevansi bulan Ramadhan sebagai bulan solidaritas. “Empati itu yang tertinggi,” tegas Saad.

Bersamaan dengan itu, puasa juga mengajarkan untuk mensyukuri nikmat Allah. Dan klimaksnya, manusia mencapai derajat takwa dan naik peringkat menjadi muttaqin (orang yang bertakwa). (Cris)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah – Program Studi Ilmu Keolahragaan S1 Fakultas Kesehatan Masyaraka....

Suara Muhammadiyah

27 June 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah edisi Januari pekan ketiga tahun....

Suara Muhammadiyah

24 January 2026

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menerima kunjungan dan sil....

Suara Muhammadiyah

28 January 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Ahmad ....

Suara Muhammadiyah

7 September 2023

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Program Studi Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univ....

Suara Muhammadiyah

2 April 2024