Puncak Haji dan Pelajaran Besar tentang Kemanusiaan
Penulis: Rohim Ghazali, Senior Fellow Maarif Institute, Wakil Ketua LHKP PP Muhammadiyah (2020-2027)
Alhajju ‘Arafah. Puncak haji adalah wukuf di Arafah. Setelah itu dilanjutkan dengan mabit (bermalam) di Muzdalifah, dan diteruskan mabit di Mina untuk melontar jumrah. Pada saat di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) itulah ibadah haji selalu menghadirkan daya getar spiritual yang melampaui batas geografis.
Meskipun jutaan jamaah berkumpul di Armuzna, getaran spiritualnya menjangkau seluruh dunia Islam, termasuk mereka yang menyaksikannya dari kejauhan. Dari Indonesia, puncak haji bukan hanya tampak sebagai ritual keagamaan tahunan, melainkan juga sebagai peristiwa kemanusiaan terbesar yang memperlihatkan bagaimana agama dapat menjadi kekuatan moral, spiritual, dan sosial secara bersamaan.
Di tengah dunia yang dipenuhi fragmentasi identitas, konflik geopolitik, dan meningkatnya egoisme sosial, puncak haji menghadirkan pemandangan yang nyaris utopis: jutaan manusia bergerak dalam kesadaran kolektif yang sama. Mereka datang dari berbagai bangsa, bahasa, warna kulit, mazhab, dan kelas sosial, tetapi seluruh atribut duniawi itu luluh dalam pakaian ihram putih yang sederhana. Haji memperlihatkan bahwa pada hakikatnya manusia berasal dari sumber kemanusiaan yang sama.
Sosiolog Muslim kenamaan Iran, Ali Syariati (1933-1977), dalam buku “Hajj” menggambarkan haji sebagai “drama simbolik tentang perjalanan manusia menuju Tuhan dan menuju kemanusiaannya sendiri.” Dalam pandangan Syariati, setiap ritual haji mengandung makna pembebasan manusia dari ego, materialisme, dan penghambaan kepada selain Tuhan. Karena itu, haji bukan sekadar ritual individual, tetapi juga transformasi sosial dan moral.
Padang Arafah, misalnya, bukan hanya ruang geografis tempat jamaah berhenti dan berdoa. Arafah adalah simbol kesadaran. Di sana manusia seperti dipanggil untuk mengenali dirinya sendiri. Filsuf Yunani Socrates pernah mengatakan, “An unexamined life is not worth living.” Kehidupan yang tidak direfleksikan adalah kehidupan yang kehilangan makna. Dalam konteks itu, wukuf di Arafah menghadirkan momen refleksi paling mendalam bagaimana manusia meninjau ulang hidupnya, dosa-dosanya, relasinya dengan Tuhan, dan hubungannya dengan sesama manusia.
Puncak haji juga memperlihatkan betapa agama sejatinya mengandung pesan kesetaraan universal. Ketika jutaan jamaah mengenakan ihram, status sosial seolah kehilangan relevansinya. Tidak ada pakaian kebesaran, simbol kekuasaan, ataupun penanda kelas sosial. Semua berdiri setara di hadapan Tuhan. Gagasan ini sejalan dengan pemikiran Jean-Jacques Rousseau yang mengkritik ketimpangan sosial modern sebagai sumber kerusakan moral manusia. Dalam haji, manusia seakan dikembalikan pada kesederhanaan primordialnya.
Namun, puncak haji tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Ia juga menghadirkan pelajaran penting tentang solidaritas sosial. Dalam kepadatan jutaan manusia, sering terlihat bagaimana jamaah saling membantu tanpa mengenal asal-usul dan kebangsaan. Ada yang berbagi air minum, membantu jamaah lansia, atau menolong mereka yang tersesat dan kelelahan. Di sinilah haji memperlihatkan wajah agama yang penuh welas asih.
Filsuf Perancis, Emmanuel Levinas (1906-1995), yang concern tentang etika kemanusiaan pernah mengatakan bahwa inti moralitas adalah tanggung jawab kepada “wajah orang lain”. Kehadiran orang lain menuntut manusia untuk peduli, menolong, dan tidak bersikap egoistis. Dalam konteks haji, jutaan manusia dipertemukan dalam situasi yang menuntut kesabaran dan kepedulian kolektif. Haji menjadi sekolah etika yang mengajarkan bahwa keberagamaan sejati tidak bisa dipisahkan dari penghormatan terhadap martabat manusia.
Ritual lempar jumrah di Mina juga memiliki dimensi filosofis yang sangat mendalam. Ia bukan sekadar prosesi melempar batu, melainkan simbol perlawanan manusia terhadap sisi gelap dirinya sendiri. Setan yang dilempar sejatinya bukan hanya entitas eksternal, tetapi juga kerakusan, kebencian, kesombongan, korupsi, dan hawa nafsu yang hidup dalam diri manusia. Dalam bahasa filsuf Jerman abad pencerahan Immanuel Kant (1724-1804), manusia harus berani memenangkan “hukum moral” dalam dirinya atas dorongan-dorongan destruktif yang merendahkan martabat kemanusiaan.
Karena itu, ukuran kemabruran haji tidak cukup diukur dari selesainya ritual di Tanah Suci. Kemabruran harus tampak dalam transformasi moral setelah kembali ke kehidupan sosial. Haji yang mabrur seharusnya melahirkan manusia yang lebih jujur, lebih rendah hati, lebih adil, dan lebih peduli kepada sesama. Dalam konteks Indonesia, pesan ini menjadi sangat relevan ketika masyarakat masih menghadapi korupsi, intoleransi, ujaran kebencian, dan polarisasi sosial yang mengkhawatirkan.
Salah satu guru bangsa, Ahmad Syafii Maarif (1935-2022), pernah mengingatkan bahwa keberagamaan yang gagal melahirkan kemanusiaan hanyalah ritual kosong. Agama tidak boleh berhenti pada simbol dan seremoni, tetapi harus menjadi energi moral untuk membela keadilan, perdamaian, dan kemanusiaan universal. Dalam perspektif itu, haji sesungguhnya adalah panggilan untuk membangun peradaban yang lebih beradab.
Puncak haji juga memberikan pelajaran penting tentang disiplin dan keteraturan sosial. Mengelola jutaan manusia dalam ruang dan waktu yang terbatas membutuhkan kesadaran kolektif yang tinggi. Dari sana tampak bahwa spiritualitas tidak bertentangan dengan modernitas dan tata kelola yang baik. Bahkan, keberhasilan penyelenggaraan haji justru menunjukkan bahwa nilai-nilai agama dapat berjalan berdampingan dengan profesionalisme, teknologi, dan manajemen yang terukur.
Puncak haji bukan hanya milik mereka yang sedang berada di Tanah Suci. Ia adalah refleksi besar bagi seluruh umat Islam dan bahkan bagi kemanusiaan secara umum. Dari Arafah, manusia belajar tentang kerendahan hati. Dari Muzdalifah, manusia belajar kesederhanaan. Dari Mina, manusia belajar melawan egoisme dan keburukan dalam dirinya. Dan dari seluruh rangkaian haji, dunia belajar bahwa agama seharusnya menjadi sumber kasih sayang, perdamaian, dan solidaritas kemanusiaan.
Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh kebencian dan persaingan tanpa batas, puncak haji menghadirkan pesan yang sangat relevan: manusia pada akhirnya bukan dinilai dari kekuasaan dan kekayaannya, melainkan dari kemampuannya menjaga kemanusiaan. Sebab, inti terdalam dari spiritualitas bukanlah menjauh dari manusia lain, tetapi justru semakin menghadirkan cinta kasih dan kemaslahatan bagi sesama.

