Jaringan Riset Internasional UMY Catat Kenaikan Skor Tertinggi dalam QS World University Rankings 2027
YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mencatat kenaikan skor tertinggi pada indikator International Research Network dalam QS World University Rankings (QS WUR) 2027. Ini dibuktikan dengan peningkatan sebesar 92 persen dibanding edisi sebelumnya, dan perbaikan peringkat sebanyak 42 posisi.
Wakil Rektor Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan UMY, Prof. Ir. Slamet Riyadi, M.Sc., Ph.D. menyatakan capaian tersebut mencerminkan konsistensi UMY dalam membangun jejaring kolaborasi riset lintas negara.
“Skor yang paling tinggi naik adalah pada International Research Network . Ini menunjukkan bahwa UMY punya jejaring mitra kolaborasi riset yang berkelanjutan di seluruh dunia,” ujar Slamet dalam konferensi pers di kampus UMY, Rabu (24/6).
QS menghitung indikator International Research Network berdasarkan jumlah negara mitra dan keberlanjutan kolaborasi yang menghasilkan publikasi bersama. Menurut Slamet, UMY menerapkan pendekatan terstruktur dalam membangun jejaring tersebut, dengan menargetkan kehadiran minimal dua institusi mitra di setiap negara yang menghasilkan setidaknya tiga publikasi bersama.
Pertumbuhan jaringan riset itu sejalan dengan peningkatan output publikasi UMY yang terjadi secara merata di seluruh bidang ilmu dalam periode 2020-2024. Natural Sciences dan Life Sciences & Medicine mencatat pertumbuhan jumlah paper tertinggi, sementara Arts & Humanities meskipun pertumbuhan papernya paling moderat justru memimpin dalam hal dampak sitasi dengan kenaikan yang paling signifikan.
Pola ini menunjukkan bahwa peningkatan kuantitas publikasi UMY diikuti oleh peningkatan kualitas yang diakui oleh komunitas akademik internasional.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Hilirisasi UMY, Dr. Supriyatiningsih, menyatakan bahwa arah riset UMY tidak semata berorientasi pada kuantitas publikasi. Ia juga menekankan pada dampak yang dihasilkan bagi masyarakat. Pemetaan riset di UMY, termasuk yang melibatkan mahasiswa, disinkronkan dengan tujuan-tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs).
Ke depan, akan dibentuk tim-tim riset yang secara khusus mengagregasi hasil penelitian ke arah tujuan tersebut.
“Selain riset, kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan dosen dan mahasiswa juga dinilai berkontribusi pada indikator pemeringkatan internasional,” jelas dosen yang akrab disapa Upi ini.
Secara keseluruhan, UMY menempati peringkat 1.201-1.400 dunia dalam QS WUR 2027. Dari 8.808 institusi yang dievaluasi, hanya 1.504 institusi yang berhasil masuk dalam daftar yang dipublikasikan.
Di tingkat nasional, UMY tercatat sebagai perguruan tinggi Islam terbaik di Indonesia dan perguruan tinggi swasta terbaik kedua secara nasional dalam edisi ini.
Lulusan UMY Rata-rata Terserap Kerja dalam 3,9 Bulan, Employer Reputation Naik 67 Persen
Dalam segi lulusan pun rata-rata hanya membutuhkan waktu 3,9 bulan untuk terserap ke dunia kerja. Capaian tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong lonjakan skor Employer Reputation UMY sebesar 67 persen dalam pemeringkatan QS World University Rankings 2027.
Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi di antara seluruh indikator yang berkaitan dengan aspek employability pada QS WUR 2027.
Slamet Riyadi, menegaskan bahwa keterserapan lulusan (employability) menjadi salah satu fokus utama pengembangan UMY, meskipun universitas juga terus memperkuat bidang riset dan kewirausahaan.
“Kami sangat concern terhadap employability, keterserapan lulusan, dan juga employer impact. Dampak ini lebih luas, yakni bagaimana alumni UMY mampu menjadi pemimpin di berbagai bidang, termasuk organisasi, politik, industri, dan sektor lainnya,” ujar Slamet.
Dalam QS WUR, aspek employability diukur melalui dua indikator utama, yaitu Employer Reputation dan Employment Outcomes. Employer Reputation mengukur persepsi pemberi kerja di seluruh dunia terhadap kualitas lulusan suatu perguruan tinggi, sedangkan Employment Outcomes menilai tingkat keterserapan kerja sekaligus dampak yang dihasilkan alumni setelah lulus.
Menurut Slamet, indikator dampak alumni yang digunakan QS tidak hanya melihat apakah lulusan telah memperoleh pekerjaan, tetapi juga menilai kontribusi dan pencapaian mereka di berbagai bidang.
“Berdasarkan data yang kami miliki, masa tunggu kerja lulusan UMY rata-rata 3,9 bulan. Selain itu, QS juga menilai dampak alumni, misalnya mereka yang memperoleh penghargaan, menjadi pemimpin bisnis, pemimpin organisasi, maupun pemimpin politik. Aspek-aspek inilah yang turut diperhitungkan dalam penilaian,” jelasnya.
Pada QS WUR 2027, kedua indikator tersebut mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Skor Employer Reputation meningkat sebesar 67 persen, sementara Employment Outcomes naik 37 persen.
Capaian UMY dalam aspek employability juga mendapat pengakuan dari sistem pemeringkatan internasional lainnya. Dalam Times Higher Education Sustainability Impact Rankings (THE Impact Rankings) 2026, UMY menempati peringkat 101–200 dunia untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Peringkat tersebut menjadi capaian terbaik UMY di antara seluruh indikator yang dinilai dalam THE Impact Rankings 2026.
Beberapa subindikator yang mendukung pencapaian tersebut antara lain persentase mahasiswa yang mengikuti program work placement atau magang sebesar 95,1 persen, jaminan kontrak kerja bagi tenaga kependidikan sebesar 74,8 persen, serta pengeluaran per karyawan yang mencerminkan komitmen UMY sebagai institusi pemberi kerja yang bertanggung jawab.
Slamet menilai capaian employability UMY dalam berbagai pemeringkatan internasional bukanlah hasil yang berdiri sendiri. Menurutnya, kinerja tersebut merupakan refleksi dari ekosistem pendidikan yang dibangun secara menyeluruh, mulai dari kualitas pembelajaran, penguatan jejaring industri, program magang, hingga budaya kewirausahaan yang ditanamkan kepada mahasiswa sejak masa studi.
“Pada akhirnya, keterserapan dan dampak alumni merupakan cerminan kualitas ekosistem pendidikan yang dibangun universitas. Karena itu, kami terus berupaya memperkuat kolaborasi dengan dunia industri, meningkatkan kualitas pembelajaran, dan memperluas peluang mahasiswa untuk memperoleh pengalaman profesional sejak masih kuliah,” pungkasnya. (ID)

