DEPOK, Suara Muhammadiyah – Majelis Pendidikan Dasar Menengah Dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Pusat Muhammadiyah melangsungkan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Unggul se-Indonesia, Senin-Rabu (28-30/9).
Acara berlangsung di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Bisnis dan Pariwisata Ciputat, Bojongsari Baru, Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, dan dibuka oleh Ketua PP Muhammadiyah Irwan Akib.
Tema acara tersebut mengusung “Merawat Keunggulan dan Daya Saing Global”, demikian Astajab melaporkan. “Peserta Rakornas ini sebanyak 520 peserta,” kata Ketua Panitia tersebut.
Peserta itu tidak hanya diikuti oleh kepala sekolah/madrasah, tetapi juga Ketua Majelis Dikdasmen-PNF Wilayah dan Daerah. “Yang memiliki sekolah/madrasah unggul,” ucapnya, disambung ucapan terima kasih telah meluangkan waktu menghadiri acara tersebut.
Astajab menggarisbawahi diksi “keunggulan” dalam tema Rakornas ini. Menurutnya, keunggulan tidak bisa hanya diraih sekali tempo, tetapi mesti dirawat secara berkelanjutan.
“Melalui pembelajaran, kerja sama, dan keberanian untuk berubah,” tegasnya.
Kepala BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata Jawa Barat Nana Halim menyambut baik Rakornas yang berlangsung selama tiga hari tersebut.
“Mudah-mudahan selama kegiatan di sini bisa lancar dan bisa menelurkan kesepakatan untuk kemajuan pendidikan khususnya pendidikan yang unggul di lingkungan Muhammadiyah,” ucapnya.
Sementara, Didik Suhardi membentangkan orientasi dari Rakornas ini sebagai laporan perkembangan setiap sekolah/madrasah Muhammadiyah yang telah terakreditasi unggul.
“Ini sebagai forum untuk mengingatkan kepada kita semua, bahwa ketika sudah menjadi sekolah unggul, tentu yang harus kita lakukan adalah kita tidak boleh masuk ke zona aman,” tegas Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah itu.
Kenapa tidak boleh masuk ke zona aman? Dibeberkannya bahwa ketika masuk ke zona aman, maka yang terjadi kemudian justru akan didahului oleh sekolah-sekolah yang lainnya.
“Termasuk juga, yang mulai tahun ini Pemerintah sudah memulai membuka Sekolah Garuda dan Sekolah Nasional Terintegrasi,” sebutnya.
Digarisbawahi, sekolah/madrasah yang unggul itu dikualifikasikan sebagai satuan pendidikan yang memiliki akreditasi baik (A atau B) dan menerapkan pendidikan secara holistik dan integratif secara utuh dan teratur.
“Karena sudah ditetapkan sebagai sekolah unggul, harus menampilkan keunggulannya. Jangan biasa-biasa saja. Karena kalau biasa-biasa saja, nanti akan ditinggal dan dilewati oleh kompetitor kita,” tegasnya.
Sebagai ciri khasnya sekolah/madrasah yang unggul itu, disingkap Didik mencakup, pertama, ISMUBA harus menjadi core value sekolah/madrasah. Bukan hanya pelajaran, tapi tampak pada budaya, perilaku guru, tata kelola, dan karakter lulusan.
“Buku yang kita susun, itu sudah bercirikan kekhususan Muhammadiyah. Kita sudah menggunakan kontekstual Kemuhammadiyahan,” bebernya.
Kedua, manajemen dan organisasi. “Kita bekerja untuk Persyarikatan, maka transparansi dan akuntabilitas itu penting,” tegasnya lagi. Ketiga, pendidik. “Jangan segan-segan kita memberikan pelatihan kepada bapak-ibu guru kita,” ujarnya. Keempat, pembelajaran dan pengajaran.
“Kelima satuan pendidikan dan dukungan terhadap murid. Keenam, kinerja murid, dan ketujuh layanan berbasis IT dan inovasi. Semua itu harus kita jaga,” tandasnya.
Sisi lain, Irwan menyarankan agar keunggulan yang telah diraih oleh sekolah/madrasah Muhammadiyah jangan sekadar dibanggakan. Dibanggakan boleh, tetapi bersamaan dengan itu mesti dirawat secara saksama.
“Keunggulan-keunggulan yang sekarang peroleh itu terus dirawat dan ditingkatkan keunggulannya. Kalau perlu unggul utama semua,” tegasnya
Dikatakan unggul menjadi representasi kualitas dan mutu yang dimiliki sekolah/madrasah. Ketika kualitas itu terjaga dengan baik, maka sekolah/madrasah Muhammadiyah akan meningkat baik jumlah murid maupun infrastruktur penunjang pembelajarannya.
“Ada juga sekolah baru yang berdiri, tapi jumlah siswanya malah lebih banyak dibanding sekolah kita yang sudah bertahun-tahun berdiri. Ini bukan persoalan banyaknya sekolah atau tidak, tapi persoalan kualitas dari sekolah yang kita bangun,” terangnya.
Kualitas itu menjadi kunci. Demikian penekanan Irwan menyoroti sekolah swasta pun tak kalah bagusnya dengan sekolah negeri.
“Walaupun demikian, tetap juga sekolah-sekolah swasta itu menjadi pilihan. Itu sangat tergantung bagaimana kualitas dari sekolah kita. Ini betul-betul kita jaga, perlu kita rawat sedemikian rupa,” tandasnya. (Cris)

