Ramadan: Pelajaran untuk Tidak Tergesa
Oleh: Hening Parlan, Pegiat Lingkungan, Pengurus Muhamamdiyah dan 'Aisyiyah
Allah Swt. berfirman, “Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa.” (QS. al-Anbiya [21]: 37). Ayat ini seakan menjadi cermin yang jujur tentang watak dasar manusia. Kita ingin segera sampai, segera berhasil, segera diakui, segera menang. Keinginan untuk cepat sering kali mengalahkan kebijaksanaan untuk tepat.
Ramadan hadir setiap tahun membawa makna yang dalam. Secara bahasa, Ramadan berasal dari kata ramadha yang berarti panas yang membakar. Dalam makna spiritual, Ramadan adalah bulan yang membakar dosa, membersihkan jiwa, dan memurnikan niat. Ia bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi proses penyucian batin dan penataan ulang ritme hidup.
Di tengah dunia yang bergerak begitu cepat, Ramadan justru mengajarkan jeda.
Hari-hari ini, kita hidup dalam percepatan. Persaingan hidup terasa begitu ketat. Masalah datang silih berganti. Informasi membanjiri pikiran tanpa henti—sebagian bernilai, tetapi tidak sedikit yang hanya berupa sampah dan sumpah serapah. Media sosial, tekanan kerja, tuntutan eksistensi, dan ambisi personal menciptakan suasana batin yang bising.
Tidak mengherankan jika masyarakat mengalami burnout, stres, depresi, dan berbagai gangguan kejiwaan. Angka gangguan mental dan bunuh diri meningkat di banyak tempat. Manusia modern seakan lelah, tetapi tidak tahu bagaimana berhenti.
Dalam situasi demikian, bagaimana seseorang bisa tetap bertahan dan bahkan bahagia?
Salah satu inspirasi menarik datang dari buku karya Haemin Sunim, The Things You Can See Only When You Slow Down: How To Be Calm in a Busy World (2018). Pesan utamanya sederhana namun mendalam: manusia tidak harus mengikuti arus. Dunia boleh bergerak cepat, tetapi diri tidak harus ikut berlari tanpa arah. Dunia bisa sibuk, bising, dan riuh, tetapi hati dan pikiran tetap dapat dijaga tenang dan jernih.
Kuncinya adalah mindfulness—kesadaran penuh. Kesadaran untuk hadir utuh dalam setiap langkah. Kesadaran untuk tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Kesadaran bahwa tidak semua hal harus dimiliki, tidak semua peluang harus diambil, dan tidak semua perdebatan harus dimenangkan.
Namun, praktik ini tidak mudah. Tabiat manusia memang cenderung tergesa. Ayat di awal tulisan ini menegaskan kecenderungan tersebut. Tergesa-gesa sering kali lahir dari dorongan ego, ambisi, atau ketakutan tertinggal. Padahal, menurut hadis riwayat Abu Ya’la, tergesa-gesa (‘ajal) adalah bagian dari dorongan setan. Ketergesaan dapat membuat pikiran menjadi keruh, dikuasai emosi, dan kehilangan objektivitas.
Banyak keputusan keliru lahir bukan karena kurangnya kecerdasan, tetapi karena kurangnya kesabaran.
Di sinilah Ramadan menemukan relevansinya. Puasa bukan sekadar latihan fisik, melainkan pendidikan spiritual yang mendalam. Ia melatih manusia untuk menahan diri—menahan lapar, menahan dahaga, menahan amarah, bahkan menahan kata-kata yang tidak perlu.
Puasa mengajarkan bahwa tidak semua keinginan harus segera dipenuhi. Ada waktu untuk menunggu. Ada nilai dalam menahan. Ada kekuatan dalam sabar.
Dalam praktik puasa, seseorang belajar mengendalikan dorongan spontan. Ketika lapar, ia tidak langsung makan. Ketika marah, ia tidak langsung melampiaskan. Ketika tergoda, ia tidak serta-merta mengikuti hawa nafsu. Puasa membangun ruang antara dorongan dan respons. Di ruang itulah kebijaksanaan tumbuh.
Sabar dalam Islam bukan berarti pasif. Ia bukan bentuk kelemahan. Sabar adalah kemampuan menunda reaksi demi kebaikan yang lebih besar. Sabar berarti tidak grusa-grusu. Sabar berarti tidak kemrungsung. Sabar adalah kemampuan untuk tetap tenang ketika dunia terasa mendesak.
Dalam konteks kehidupan modern, sabar adalah sikap revolusioner.
Ketika orang berlomba-lomba menunjukkan pencapaian, sabar mengajak kita fokus pada proses. Ketika orang tergesa mengambil keputusan demi terlihat cepat, sabar mengajak kita memastikan langkah yang diambil benar dan selamat.
Tidak perlu tergesa, yang penting tujuan tercapai dengan selamat.
Ramadan mengajarkan bahwa hidup bukan perlombaan sprint, melainkan perjalanan panjang. Orang yang berlari terlalu cepat tanpa jeda bisa kehabisan napas sebelum sampai. Sebaliknya, mereka yang menjaga ritme, mengatur tenaga, dan menata niat akan lebih mungkin bertahan hingga akhir.
Puasa juga mengajarkan kecukupan. Dalam keadaan lapar dan dahaga, manusia menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada kelimpahan. Kesederhanaan justru membuka ruang syukur. Ketika berbuka dengan air dan kurma, rasa nikmat terasa jauh lebih dalam dibanding pesta berlebihan.
Di tengah budaya konsumtif dan ambisi tanpa batas, Ramadan menghadirkan pesan bahwa hidup tidak harus selalu lebih cepat dan lebih banyak. Hidup bisa lebih pelan dan lebih bermakna.
Mindfulness yang diajarkan dalam literatur modern sejatinya telah lama dipraktikkan dalam tradisi spiritual Islam. Shalat lima waktu adalah latihan jeda. Puasa adalah latihan pengendalian diri. Zakat adalah latihan melepaskan keterikatan. Semua itu membentuk manusia yang tidak reaktif, tidak mudah panik, dan tidak mudah terseret arus.
Tergesa-gesa sering membuat manusia kehilangan perspektif. Ia melihat hidup sebagai rangkaian target yang harus segera dicapai. Padahal hidup adalah amanah yang harus dijalani dengan keseimbangan.
Ramadan mengembalikan kita pada keseimbangan itu.
Ia mengajarkan bahwa keberhasilan bukan hanya soal cepat sampai, tetapi tentang bagaimana kita sampai. Apakah dengan hati yang bersih? Apakah dengan keputusan yang bijak? Apakah dengan menjaga hak orang lain? Apakah dengan tetap memelihara akal sehat?
Dalam suasana Ramadan, ritme hidup sedikit berubah. Jam makan bergeser. Aktivitas malam meningkat. Ada suasana reflektif yang lebih kuat. Semua itu seakan memberi pesan: berhenti sejenak, evaluasi diri, atur ulang langkah.
Mungkin inilah pelajaran terpenting Ramadan: belajar tidak tergesa.
Belajar bahwa menahan diri bukan kerugian.
Belajar bahwa sabar bukan kelemahan.
Belajar bahwa ketenangan adalah kekuatan.
Di tengah dunia yang terus mempercepat dirinya, Ramadan justru mengajak memperlambat batin. Dunia boleh berlari, tetapi hati tetap bisa tenang. Dunia boleh riuh, tetapi pikiran tetap dapat jernih.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa cepat kita bergerak, tetapi tentang apakah kita bergerak dengan sadar, selamat dan manfaat.
Tidak perlu tergesa.
Yang penting tujuan tercapai dengan selamat dan manfaat.
Ramadan mengajarkan itu—pelan, sunyi, namun penuh arti.

