JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Tidak bisa dinafikan, Ramadhan benar-benar menjadi kesempatan untuk segalanya. Lebih-lebih, kesempatan meningkatkan kualitas ibadah, yang boleh jadi sebelum Ramadhan tiba, mengalami deklinasi (penurunan).
“Ibadahnya yang banyak terlupakan itu di-recharge, diisi ulang, yang menurut saya adalah sebuah keuntungan luar biasa,” beber Hilman Latief saat ditemui Jurnalis Suara Muhammadiyah di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng Raya, Jakarta Pusat, belum lama ini.
Obyek paling fundamental dalam konteks ini ialah menyangkut keimanan. “Harus ada kesadaran bisa kita tumbuhkan,” sebut Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.
Keimanan seseorang, disebut Hilman, bisa bertumbuh dan juga berkurang. Maka, peletak dasar esensial di bulan Ramadhan adalah upaya untuk meningkatkan keimanan itu jauh lebih baik lagi.
“Kesadaran semacam itu saya kira menjadi penting,” menegaskan, jangan larut dengan pernak-pernik kulit luar Ramadhan, lantas menenggelamkan substansi yang sesungguhnya di situ.
Lain lagi, menyaksikan denyut nadi Ramadhan saat ini, Indonesia pasca-digempur oleh bencana alam di Sumatera, khususnya, dan di luar wilayah itu, pada umumnya. “Nuansa Ramadhan menjadi berbeda,” kata Hilman. Maka, di sinilah perlu dimunculkan benih sensitivitas sosial.
“Saya kira kesadaran-kesadaran akan situasi seperti inilah pentingnya menempatkan bulan Ramadan menjadi waktu yang terbaik untuk kita dalam berbagi,” ujarnya.
Penekanan Hilman di sini, sensitivitas sosial perlu ditampakkan di permukaan. Yang hal tersebut bisa diwujudkan secara nyata melalui praktik filantropi.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa filantropi tidak serta-merta menyelesaikan akar persoalan sosial, tetapi filantropi dapat membantu meringankan beban yang dimiliki seseorang melalui metode-metode yang lebih bisa diterima.
“Yang lebih bisa diadopsi untuk memanjangkan kehidupan seseorang, dalam arti kehidupan sosialnya dan kehidupan ekonominya,” urainya.
Galibnya, istilah filantropi dimaknai sebagai kedermawanan, sebuah watak atau sikap altruistik (mengutamakan kepentingan orang lain atau kepentingan bersama) yang sudah menyatu dalam diri manusia, baik individual maupun kolektif.
“Filantropi adalah wujud kepedulian orang satu sama lain untuk saling membantu, memperkuat solidaritas, gotong royong, saling mendorong, saling mendukung,” urai Hilman.
Ditambahkan lagi, kalau filantropi kerap diekspresikan dengan cara menolong orang-orang yang membutuhkan. Sebagai suatu asas kebaikan, sebut Hilman, dengan pelbagai landasan teologis filosofis dan etisnya, senantiasa menjadi bagian dari tradisi agama.
“Itu sangat penting. Dan di bulan Ramadan itu juga yang harus dibangun, voluntarisme, kerelaan, kerelawanan, kesukarelawanan, itu yang harus terus dibangun dengan filantropi,” tegas Hilman.
Mengaksentuasikan konteks filantropi ini, bukan sekadar memberikan santunan untuk menolong. Tapi, jauh daripada itu, membantu dan mendampingi orang yang kurang beruntung agar dapat menolong diri mereka sendiri.
“Karena itu tugas dari para pegiat filantropi adalah bagaimana mereka bisa secara lebih efektif dalam membantu masyarakat,” tandasnya. (Cris)

