Rawat Kepercayaan Publik, Lazismu Dituntut Perkuat Tata Kelola Kelembagaan dan Tingkatkan Profesionalisme Amil
SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Kepercayaan masyarakat kepada Lazismu harus dirawat dan dipertahankan bersama. "Kepercayaan harus dipupuk dan diperkuat," tekan Hilman Latief, di samping merawat tata kelola atau governance juga harus disiapkan instrumennya.
Itulah yang disampaikan Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam pembukaan Symposium Muhammadiyah Zakat Summit 2026 di Hotel Dafam Semarang, Sekayu, Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (6/11).
Hilman mengingatkan, kompleksitas dan tantangan yang dihadapi Lazismu ke depan semakin besar. Cabang-cabangnya terus bertambah, kantor sudah mencapai ratusan, dan jumlah amil mencapai ribuan.
"Kondisi ini membutuhkan perangkat organisasi yang baik serta sistem yang berjalan secara optimal," jelasnya.
Selain itu, kepercayaan juga perlu dibangun melalui pendistribusian untuk memenuhi ekspektasi masyarakat. Dikatakannya kalau Lazismu juga harus memiliki proyek-proyek nasional yang menjadi agenda perubahan di tengah masyarakat melalui gerakan zakat, infak, dan sedekah.
"Mudah-mudahan melalui kegiatan ini, teman-teman dapat merumuskan kebijakan-kebijakan yang lebih kuat untuk pengembangan Lazismu ke depan," ucap Hilman.
Salah satu tantangan transformasi Lazismu menurut Hilman ke depan terletak pada kapasitas amil dan kapasitas kelembagaan.
"Kita terus berupaya melahirkan amil yang lebih profesional, memiliki talenta yang baik, pengetahuan yang kuat, serta keterampilan yang mumpuni," bebernya.
Di sinilah Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah memberikan ruang pelatihan melalui Sekolah Amil yang diikuti sebanyak 120 peserta dari berbagai wilayah.
Ditambahkannya kalau proses sertifikasi amil juga terus dilakukan karena amil merupakan tenaga profesional yang harus memiliki sertifikat dan mendapatkan penghargaan secara profesional.
"Oleh karena itu, menjadi pekerjaan rumah kita secara berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas amil dan kelembagaan. Dari sisi kelembagaan, kita membutuhkan struktur yang lebih efektif, efisien, serta mampu menjangkau berbagai kalangan masyarakat," terangnya.
Dalam kesempatan itu, Hilman menyebut tren digitalisasi yang semakin menyeruak di era modern initurut direspons oleh Lazismu. Menurutnya, Lazismu telah membahas mengenai digitalisasi filantropi.
"Saat itu, tren pembayaran masih didominasi transaksi tunai. Pembayaran secara digital baru dilakukan oleh sebagian masyarakat," ungkapnya.
Namun, sekarang kondisinya sudah berbalik. Bahkan, mungkin sekitar 80 persen transaksi sudah dilakukan secara nontunai (cashless).
"Artinya, transformasi digital harus terus kita perkuat, baik dari sisi platform maupun literasinya," ujarnya. Sebab, katanya, tidak semua masyarakat memahami bagaimana menggunakan platform digital yang kita miliki untuk kepentingan penghimpunan sekaligus menjaga akuntabilitas.
"Digitalisasi juga perlu diperkuat dalam konteks pendistribusian zakat. Dengan demikian, penyaluran dapat terbaca secara lebih jelas, mulai dari output hingga dampak yang dihasilkan," tekannya. (Cris)