Refleksi Idul Fitri 1447 H
Oleh: Mohammad Fakhrudin, Warga Muhammadiyah
Bulan Ramadhan 1447 H telah berakhir. Selama satu bulan melalui ibadah Ramadhan kita dididik dan dilatih (diklat) untuk menjadi orang yang bertakwa sebagaimana didjelaskan di dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah [2]:183.
Sementara itu, pada ujung surat al-Baqarah (2):185 dijelaskan bahwa ibadah tersebut merupakan diklat agar kita menjadi muslim mukmin yang bersyukur.
Kini bulan Syawal 1447 H hampir berakhir. Setelah mengikuti diklat selama Ramadhan, bagaimanakah kebaikan kita: bertambah dari tahun yang lalu? Sama dengan tahun yang lalu, atau bahkan, berkurang?
Idealnya kebaikan kita bertambah, sedangkan keburukan kita berkurang. Lebih baik lagi, hilang sama sekali! Dari diri kita terpancar kepribadian yang saleh yang menghadirkan kedamaian dan kemanfaatan bagi diri dan sesamanya. Di samping itu, tecermin kepribadian dan tingkah laku kita yang terpuji. Demikiankah kita?
Selama Ramadhan kita dikondisikan tidak hanya mengerjalan amalan wajib, tetapi juga yang sunah. Di samping itu, kita dikondisikan juga meninggalkan amalan yang merusak pahala puasa, antara lain, memfitnah dan berbohong, berkata kotor, mencaci maki, membuat kegaduhan, bertengkar, berkelahi, dan mengganggu orang lain.
Teguh pada Keyakinan
Salah satu tanda kesuksesan muttaqin beribadah Ramadhan menurut Hasan al-Bashri adalah teguh pada keyakinan; teguh, tetapi arif. Hal itu dapat kita ketahui di dalam buku Membumikan Al-Qur’an karya M. Quraish Shihab.
Biasanya pada akhir Ramadhan, kita makin mudah melihat ketakwaan muslim mukmin mengerjakan berbagai ibadah, baik dengan lisan maupun dengan anggota badan. Boleh dikatakan selama 24 jam kita dapat melihatnya.
Ucapan yang bernilai ibadah membasahi mulut. Ucapan yang mengurangi pahala puasa ditinggalkan. Amalan yang mendatangkan pahala berlipat ganda dikerjakan. Tidak ada rasa lelah sedikit pun meskipun hingga keringat bercucuran. Semua anggota badan digerakkan untuk beribadah. Perbuatan yang sia-sia ditinggalkan.
Semua itu membuktikan keteguhan pada keyakinan. Mereka meyakini bahwa firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ibadah Ramadhan adalah kebenaran mutlak.
Teguh, tetapi Arif
Pada akhir Ramadhan 1447 H, keteguhan pada keyakinan sepertinya tidak diikuti dengan kearifan. Ada kiai dan kelompok tertentu yang teguh pada keyakinan, tetapi tidak menghormati kiai dan kelompok lain yang berbeda pemahamannya dalam penentuan 1 Syawal 1447 H.
Tindakan tidak menghormati ijtihad kiranya mengesankan “tidak menyatunya ucapan dengan perbuatan”. Mereka membuat gaduh, bukan membuat teduh, padahal hafal ayat dan hadis tentang ijtihad. Bahkan, sesungguhnya mereka sendiri melakukan ijtihad juga.
Ijtihad tidak hanya diperbolehkan, tetapi juga berpahala, baik hasilnya benar maupun keliru selama dilandasi dengan niat baik dan usaha yang sungguh-sungguh. Hal itu dijelaskan di dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini.
إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ
“Apabila seorang hakim menetapkan hukum lalu ia berijtihad, dan ijtihadnya benar, ia mendapat dua pahala. Jika ijtihadnya salah, ia mendapat satu pahala.” (HR Abu Dawud)
Dalam penentuan bulan baru qamariyah, ada landasan kuat yang dijadikan rujukan oleh para pelaku ijitihad. Berikut ini dikemukakan contoh.
Surat al-Baqarah ayat 189
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal-hilal. Katakan, Hilal-hilal itu adalah waktu-waktu bagi manusia dan haji.”
Surat ar-Rahman ayat 5
اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍۙ
“Matahari dan bulan (beredar) sesuai dengan perhitungan.”
Surat Yunus ayat 5
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِالْحَقِّۗ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya. Dialah pula yang menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu, kecuali dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada kaum yang mengetahui.”
Untuk Renungan
APA ARTI BERIDULFITRI
Apa arti beridulfitri
jika hari ini sama dengan kemarin
esok sama dengan hari ini
malahan lebih jelek
Apa arti beridulfitri
manakala nurani dibohongi
nikmat Allah pun dikorupsi
sampai tak ingat mati
atau mengira kematiannya
sama dengan kematian hewan
tak perlu pertanggungjawaban perbuatan
kepada Tuhan pemberi kehidupan
Apa arti beridulfitri
jika kebencian tetap kebencian
tak berganti kasih sayang
atau kasih sayang berganti kebencian
ketakacuhan tetap ketakacuhan
tak berganti kepedulian
atau kepedulian berganti ketakacuhan
kebohongan tetap kebohongan
tak berganti kejujuran
atau kejujuran berganti kebohongan
kesombongan tetap kesombongan
tak berganti keramahtamahan
kekasaran dan kekerasan tetap kekasaran dan kekerasan
tak berganti kelemahlembutan
atau kelemahlembutan berganti kekasaran dan kekerasan
ketumpulan perasaan tetap ketumpulan
tak berganti kepekaan
atau kepekaan berganti ketumpulan
Apa arti beridulfitri
jika tak ada keramahtamahan
yang ada saling meremehkan
tak ada saling hormat
yang ada saling hujat
tak ada saling sayang
yang ada saling tendang
tak ada saling rangkul
yang ada saling pukul
Apa arti beridulfitri
jika salah tak berakhir dengan tobat
hanya berpanjang-panjang debat
Astaghfirullah!
