Sang Burung Pipit; Dari Ruh Para Syuhada (2)

Publish

29 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

1
147
Ilustrasi

Ilustrasi

Sang Burung Pipit; Dari Ruh Para Syuhada (2)

Oleh Babay Parid Wazdi, Kader Muhammadiyah & Aktifis IPM 1988-1991 

 

Di tanah Karawang-Bekasi,

tempat Chairil pernah merasakan

napas para syuhada yang gugur. 

Angin selalu datang

membawa gema  kemerdekaan

bukan sekadar kata,

melainkan darah yang tak meminta balasan.

 

Sasak Kapuk berdesir pelan,

seperti mengulang langkah tegap Laskar Hizbullah.

Kelari berlari, seakan mengingat dentum peluru sekutu

Cikampek masih menyimpan aroma mesiu yang tak mau hilang,

Talagasari menggigil  mengenang tubuh muda para syuhada.

 

Dan di antara saksi bisu itu,

ada nama yang terus dipanggil matahari dan bintang

KH. Noer Ali bersama Kapten Aca  menyalakan jihad ke dada pejuang

Karawang-Bekasi

 

Mereka semua, bersama puluhan nama yang direnggut agresi.

Berbaring di tanah ini dengan kepala menghadap langit,

seakan masih menunggu apakah bangsa yang mereka selamatkan

akan tetap setia.

 

Dan lihatlah aku hari ini

cucu dari para syuhada Karawang–Bekasi,

lahir dari garis panjang perlawanan,

berdiri di antara saksi-saksi tua itu,

namun dituduh oleh negeri

yang dulu mereka selamatkan:

 

“Koruptor.

Perampok.

Pengkhianat bangsa.”

 

Ironi itu terasa seperti sembilu

menembus sejarah keluargaku.

Tetapi tanah ini

tanah di mana Kapten Aca gugur,

tanah yang menyerap doa KH. Noer Ali,

tanah yang masih menyimpan jejak kaki KH. Nawawi

berbisik kepadaku:

 

“Cucu kami,

jangan runtuh.

Kami tumbang di medan,

agar engkau berdiri di hari ini.

Fitnah bukan akhir,

karena kebenaran selalu tahu jalan pulang.”

 

Dan aku pun mengerti:

bahwa dari Sasak Kapuk hingga Kelari,

dari Cikampek hingga Talagasari,

dari bumi yang sepi hingga ruh yang tidak diam

keteguhan para syuhada

tidak pernah meminta imbalan.

Mereka hanya meminta satu hal

bahwa keturunan mereka

jangan mengkhianati nurani.

 

Maka aku menegakkan punggungku.

Sebab bangsa ini berdiri

bukan oleh mereka yang memaki dari jauh,

melainkan oleh mereka

yang gugur tanpa meminta nama.

 

Karawang-Bekasi tahu itu.

Bumi ini tahu itu.

Ruh para syuhada tahu itu.

Dan aku, cucu mereka,

akan tetap berjalan

dengan bekal keberanian

yang mereka tanamkan dinadi sejarah.

 

Rutan Salemba, 3 November 25

Penulis adalah Direksi Bank DKI (2018 sd 2022) & Dirut Bank Sumut (2023 sd 2025). Puisi ini di ketik ulang dari tulisan tangan ayahku yang berada di rutan Salemba & puisi ini bagian dari Manifesto Tawasul Sang Burung Pipit (The Bright Way to Freedom and Faith), salam Ahmad Raihan Hakim (Alumni SMA Muh 3 Jkt 2018)

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Anak Minang Rantau: Sebuah Pembelajaran Oleh: Saidun Derani Kehadiran Awak Samo Awak (ASA) merupak....

Suara Muhammadiyah

1 February 2024

Humaniora

Sebait Kisah Perjalanan Perempuan 'Aisyiyah Generasi Pre Boomers Kalimantan Barat Penulis: Amalia I....

Suara Muhammadiyah

18 January 2026

Humaniora

Menembus Ombak: Perjalanan Inspiratif Wanjeli, Sarjana yang Tak Kenal Menyerah Oleh: Furqan Mawardi....

Suara Muhammadiyah

19 December 2024

Humaniora

Melihat dari Dekat Negeri Tiongkok Melalui Provinsi Xinjiang dan Guangdong (1) Oleh: Ahmad Dahlan, ....

Suara Muhammadiyah

28 August 2024

Humaniora

Cerpen: Mustofa W Hasyim Dengan mudik dia merasa menjadi manusia. Dia baru menyadari ketika mudik d....

Suara Muhammadiyah

26 January 2024