Sang Burung Pipit; Dari Ruh Para Syuhada (2)
Oleh Babay Parid Wazdi, Kader Muhammadiyah & Aktifis IPM 1988-1991
Di tanah Karawang-Bekasi,
tempat Chairil pernah merasakan
napas para syuhada yang gugur.
Angin selalu datang
membawa gema kemerdekaan
bukan sekadar kata,
melainkan darah yang tak meminta balasan.
Sasak Kapuk berdesir pelan,
seperti mengulang langkah tegap Laskar Hizbullah.
Kelari berlari, seakan mengingat dentum peluru sekutu
Cikampek masih menyimpan aroma mesiu yang tak mau hilang,
Talagasari menggigil mengenang tubuh muda para syuhada.
Dan di antara saksi bisu itu,
ada nama yang terus dipanggil matahari dan bintang
KH. Noer Ali bersama Kapten Aca menyalakan jihad ke dada pejuang
Karawang-Bekasi
Mereka semua, bersama puluhan nama yang direnggut agresi.
Berbaring di tanah ini dengan kepala menghadap langit,
seakan masih menunggu apakah bangsa yang mereka selamatkan
akan tetap setia.
Dan lihatlah aku hari ini
cucu dari para syuhada Karawang–Bekasi,
lahir dari garis panjang perlawanan,
berdiri di antara saksi-saksi tua itu,
namun dituduh oleh negeri
yang dulu mereka selamatkan:
“Koruptor.
Perampok.
Pengkhianat bangsa.”
Ironi itu terasa seperti sembilu
menembus sejarah keluargaku.
Tetapi tanah ini
tanah di mana Kapten Aca gugur,
tanah yang menyerap doa KH. Noer Ali,
tanah yang masih menyimpan jejak kaki KH. Nawawi
berbisik kepadaku:
“Cucu kami,
jangan runtuh.
Kami tumbang di medan,
agar engkau berdiri di hari ini.
Fitnah bukan akhir,
karena kebenaran selalu tahu jalan pulang.”
Dan aku pun mengerti:
bahwa dari Sasak Kapuk hingga Kelari,
dari Cikampek hingga Talagasari,
dari bumi yang sepi hingga ruh yang tidak diam
keteguhan para syuhada
tidak pernah meminta imbalan.
Mereka hanya meminta satu hal
bahwa keturunan mereka
jangan mengkhianati nurani.
Maka aku menegakkan punggungku.
Sebab bangsa ini berdiri
bukan oleh mereka yang memaki dari jauh,
melainkan oleh mereka
yang gugur tanpa meminta nama.
Karawang-Bekasi tahu itu.
Bumi ini tahu itu.
Ruh para syuhada tahu itu.
Dan aku, cucu mereka,
akan tetap berjalan
dengan bekal keberanian
yang mereka tanamkan dinadi sejarah.
Rutan Salemba, 3 November 25
Penulis adalah Direksi Bank DKI (2018 sd 2022) & Dirut Bank Sumut (2023 sd 2025). Puisi ini di ketik ulang dari tulisan tangan ayahku yang berada di rutan Salemba & puisi ini bagian dari Manifesto Tawasul Sang Burung Pipit (The Bright Way to Freedom and Faith), salam Ahmad Raihan Hakim (Alumni SMA Muh 3 Jkt 2018)

