JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ramadhan identik dengan sedekah. Demikian Abdul Mu’ti mengemukakan. Selama bulan Ramadhan, katanya, banyak terpotret di ruang publik, umat Islam saling bersedekah dengan sesama.
“Yang bersedekah itu, bisa kita lihat dari tiga sudut pandang,” ucapnya. Disebutnya, pertama, menjadi bagian dari karakteristik orang bertakwa. “Menginfakkan sebagian rezeki yang mereka miliki kepada mereka yang memerlukan uluran tangan dan bantuan kita,” tambahnya.
Penegasan ini berkelindan dengan Qs ali Imran ayat 134. Pemaknaan dari ayat ini, jelas Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) itu, di tengah situasi apa pun, orang bertakwa senantiasa berderma.
“Berderma itu tidak harus menunggu kaya raya. Dan yang dimaksud dengan kaya itu bukan mereka yang bergelimang harta, tapi orang yang merasa cukup dengan apa yang dia miliki, sehingga kemudian dia berbagi,” jelasnya.
Mu’ti menyebut, menafkahkan rezeki yang dimiliki, mesti diniatkan untuk menolong sesama yang memerlukan. Sehingga dengan itu, harta menjadi berkah, akan bertambah, berlimpah, dan hidup menjadi tenang.
“Insyaallah (harta) bertambah karena doa-doa yang kita berikan sedekah itu,” ucap Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.
Dengan bersedekah, niscaya dapat membuka pintu berkah dan pertolongan Allah SwT. Sedekah tidak mesti dalam jumlah yang banyak. Tetapi yang terpenting adalah konsistensi.
“Sekarang dan yang akan datang. Maksudnya continue, terus-menerus,” ujar Mu’ti, Sabtu (28/2) di TvMu Channel dalam program Jendela Ramadhan.
Kedua, bagian dari berinvestasi. Al-Qur’an memvisualisasikan berinfak dan bersedekah bak menanam sebuah pohon dengan satu biji. Yang satu biji itu tumbuh menjadi pohon yang memiliki tujuh tangkai, dan setiap tangkai ada 100 biji (Qs al-Baqarah 261).
“Menanam pohon itu perlu proses, perlu ketelitian, perlu kecermatan, yang hasilnya tidak bisa kita lihat seketika. Bahkan kita yang menanam pun mungkin tidak menikmati buahnya. Dan karena itu maka kita sebut itu sebagai investasi atau infak,” tegasnya.
Ketiga, menyangkut aspek sosial. Sedekah itu tidak selalu berbentuk harta, kata Mu’ti. Namun, bersedekah bisa dalam bentuk waktu, ilmu, buku, atau sedekah diri mau mendengar keluh kesah orang lain.
“Dan itu semuanya merupakan bagian dari karakter manusia bertakwa, yaitu mereka yang senantiasa bersedekah,” tandasnya. (Cris)

