Sedekah Tak Tunggu Kaya, Harta Pasti Bertambah

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
401
Prof Dr Abdul Mu'ti, MEd

Prof Dr Abdul Mu'ti, MEd

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ramadhan identik dengan sedekah. Demikian Abdul Mu’ti mengemukakan. Selama bulan Ramadhan, katanya, banyak terpotret di ruang publik, umat Islam saling bersedekah dengan sesama.

“Yang bersedekah itu, bisa kita lihat dari tiga sudut pandang,” ucapnya. Disebutnya, pertama, menjadi bagian dari karakteristik orang bertakwa. “Menginfakkan sebagian rezeki yang mereka miliki kepada mereka yang memerlukan uluran tangan dan bantuan kita,” tambahnya.

Penegasan ini berkelindan dengan Qs ali Imran ayat 134. Pemaknaan dari ayat ini, jelas Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) itu, di tengah situasi apa pun, orang bertakwa senantiasa berderma.

“Berderma itu tidak harus menunggu kaya raya. Dan yang dimaksud dengan kaya itu bukan mereka yang bergelimang harta, tapi orang yang merasa cukup dengan apa yang dia miliki, sehingga kemudian dia berbagi,” jelasnya.

Mu’ti menyebut, menafkahkan rezeki yang dimiliki, mesti diniatkan untuk menolong sesama yang memerlukan. Sehingga dengan itu, harta menjadi berkah, akan bertambah, berlimpah, dan hidup menjadi tenang.

“Insyaallah (harta) bertambah karena doa-doa yang kita berikan sedekah itu,” ucap Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.

Dengan bersedekah, niscaya dapat membuka pintu berkah dan pertolongan Allah SwT. Sedekah tidak mesti dalam jumlah yang banyak. Tetapi yang terpenting adalah konsistensi.

“Sekarang dan yang akan datang. Maksudnya continue, terus-menerus,” ujar Mu’ti, Sabtu (28/2) di TvMu Channel dalam program Jendela Ramadhan.

Kedua, bagian dari berinvestasi. Al-Qur’an memvisualisasikan berinfak dan bersedekah bak menanam sebuah pohon dengan satu biji. Yang satu biji itu tumbuh menjadi pohon yang memiliki tujuh tangkai, dan setiap tangkai ada 100 biji (Qs al-Baqarah 261).

“Menanam pohon itu perlu proses, perlu ketelitian, perlu kecermatan, yang hasilnya tidak bisa kita lihat seketika. Bahkan kita yang menanam pun mungkin tidak menikmati buahnya. Dan karena itu maka kita sebut itu sebagai investasi atau infak,” tegasnya.

Ketiga, menyangkut aspek sosial. Sedekah itu tidak selalu berbentuk harta, kata Mu’ti. Namun, bersedekah bisa dalam bentuk waktu, ilmu, buku, atau sedekah diri mau mendengar keluh kesah orang lain.

“Dan itu semuanya merupakan bagian dari karakter manusia bertakwa, yaitu mereka yang senantiasa bersedekah,” tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Raden Isnanta membuka Kuliah Kewirau....

Suara Muhammadiyah

14 September 2023

Berita

PURWOREJO, Suara Muhammadiyah – Direksi Rumah Sakit Umum (RSU) `Aisyiyah Purworejo, Jawa Tenga....

Suara Muhammadiyah

25 January 2024

Berita

TULANG BAWANG, Suara Muhammadiyah  – Dalam upaya memperkuat peran dakwah di era digital, ....

Suara Muhammadiyah

28 February 2025

Berita

PONOROGO, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kabupaten Ponorogo melaks....

Suara Muhammadiyah

5 March 2024

Berita

KARTASURA, Suara Muhammadiyah – Semarak Milad Muhammadiyah ke-112 diwarnai dengan kegiatan khi....

Suara Muhammadiyah

10 January 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah