Seni Menahan Diri: Esensi Taqwa dalam Perisai Puasa

Suara Muhammadiyah

5 March 2026

527
Foto: Freepik

Foto: Freepik

Oleh: Wakhidah Noor Agustina, S.Si. (Guru Biologi di SMA Negeri 2 Kudus dan Sekretaris MEK PDA Kudus)

Memasuki fase pertengahan Ramadhan, sering kali tantangan kita bukan lagi sekadar menahan lapar dan dahaga karena fisik sudah mulai terbiasa. Namun, sebuah pertanyaan besar muncul: apakah puasa kita masih berfungsi sebagai pelindung, atau justru perisai tersebut sudah retak dan hancur?

Setiap ibadah yang Allah perintahkan memiliki tujuan mulia, yaitu agar kita menjadi pribadi yang bertaqwa. Secara bahasa, kata "Taqwa" berasal dari akar kata waqa yang berarti menjaga atau melindungi diri. Inilah mengapa Rasulullah SAW menyebut puasa dengan istilah yang sangat indah: As-shiyamu junnah—Puasa adalah perisai.

Layaknya seorang prajurit di medan perang yang menggunakan Junnah (tameng) untuk menghalau tebasan pedang dan anak panah, puasa berfungsi sebagai pelindung iman dan marwah kita.

Perisai dari syahwat; saat lapar, ego mengecil sehingga keinginan untuk maksiat melemah.

Perisai dari api neraka; di akhirat kelak, puasa yang ikhlas akan menjelma menjadi benteng raksasa yang menghalangi panasnya api neraka menyentuh kulit kita.

Sering kali, perisai puasa kita rusak bukan karena serangan musuh dari luar, melainkan karena kelalaian kita sendiri. Perisai ini tidak akan rusak karena makan dan minum yang tidak sengaja. Kerusakan justru sering terjadi karena hal-hal yang dianggap sepele, yaitu lisan yang tidak terjaga.

Rasulullah SAW memperingatkan bahwa Allah tidak membutuhkan rasa lapar dan haus dari orang yang tidak mampu meninggalkan perkataan dusta. Jika perisai ini sudah berlubang karena ghibah, dusta, atau fitnah, maka yang tersisa hanyalah rasa lapar yang sia-sia.

Agar puasa tidak sekadar menjadi ritual "pindah jam makan", kita perlu melakukan perawatan intensif melalui tiga langkah upgrade:

  1. Puasa Lisan; seni menahan kata. Lisan adalah bagian tubuh yang paling cepat melubangi perisai puasa. Terapkan prinsip "Bicara yang berpahala atau diam yang bermartabat". Jika godaan untuk menggunjing muncul, segera tarik napas dan katakan, "Inni shoimun" (Sesungguhnya aku sedang berpuasa).
  2. Puasa Hati; detoksifikasi rasa iri. Iri hati adalah "api" yang paling cepat membakar pahala. Di era media sosial, sering kali muncul rasa sesak saat melihat kebahagiaan orang lain. Rekatkan kembali perisai yang retak dengan rasa syukur dan doa "Barakallahu lakum" (Semoga Allah memberkahi kalian).
  3. Puasa Mata; jihad di era layer. Menjaga mata bukan berarti tidak boleh melihat ponsel, melainkan memilih apa yang layak dilihat. Setiap kali mata melihat hal yang tidak diridhai Allah, satu goresan luka tercipta di perisai puasa kita. Gunakanlah layar sebagai sarana mendekat kepada-Nya, bukan pengikis pahala.

Mari kita manfaatkan sisa hari di bulan Ramadhan ini untuk memperbaiki kualitas perisai kita. Jangan sampai kita menghadap Allah dengan membawa bekal yang hampa karena perisai yang penuh lubang. Semoga Allah SWT menerima puasa kita dan menjadikan kita pribadi yang benar-benar bertaqwa.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Krisis Diplomasi di Tengah Ketegangan Iran–Amerika Oleh: Suko Wahyudi, Pegiat Literasi Tingga....

Suara Muhammadiyah

10 March 2026

Wawasan

Memaknai Basmalah sebagai Fondasi Ilmu-Adab Oleh: Piet Hizbullah Khaidir, Ketua STIQSI Lamongan; Se....

Suara Muhammadiyah

15 October 2025

Wawasan

Oleh: Drh H Baskoro Tri Caroko. PP Muhammadiyah, LPCRPM Bidang Pemberdayaan Ekonomi Seni Dan Budaya.....

Suara Muhammadiyah

6 November 2024

Wawasan

Viral Lembar Kitab, Benarkah Ini Rujukan Muhammadiyah? M. Saifudin, Pondok Pesantren Muhammadiyah S....

Suara Muhammadiyah

19 February 2026

Wawasan

Perempuan dan Algoritma Oleh: Yulianti, Dosen & Peneliti Komunikasi, Universitas Islam Bandung ....

Suara Muhammadiyah

9 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah