Shalat untuk Penguatan Kepribadian

Publish

13 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

1
120
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Shalat untuk Penguatan Kepribadian

Oleh: Mohammad Fakhrudin

Dalam hubungannya dengan pendidikan akhlak di dalam shalat, tafsir Hamka atas surat an-Nur (24):56 dijadikan rujukan. Menurut beliau, shalat selain memperkuat iman, menghaluskan perasaan, juga memperkuat kepribadian. Ada hal penting yang perlu diperhatikan lebih mendalam lagi berkaitan dengan penumbuhkembangan kepekaan melalui shalat berjamaah di masjid. 

Imam dan makmum harus peka terhadap perbedaan paham dalam beberapa hal berikut ini.
 
Merapatkan Shaf

Imam shalat harus peka terhadap keberagaman makmum tidak hanya dalam hal usia, kondisi kesehatan, dan keperluannya, tetapi juga dalam hal pemahaman tentang rapatnya shaf shalat. Boleh jadi, di antara makmum ada yang mempunyai pemahaman bahwa merapatkan shaf shalat tidak berarti saling menyentuhkan kaki sesama makmum. 

Mereka merenggangkan kakinya yang kanan dan kiri  selebar bahunya masing-masing. Mereka tidak merapatkan kakinya dengan makmum di sebelah kanan atau kirinya sampai menyentuh dan tidak merapatkan bahunya sampai menyentuh bahu makmum di sebelah kanan atau kirinya dengan pertimbangan agar gerakan shalatnya sesuai dengan kaifiat.

Mereka merujuk kepada fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah (selanjutnya disebut Majelis Tarjih dan Tajdid) berkenaan dengan cara meluruskan dan merapatkan shaf shalat yang terdapat di dalam HR al-Bukhari berikut ini.

عَنْ أَنَس بْنِ مَالِكٍ، عَنْ النَّبِيِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَقِيْمُوْا صُفُوْفَكُمْ، فَإِنَّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظُهُرِيْ، وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكُبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ، وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ [رواه البخاري].

“Dari Anas bin Malik (diriwayatkan) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, Tegakkanlah shaf-shaf kalian, maka sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari belakang punggungku, dan salah seorang dari kami menempelkan bahunya dengan bahu temannya dan kakinya dengan kaki temannya.”

Menurut Majelis Tarjih dan Tajdid, di dalam matan hadis tersebut terdapat seseorang yang tidak dikenal dan lafal “ahaduna” di dalam hadis tersebut bermakna bahwa hanya salah seorang yang menempelkan bahunya dengan bahu temannya dan menempelkan kakinya dengan kaki temannya. Dari hal tersebut kita ketahui bahwa menempelkan bahu dan kaki adalah salah satu cara sahabat dalam merapatkan shaf shalat. Oleh karena itu, hadis tersebut tidak dapat dijadikan pedoman dalam merapatkan shaf shalat.

Berkenaan dengan itu, imam shalat dan sesama makmum harus mempunyai kepekaan terhadap keragaman pemahaman tersebut. Seketika menghadap makmum untuk menata shaf shalat, imam harus sudah dapat memahami keragaman jamaah shalat. 

Kiranya tidak bijaksana jika ada makmum yang “memaksakan diri” menyentuhkan kakinya pada kaki makmum di sebelah kanan kirinya. Apalagi, ketika shalat berjamaah akan dimulai ada makmum yang menarik makmum di sebelah kanan kirinya agar kakinya saling menyentuh. Selama jaraknya tidak terlalu jauh (misalnya sampai sepuluh sentimeter) harus ada kepekaan bahwa terdapat perbedaan paham tentang rapatnya shaf shalat. 

Datang Menjelang Ikamah

Dalam hubungannya dengan waktu ikamah, kepekaan jamaah shalat harus ada. Tidak bijaksana jika waktu tinggal beberapa detik menjelang ikamah ada makmum yang datang kemudian mengerjakan shalat sunah, padahal jamaah yang lain, bahkan imam, sudah menunggu. Akibatnya, waktu ikamah ditunda. Hal ini berarti pula bahwa pelaksanaan shalat tidak dapat berlangsung pada awal waktu, padahal shalat pada awal waktu merupakan salah satu amal yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menetralkan Bau Mulut

Masih ada lagi wujud kepekaan lain. Jika menjelang shalat berjamaah ada aktivitas makan dengan lauk yang dilengkapi dengan petai, jengkol, atau lainnya yang menimbulkan bau menyengat, bau itu dapat dinetralkan dengan makan mentimun atau bersiwak. Perlu kita sadari bahwa tidak semua orang senang dengan (bau) petai atau jengkol. 

Mengondisikan Kebersihan Rambut dan Mukena

Bagi jamaah perempuan, banyak hal yang harus diperhatikan. Harus dipahami dengan sebaik-baiknya bahwa bau apak (bau tidak sedap) dari rambut dan mukena mengganggu kekhusyukan shalat berjamaah. Oleh karena itu, keramas dan mencuci mukena harus dilakukannya secara rutin dan berkala. Keramas yang dilakukan satu pekan sekali dan mencuci mukena dua pekan sekali tentu dapat menyebabkan bau apak. Lebih-lebih lagi, pada musim kemarau dan shalat berjamaah dilakukan di musala atau di masjid tanpa AC.

Jamaah perempuan harus mengingat bahwa tujuan datang ke masjid adalah shalat berjamaah. Agar tidak menimbulkan fitnah, kriteria bagusnya pakaian untuk shalat berjamaah di musala atau di masjid tentu berbeda dari kriteria bagusnya pakaian untuk menghadiri pesta. Tambahan lagi, kondisi sosial ekonomi jamaah shalat pasti beragam.

Jamaah laki-laki pun wajib memperhatikan kebersihan  pakaian.dan rambut. Bahkan, tidak ada larangan baginya untuk memakai wangi-wangian.

Penguatan terhadap Kepribadian Muslim melalui Shalat

Kepribadian di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan maknanya, yaitu “sifat hakiki yang tecermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakannya dari orang atau bangsa lain”. Di dalam kajian ini kepribadian tidak hanya dibatasi pada individu dan bangsa, tetapi juga agama dan organisasi. 

Sudah menjadi pemahaman umum bahwa muslim mukmin mempunyai kepribadian yang berbeda dari kepribadian orang Yahudi, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu. Hal itu dapat kita ketahui misalnya dalam hal akidah dan ibadah. 

Dalam hal akidah muslim mukmin mempunyai konsep ketuhanan yang berbeda dari kaum lain. Demikian pula halnya dalam hal ibadah, akhlak, dan muamalah duniawi.  Sesama muslim mukmin jika bertemu, disunahkan berucap salam dengan “Assalamu ‘alaikum (warahmatullahi wabarakatuh)”, sedangkan orang Yahudi, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, atau Khonghucu tidak demikian. 

Muhammadiyah mempunyai kepribadian yang berbeda dari organisasi lain meskipun sesama organisasi keagamaan. Dalam hal menentukan 1 Ramadan, 1 Syawal, dan 10 Zulhijjah mulai 1447 H Muhammadiyah menggunakan Kalender Hijriyah Global Tunggal, sedangkan organisasi lain tidak demikian halnya.

Banyak nilai kepribadian yang ditanamkan kepada muslim mukmin melalui shalat. Di antaranya adalah (1) kejujuran, (2) kedisiplinan, dan (3) ketawadukan. 

Kejujuran

Tidak pernah terlintas sedikit pun pada pikiran muslim mukmin mengurangi jumlah rakaat shalat meskipun shalat sendirian. Ketika wudunya batal pada saat shalat, meskipun tidak ada yang tahu, kita membatalkan shalat untuk berwudu kembali. 

Kedisiplinan

Waktu shalat kita taati sesuai dengan ketentuan. Jika ada uzur syar’i, ada ketentuan khusus misalnya shalat jamak atau jamak qasar. Ketentuan itu kita taati dengan penuh kedisiplinan. Tidak pernah ada penyimpangan misalnya shalat asar kita jamak dengan shalat magrib! 

Ketawadukan

Ketika shalat, tiap muslim mukmin dikondisikan benar-benar sadar tidak berdaya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika shalat berjamaah, penataan shaf dilakukan tidak berdasarkan status sosial, jenjang pendidikan, pangkat, atau jabatan. 

Makmum pada shaf pertama berada di belakang imam. Ketika rukuk, tanpa ragu makmum yang tepat berada di belakang imam memosisikan kepalanya di dekat pantat imam. Ketika sujud, dia menempatkan kepalanya di dekat telapak kaki imam. Makmum pada shaf kedua, ketika rukuk, dengan ikhlas menempatkan kepalanya di dekat pantat makmum pada shaf pertama. Ketika sujud, mereka menempatkan kepalanya di dekat telapak kaki makmum pada shaf pertama. 

Pada shalat berjamaah ketawadukan benar-benar diamalkan sebagai pengamalan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Quran surat al-Hujurat (49):13

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ

“Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”

Jadi, sangat aneh jika muslim mukmin (apalagi kiai) yang sudah mengerjakan shalat berjamaah, tetapi sombong. Imam pun wajib tawaduk. Boleh jadi orang-orang yang bermakmum padanya lebih bertakwa karena tawaduk, sedangkan dia sendiri sombong karena merasa lebih hebat.  

Ketika mengerjakan shalat sendirian (munfarid), muslim mukmin dikondisikan tawaduk juga. Kita dengan penuh kesadaran mengakui sebagai hamba yang sangat lemah yang sedang menghadap Allah Yang Maha Sempurna. Bukankah kalimat pertama yang kita ucapkan untuk memulai shalat adalah "Allahu akbar"  yang artinya Allah Maha Besar? 
 
Dari bacaan dan gerakan shalat, sejak membaca doa iftitah hingga salam kita mohon pertolongan-Nya untuk berbagai keperluan, tidak hanya untuk kehidupan di dunia, tetapi juga untuk kehidupan di akhirat. Gerakan di dalam shalat pun bermakna pengakuan bahwa kita adalah hamba-Nya. Tidak ada satu pun gerakan yang bermakna bahwa kita hebat dan kita pantas berucap dan berperilaku sombong, yakni menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam HR Muslim berikut ini bersabda,

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”

Orang sombong tidak akan masuk surga sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam HR Muslim berikut ini,

       لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
      
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada seberat biji zarrah dari kesombongan.”

Idealnya, dengan mengerjakan shalat, muslim mukmin mempunyai kepribadian luhur sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang makin kuat.

Aamiin!


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Fathurrahman Kamal, Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Pada Langit yang Ketuju....

Suara Muhammadiyah

2 June 2025

Wawasan

Imam Masjid Muhammadiyah Seharusnya: Belajar dari Turki Oleh: Dr. Husamah, S.Pd, M.Pd, Dosen Pendi....

Suara Muhammadiyah

16 December 2024

Wawasan

Menjadi Aktivis Sekaligus Ahli di Bidangnya Oleh: Noval Sahnitri/Ketua Bidang KDI PW IPM Lampung/An....

Suara Muhammadiyah

22 April 2025

Wawasan

Budi Pekerti dalam Rimba Homo Digitalis Oleh: Al-Faiz MR Tarman, Dosen Universitas Muhammadiyah Kla....

Suara Muhammadiyah

18 June 2024

Wawasan

Upaya Menjaga Mental Tetap Sehat Melalui Self Healing Qur’ani Oleh : Tri Ermayani, Dosen Al-I....

Suara Muhammadiyah

13 February 2025