Spirit Tajdid: Guru Muhammadiyah, Pelopor Pendidikan Berkemajuan

Suara Muhammadiyah

10 September 2026

94
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Spirit Tajdid: Guru Muhammadiyah, Pelopor Pendidikan Berkemajuan

Oleh: Ima Heni Hanifah, S.Kom, M.Pd (Mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah PWM DIY / Guru SMK Muhammadiyah 4 Yogyakarta)

Muhammadiyah dan pendidikan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sejak awal kelahirannya, gerakan yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan ini telah menjadikan pendidikan sebagai pilar utama dakwah amar ma'ruf nahi munkar. Di dalam setiap denyut nadi persyarikatan, sekolah dan madrasah bukan sekadar tempat mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan kawah candradimuka tempat membina manusia pembawa pencerahan.

Sebagai guru di SMK Muhammadiyah 4 Yogyakarta sekaligus mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah PWM DIY (SIM), saya merasakan tajdid bukan hanya gagasan abstrak, melainkan tuntunan nyata dalam perjalanan seorang pendidik. Guru Muhammadiyah tidak pernah dirancang hanya sebagai pengajar teknis di dalam kelas, melainkan sebagai pelopor gerakan sosial dan pencerah peradaban.

Untuk memahami fondasi pendidikan berkemajuan, kita harus kembali ke Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1912. Kala itu, tata pendidikan di Hindia Belanda terbelah menjadi dua kutub yang saling bertolak belakang: sekolah kolonial yang sekuler dan pesantren-pesantren tradisional yang cenderung menutup diri dari ilmu-ilmu modern.

Melihat ketimpangan tersebut, KH. Ahmad Dahlan menghadirkan gebrakan revolusioner. Beliau mendirikan sekolah yang memadukan antara ilmu agama Islam dan ilmu umum. Sebuah langkah yang pada zamannya sempat mendapat penolakan keras dan stigma negatif. Kiai Dahlan memelopori penggunaan papan tulis, meja, dan kursi, serta menyusun kurikulum modern yang belum pernah diterapkan oleh lembaga pendidikan Islam manapun saat itu.

Langkah ini menunjukkan bahwa sejak awal, guru dan pendidik Muhammadiyah disiapkan sebagai agen perubahan (agent of change). Mereka adalah para perintis yang berani meruntuhkan dogma, menerobos ketiadaan akses, dan membawa semangat tajdid (pembaharuan). Spirit inilah yang menjadi gen utama dari apa yang hari ini kita kenal sebagai "Pendidikan Berkemajuan".

Mengelola Warisan dan Menjaga Karakter

Memasuki era modern, benih yang ditanam oleh Kiai Dahlan lebih dari satu abad lalu telah tumbuh menjadi raksasa peradaban. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan kini membentang dari ribuan PAUD, Sekolah Dasar, Menengah, hingga Perguruan Tinggi yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, bahkan hingga luar negeri seperti di Malaysia dan Australia.

Di tengah megahnya infrastruktur tersebut, tantangan guru Muhammadiyah masa kini berubah bentuk. Guru zaman sekarang bertugas menjaga agar eksistensi lembaga yang besar ini tetap relevan dengan dinamika zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Pendidikan Muhammadiyah tidak hanya dituntut untuk mencetak peserta didik yang unggul secara akademis dan memiliki keterampilan praktis, melainkan juga berfokus pada pembentukan manusia berkarakter mulia dan berakhlak terpuji.

Di sinilah peran penting mata pelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Guru Muhammadiyah hari ini berdiri di benteng terdepan untuk memastikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan, moralitas Islam, dan spirit pergerakan tetap tertanam kuat di jiwa generasi muda. Di era di mana arus informasi melimpah dan batas-batas budaya makin kabur, guru Muhammadiyah menjadi kompas moral bagi para peserta didik.

Menatap masa depan, dunia pendidikan menghadapi perubahan mendasar yang dipicu oleh pesatnya kemajuan teknologi, kecerdasan buatan, otomasi, tantangan Generasi Z dan Alpha, serta dinamika dunia kerja global. Tantangan ini menuntut guru Muhammadiyah untuk bertransformasi dari sekadar pengajar menjadi pendamping dan teladan moral yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Pendidik masa depan harus mampu menyesuaikan gaya komunikasi dengan generasi digital, menjembatani keterampilan siswa dengan kebutuhan industri, serta memperluas wawasan ke tingkat internasional tanpa mengikis nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

Perubahan peran ini menempatkan guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan sebagai fasilitator pembelajaran yang adaptif. Di era melimpahnya informasi, fokus utama pendidik bergeser pada upaya mengasah daya kritis, kreativitas, serta ketahanan mental siswa agar mampu menyaring arus digital secara bijak. Melalui integrasi antara kecanggihan teknologi dan penanaman nilai-nilai keislaman, guru Muhammadiyah memastikan bahwa peserta didik tidak hanya unggul secara akademis dan terampil secara vokasional, tetapi juga memiliki karakter, empati, dan fondasi spiritual yang kokoh saat melangkah ke panggung dunia.

Guna menjawab berbagai tantangan tersebut, sekolah-sekolah Muhammadiyah membutuhkan sosok Guru Berkemajuan yang memadukan penguasaan teknologi, semangat inovasi, dan spiritualitas Islam. Pendidik masa depan tidak boleh gagap teknologi, melainkan harus memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memperluas jangkauan dakwah. Selain itu, mereka harus berani mencoba metode mengajar baru dan terus belajar sepanjang hayat sebagaimana semangat tajdid KH. Ahmad Dahlan, dengan tetap menjadikan Al-Qur'an, Sunnah, dan nilai Kemuhammadiyahan sebagai kompas moral dalam mengabdi.

Sejarah telah membuktikan bahwa Muhammadiyah mampu bertahan dan berkembang melebihi satu abad karena keberanian para pendahulunya dalam melakukan pembaharuan. Hari ini dan di masa depan, estafet perjuangan itu berada di tangan para guru. Dengan terus merawat spirit tajdid, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi terkini, serta memegang teguh keikhlasan beramal, Guru Muhammadiyah akan terus berdiri tegak sebagai pelopor pendidikan berkemajuan, mencerahkan bangsa dan mengukir peradaban dunia.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Mengatasi Krisis Iman di Kalangan Anak-Anak Muda Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Un....

Suara Muhammadiyah

8 September 2025

Wawasan

Kelas Menengah Yang Lelah: Mencari Keadilan Antara Pajak, Zakat, dan Amanah Negara Oleh: Agus Suben....

Suara Muhammadiyah

4 August 2026

Wawasan

Anak Saleh (29)Oleh: Mohammad Fakhrudin, Warga Muhammadiyah Magelang "Anak saleh bukan barang insta....

Suara Muhammadiyah

6 February 2025

Wawasan

Solidaritas Untuk Gaza Palestina Oleh: Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA Sejak hari pertama perang....

Suara Muhammadiyah

1 November 2023

Wawasan

Oleh: Racha Julian Chairurrizal Dalam sejarahnya, manusia adalah makhluk yang selalu bisa beradapta....

Suara Muhammadiyah

2 December 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah