Spirit Tauhid dalam Semangat Hijrah: Meneguhkan Jalan Perubahan Berkemajuan

Publish

13 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
91
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Spirit Tauhid dalam Semangat Hijrah: Meneguhkan Jalan Perubahan Berkemajuan

Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah hijrah menjadi salah satu kata yang paling populer dalam kehidupan umat Islam di Indonesia. Kata ini hadir dalam berbagai ruang kehidupan, mulai dari kajian keagamaan, media sosial, komunitas anak muda, hingga dunia bisnis dan gaya hidup. Banyak orang menyebut dirinya sedang berhijrah ketika mulai memperbaiki ibadah, mengubah cara berpakaian, meninggalkan kebiasaan buruk, atau mendekatkan diri kepada agama.

Fenomena ini tentu patut disyukuri. Di tengah arus sekularisasi, materialisme, dan budaya populer yang sering menjauhkan manusia dari nilai-nilai spiritual, munculnya kesadaran untuk kembali kepada agama merupakan pertanda kerinduan manusia akan makna hidup yang lebih mendalam.

Namun demikian, popularitas hijrah juga menghadirkan tantangan tersendiri. Tidak jarang hijrah direduksi menjadi sekadar perubahan simbolik. Ukuran keberhasilan hijrah sering kali hanya dilihat dari aspek-aspek yang tampak di permukaan. Seseorang dianggap telah berhijrah karena mengubah penampilan, mengikuti komunitas tertentu, atau mengonsumsi simbol-simbol keagamaan tertentu. Padahal, perubahan yang bersifat lahiriah belum tentu mencerminkan transformasi batin yang sesungguhnya.

Lebih jauh lagi, terdapat kecenderungan sebagian kalangan untuk memahami hijrah sebagai proses eksklusivitas sosial. Mereka yang merasa telah berhijrah terkadang memandang diri lebih baik daripada orang lain. Akibatnya, hijrah yang seharusnya menjadi jalan menuju kerendahan hati justru berubah menjadi sarana untuk membangun superioritas moral.

Di sinilah pentingnya mengembalikan makna hijrah kepada akar ajaran Islam yang paling fundamental, yaitu tauhid. Sebab sesungguhnya, inti dari seluruh perjalanan hijrah adalah proses peneguhan tauhid dalam kehidupan manusia. Tanpa tauhid, hijrah hanya akan menjadi perubahan kosmetik yang dangkal. Sebaliknya, dengan tauhid, hijrah menjadi gerakan transformasi yang menyentuh seluruh dimensi kehidupan manusia.

Bagi Muhammadiyah, tauhid merupakan fondasi utama gerakan. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah tidak hanya mengajarkan ritual keagamaan, tetapi juga membangun peradaban yang bertumpu pada kemurnian tauhid. Karena itu, membicarakan hijrah dalam perspektif Muhammadiyah berarti membicarakan bagaimana tauhid menjadi energi perubahan menuju kehidupan yang lebih berkemajuan.

Tauhid sering dipahami secara sederhana sebagai keyakinan bahwa Allah itu satu. Pemahaman ini memang benar, tetapi belum memadai. Tauhid bukan hanya persoalan teologis, melainkan juga pandangan hidup yang membentuk cara manusia berpikir, bersikap, dan bertindak.

Kalimat "la ilaha illallah" tidak hanya berarti "tidak ada Tuhan selain Allah". Kalimat tersebut juga mengandung makna pembebasan manusia dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah. Seorang yang bertauhid tidak boleh tunduk pada hawa nafsu, kekuasaan, materi, status sosial, maupun berbagai bentuk berhala modern yang menguasai kehidupan manusia. Al-Qur'an menegaskan:

"Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-An'am: 162)

Ayat ini menunjukkan bahwa tauhid bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan orientasi total dalam kehidupan. Seluruh aktivitas manusia harus diarahkan kepada Allah. Dalam konteks ini, hijrah sejatinya adalah perjalanan menuju pemurnian orientasi hidup. Hijrah adalah proses meninggalkan segala bentuk ketergantungan selain pada Allah dan mengarahkan seluruh kehidupan kepada-Nya.

Karena itu, hijrah bukan hanya berpindah dari maksiat menuju ketaatan, tetapi juga berpindah dari orientasi duniawi menuju orientasi ilahiah. Hijrah adalah proses membebaskan diri dari berbagai "tuhan-tuhan kecil" yang selama ini mengendalikan kehidupan manusia.

Seseorang mungkin telah meninggalkan kebiasaan buruk, tetapi masih diperbudak oleh pujian manusia. Ia mungkin rajin beribadah, tetapi masih menjadikan popularitas sebagai tujuan utamanya. Dalam kondisi seperti ini, proses hijrahnya belum sepenuhnya selesai karena tauhidnya masih memerlukan pemurnian.

Ketika membahas hijrah, umat Islam sering kali langsung teringat peristiwa perpindahan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Padahal, hijrah tersebut bukan sekadar perpindahan geografis. Hijrah Nabi adalah revolusi tauhid yang mengubah sejarah manusia.

Masyarakat Arab pra-Islam hidup dalam berbagai bentuk kemusyrikan. Mereka menyembah berhala, mengagungkan kesukuan, menindas kaum lemah, dan menjadikan kekayaan sebagai ukuran kemuliaan. Sistem sosial yang berlaku dibangun di atas fondasi ketidakadilan.

Kehadiran Islam membawa misi tauhid yang mengguncang struktur sosial tersebut. Ketika Rasulullah mengajarkan bahwa hanya Allah yang layak disembah, sesungguhnya beliau sedang menantang seluruh sistem penindasan yang ada.

Tauhid melahirkan kesetaraan manusia. Tidak ada lagi superioritas berdasarkan suku, warna kulit, atau kekayaan. Tauhid juga melahirkan keadilan karena semua manusia berada di bawah otoritas Tuhan yang sama.

Hijrah ke Madinah menjadi momentum penting untuk mewujudkan nilai-nilai tauhid tersebut dalam kehidupan sosial. Di Madinah, Rasulullah membangun masyarakat baru yang berlandaskan keimanan, persaudaraan, keadilan, dan kemaslahatan.

Dengan demikian, hijrah bukan hanya perubahan individu, tetapi juga transformasi sosial. Hijrah yang sejati selalu menghasilkan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Salah satu tantangan terbesar umat Islam saat ini adalah budaya materialisme. Kesuksesan sering diukur berdasarkan kepemilikan materi, jabatan, popularitas, dan simbol-simbol kemewahan. Media sosial semakin memperkuat kecenderungan tersebut. Banyak orang berlomba-lomba menampilkan citra kehidupan yang sempurna. Tidak sedikit yang mengalami tekanan psikologis karena merasa tertinggal dibandingkan dengan orang lain.

Dalam situasi ini, spirit tauhid memiliki relevansi yang sangat besar. Tauhid mengajarkan bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh apa yang dimiliki, melainkan oleh kualitas ketakwaannya. Allah berfirman:

"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini membongkar logika materialisme yang mendominasi masyarakat modern. Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh ukuran ekonomi, melainkan oleh kedekatannya kepada Allah.

Karena itu, hijrah yang bertumpu pada tauhid akan melahirkan pribadi yang tidak mudah diperbudak oleh budaya konsumtif. Ia mampu menggunakan harta tanpa diperbudak olehnya. Ia dapat meraih kesuksesan tanpa kehilangan integritas spiritualnya. Tauhid menjadikan manusia merdeka. Ia tidak hidup untuk mengejar pengakuan manusia, melainkan untuk memperoleh ridha Allah.

Jika dicermati secara mendalam, seluruh perjalanan Muhammadiyah sesungguhnya merupakan manifestasi spirit tauhid. Pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, memulai gerakan ini dari kesadaran yang sangat kuat akan tauhid. Beliau melihat bahwa kemunduran umat Islam bukan hanya disebabkan oleh faktor ekonomi atau politik, tetapi juga oleh melemahnya pemahaman tentang tauhid.

Pada masa itu, berbagai praktik keagamaan bercampur dengan takhayul, bid'ah, dan khurafat. Akibatnya, umat kehilangan daya kritis dan etos kerja. Melalui Muhammadiyah, Kiai Dahlan mengajak umat kembali kepada kemurnian ajaran Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah. Gerakan pemurnian ini tidak bertujuan menciptakan konflik, tetapi membebaskan umat dari berbagai bentuk penghambaan yang tidak sesuai dengan tauhid.

Tauhid dalam Muhammadiyah tidak berhenti pada aspek akidah. Tauhid diterjemahkan menjadi gerakan pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan dakwah kemasyarakatan. Inilah yang membedakan tauhid Muhammadiyah dari pemahaman yang semata-mata bersifat teoritis. Tauhid harus melahirkan amal nyata yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat.

Dalam perspektif Muhammadiyah, seseorang yang benar-benar bertauhid tidak cukup hanya rajin beribadah secara individual. Ia juga harus peduli terhadap persoalan kemiskinan, kebodohan, ketimpangan sosial, serta berbagai masalah kemanusiaan lainnya. Tauhid harus hadir dalam tindakan.

Muhammadiyah memiliki konsep Islam Berkemajuan yang menjadi identitas gerakan. Konsep ini sangat relevan untuk memahami makna hijrah di era modern. Sering kali hijrah dipahami sebagai upaya untuk kembali ke masa lalu. Padahal, Islam tidak mengajarkan romantisme sejarah yang membelenggu masa depan. Islam justru mendorong umatnya untuk terus bergerak maju dengan menjadikan nilai-nilai wahyu sebagai pedoman.

Karena itu, hijrah dalam perspektif Islam Berkemajuan adalah perpindahan menuju kondisi yang lebih baik, lebih produktif, lebih berilmu, lebih berakhlak, dan lebih bermanfaat bagi sesama. Hijrah bukan berarti menjauh dari ilmu pengetahuan. Hijrah juga bukan berarti memusuhi teknologi atau modernitas. Sebaliknya, hijrah harus mendorong umat Islam menjadi pelopor kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban.

Spirit tauhid mengajarkan bahwa seluruh ilmu berasal dari Allah. Karena itu, mengembangkan ilmu pengetahuan merupakan bagian dari ibadah. Dalam konteks ini, mahasiswa yang giat belajar, peneliti yang menghasilkan inovasi, guru yang mencerdaskan bangsa, dokter yang melayani masyarakat, serta pengusaha yang menciptakan lapangan kerja sesungguhnya sedang menjalankan spirit hijrah apabila seluruh aktivitas tersebut dilandasi oleh tauhid.

Di tengah maraknya fenomena hijrah, terdapat beberapa kecenderungan yang perlu dikritisi. Pertama, hijrah yang berorientasi pada simbol semata. Perubahan penampilan memang penting sebagai bagian dari ketaatan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan hijrah.

Kedua, hijrah yang melahirkan sikap eksklusif. Sebagian orang merasa bahwa kelompoknya paling benar sehingga mudah menghakimi pihak lain. Padahal, tauhid sejati melahirkan kerendahan hati karena manusia menyadari keterbatasannya di hadapan Allah.

Ketiga, hijrah yang terjebak dalam komersialisasi agama. Saat ini, simbol-simbol hijrah sering dijadikan komoditas di pasar. Agama berpotensi direduksi menjadi tren konsumsi yang kehilangan substansi spiritualnya.

Keempat, hijrah yang mengabaikan persoalan sosial. Banyak orang bersemangat memperbaiki ibadah individual tetapi kurang peduli terhadap masalah kemiskinan, ketidakadilan, dan penderitaan masyarakat.

Padahal Rasulullah SAW bersabda: 

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad)

Hijrah yang berakar pada tauhid harus menghasilkan manfaat sosial. Jika hijrah hanya berhenti pada perubahan pribadi tanpa memberikan dampak bagi masyarakat, maka ada sesuatu yang perlu dievaluasi.

Salah satu warisan terbesar Muhammadiyah adalah pemahaman terhadap Surah Al-Ma'un. Kiai Ahmad Dahlan menjadikan surah ini sebagai landasan bagi gerakan sosial Muhammadiyah. Dalam Surah Al-Ma'un, Allah mengkritik orang yang rajin beribadah tetapi mengabaikan anak yatim dan kaum miskin. Pesan ini sangat penting untuk memahami hubungan antara tauhid dan hijrah.

Tauhid tidak boleh berhenti di masjid. Tauhid harus hadir di sekolah, rumah sakit, panti asuhan, lembaga zakat, dan berbagai ruang kehidupan sosial. Karena itu, seseorang yang berhijrah seharusnya semakin peduli terhadap persoalan kemanusiaan. Ia tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri, tetapi juga berusaha memberikan manfaat bagi masyarakat.

Semangat Al-Ma'un mengajarkan bahwa tauhid sejati harus melahirkan solidaritas sosial. Tidak ada makna hijrah apabila seseorang semakin dekat kepada Allah tetapi semakin jauh dari penderitaan sesama manusia.

Generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Mereka hidup di era digital yang penuh informasi, distraksi, dan perubahan yang sangat cepat.

Di satu sisi, teknologi membuka peluang besar untuk belajar dan berdakwah. Namun di sisi lain, teknologi juga menghadirkan berbagai godaan yang dapat menjauhkan manusia dari nilai-nilai tauhid. Budaya instan, hedonisme digital, pencarian validasi sosial, serta banjir informasi yang tidak terfilter menjadi tantangan nyata bagi generasi muda Muslim.

Dalam konteks ini, hijrah berbasis tauhid menjadi sangat penting. Tauhid memberikan kompas moral yang membantu generasi muda menentukan arah hidup. Mereka tidak mudah terombang-ambing oleh tren yang terus berubah setiap saat. Mereka memiliki prinsip yang kokoh karena orientasi hidup mereka tertuju kepada Allah.

Muhammadiyah memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan model hijrah yang cerdas, inklusif, dan berkemajuan. Dakwah kepada generasi muda tidak cukup dilakukan hanya dengan pendekatan normatif semata. Dakwah harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi mereka. Hijrah harus dipahami sebagai proses pengembangan diri yang menyeluruh, mencakup aspek spiritual, intelektual, sosial, dan profesional.

Pada akhirnya, spirit tauhid dalam semangat hijrah tidak boleh berhenti pada level individu. Hijrah harus menjadi gerakan peradaban. Sejarah menunjukkan bahwa peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya ketika tauhid menjadi fondasi kehidupan. Tauhid melahirkan etos ilmu, budaya kerja keras, integritas moral, dan kepedulian sosial.

Sebaliknya, ketika tauhid hanya dipahami secara ritualistik dan kehilangan daya transformasinya, umat Islam mengalami stagnasi bahkan kemunduran. Muhammadiyah telah memberikan teladan tentang bagaimana tauhid dapat diterjemahkan menjadi gerakan peradaban. Ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai amal usaha Muhammadiyah merupakan bukti bahwa tauhid dapat diwujudkan dalam karya nyata.

Karena itu, semangat hijrah yang dibutuhkan umat saat ini bukan sekadar perubahan penampilan atau identitas kelompok. Yang dibutuhkan adalah hijrah menuju kualitas keimanan yang lebih dalam, ilmu yang lebih luas, amal yang lebih nyata, dan kontribusi yang lebih besar bagi kemanusiaan.

Hijrah sesungguhnya bukan titik akhir, melainkan perjalanan panjang yang berlangsung sepanjang hayat. Setiap manusia selalu berada dalam proses berhijrah—berpindah dari kebodohan menuju ilmu, dari kelemahan menuju kekuatan, dari egoisme menuju kepedulian, dan dari penghambaan kepada dunia menuju penghambaan kepada Allah semata.

Di sinilah tauhid menjadi ruh dari seluruh perjalanan tersebut. Tauhid menjaga agar hijrah tidak kehilangan arah. Tauhid memastikan bahwa setiap perubahan yang dilakukan manusia bermuara pada pencarian ridha Allah dan kemaslahatan bagi sesama.

Dalam perspektif kemuhammadiyahan, hijrah bukan sekadar agenda personal, melainkan panggilan untuk membangun masyarakat Islam yang berkemajuan. Hijrah yang sejati adalah hijrah yang melahirkan ilmu, amal, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, serta kerja-kerja kemanusiaan yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Maka, ketika gema hijrah semakin terdengar di berbagai ruang kehidupan, pertanyaan yang perlu terus diajukan bukanlah sejauh mana simbol-simbol keagamaan telah berubah, melainkan sejauh mana tauhid telah mengubah cara berpikir, cara bekerja, cara melayani, dan cara menghadirkan manfaat bagi kehidupan.

Sebab pada akhirnya, hijrah yang paling hakiki adalah hijrah menuju Allah. Dan perjalanan menuju Allah selalu dimulai dari peneguhan tauhid, diteruskan dengan amal saleh, serta diwujudkan dalam kerja-kerja peradaban yang mencerahkan umat dan memajukan bangsa.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Kesempatan Berbuat Baik  Oleh: Amalia Irfani, Sekretaris LPP PWM Kalbar  Selalu ada ruan....

Suara Muhammadiyah

3 August 2024

Wawasan

Memaknai Ahlak dalam Pendidikan Oleh Roehan Ustman: Pengasuh PP Ibnul Qoyim Yogyakarta Dalam dunia....

Suara Muhammadiyah

10 February 2026

Wawasan

Catatan Milad IMM ke-62: Titik Temu Aktivisme Profetik Menuju Peradaban Utama Oleh: M. Rizqi Ulin N....

Suara Muhammadiyah

14 March 2026

Wawasan

Ramadhan Bulan Muhasabah Diri: Menakar Ulang Kualitas Puasa Penulis: Prof. Dr. H. Muh. Hizbul Mufli....

Suara Muhammadiyah

13 February 2026

Wawasan

Meningkatkan Kualitas Takwa dengan Menghadirkan Allah Oleh: Wakhidah Noor Agustina, S.Si. Pernahka....

Suara Muhammadiyah

21 February 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah