Anomali Kehidupan Manusia di Tengah Peradaban Modern
Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasihat PRM Troketon, Pedan, Klaten
"Kehidupan di dunia ini mempunyai dua sisi: sebagai sarana untuk taat kepada Tuhan bagi mereka yang bertauhid, dan sebagai sarana untuk menentang perintah-Nya."
Suatu ketika, dalam obrolan ringan pada pertemuan rutin EL-DATA yang digelar di rumah penulis, tiba-tiba seorang peserta berkata:
Seorang rekan:
"Ndan, kok si fulan tadi menyampaikan sesuatu yang pas dengan apa yang sedang saya alami sekarang?"
Penulis:
"Saya tidak pernah bercerita kepada si fulan tentang peristiwa atau masalah keluarga yang sedang jenengan alami."
Penulis melanjutkan:
"Tadi saya hanya menyampaikan pengantar kajian tentang ayat dalam Surah Thaha. Sedangkan si fulan menyampaikan Surah Al-Fajr. Ya, mungkin kebetulan saja sehingga mbah merasa nyambung."
Rekan:
"Oh, ya sudah."
Penulis:
"Allah yang menggerakkan hati, Mbah."
Rekan:
"Betul, Ndan."
Percakapan sederhana semacam itu sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dari obrolan yang tampak biasa tersebut tersimpan pelajaran dan hikmah yang berharga bagi kehidupan.
Ketika mendengar kata anomali, kebanyakan orang akan langsung mengaitkannya dengan fenomena cuaca yang sering disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kita sering mendengar istilah anomali cuaca yang menyebabkan kemarau panjang, perubahan iklim, atau suhu ekstrem. Misalnya, gelombang panas yang melanda sejumlah negara Eropa hingga mencapai lebih dari 41 derajat Celsius dan menimbulkan banyak korban jiwa akibat kondisi cuaca yang tidak biasa.
Secara sederhana, anomali dapat dimaknai sebagai keadaan yang tidak semestinya atau menyimpang dari kondisi normal. Namun, sesungguhnya anomali tidak hanya terjadi dalam cuaca. Dalam kehidupan manusia, anomali dapat muncul di hampir semua lini kehidupan.
Pertama, anomali dalam diri pribadi. Sering kali seseorang tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami penyimpangan dari fitrah dan nilai-nilai yang benar. Ketika seseorang tenggelam dalam kemaksiatan, hatinya dipenuhi kotoran, pikirannya menjadi keruh, dan tindakannya didominasi oleh hawa nafsu, maka sesungguhnya ia sedang mengalami anomali dalam dirinya sendiri.
Kedua, anomali dalam keluarga. Ketika hubungan suami-istri, orang tua, dan anak tidak lagi dibangun di atas nilai-nilai agama, ketenangan rumah tangga akan terganggu. Keluarga kehilangan arah karena tidak lagi menjadikan tuntunan agama sebagai pedoman utama.
Ketiga, anomali dalam kehidupan sosial masyarakat. Masyarakat yang tidak lagi menjadikan norma agama, hukum, dan adat sebagai pegangan akan mudah terjebak dalam perilaku menyimpang secara kolektif. Pelanggaran hukum, ketidakjujuran, dan berbagai bentuk penyimpangan menjadi sesuatu yang dianggap biasa.
Keempat, anomali dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Setelah lebih dari delapan dekade kemerdekaan, bangsa ini masih menghadapi berbagai persoalan mendasar. Tata kelola pemerintahan sering kali lebih melayani kepentingan kelompok tertentu daripada kepentingan rakyat. Akibatnya, rasa keadilan, kepastian hukum, kesejahteraan, dan kemakmuran yang dicita-citakan para pendiri bangsa belum sepenuhnya terwujud.
Kelima, anomali di bidang politik. Politik yang seharusnya menjadi sarana menghadirkan kemaslahatan rakyat sering kali berubah menjadi arena perebutan kekuasaan dan kepentingan kelompok. Nilai-nilai kenegarawanan semakin sulit ditemukan.
Keenam, anomali di bidang ekonomi. Berbagai guncangan ekonomi global maupun domestik memengaruhi kehidupan masyarakat. Ironisnya, di tengah upaya efisiensi dan penghematan, praktik korupsi masih terus terjadi dan menggerogoti kesejahteraan rakyat.
Ketujuh, anomali di bidang sosial dan budaya. Nilai-nilai luhur seperti gotong royong, tepa selira, unggah-ungguh, dan penghormatan kepada sesama mulai mengalami pelunturan. Banyak generasi muda yang semakin jauh dari akar budayanya sendiri.
Kedelapan, anomali di bidang keagamaan. Rumah-rumah ibadah semakin megah dan jumlahnya bertambah, tetapi implementasi nilai-nilai agama dalam kehidupan belum selalu sejalan. Agama terkadang berhenti sebagai simbol dan belum sepenuhnya menjadi laku hidup. Tidak sedikit figur yang dianggap memiliki ilmu agama justru gagal memberi teladan yang baik.
Kesembilan, anomali di bidang pendidikan. Dunia pendidikan masih menghadapi banyak tantangan dalam menghasilkan generasi yang unggul, baik secara akademik maupun nonakademik. Transformasi pendidikan belum sepenuhnya mampu menjawab tuntutan zaman.
Dalam pandangan penulis, untuk membaca berbagai fenomena tersebut, ada dua kata kunci yang penting direnungkan, yaitu "kenapa" dan "ternyata".
Kenapa kehidupan manusia sering kali terasa carut-marut dan jauh dari kebahagiaan sejati?
Ternyata karena banyak aspek kehidupan yang tidak lagi berjalan selaras antara kebutuhan ruhani dan kebutuhan jasmani. Nafsu duniawi sering kali lebih dominan daripada kesadaran spiritual. Dunia yang seharusnya menjadi sarana justru berubah menjadi tujuan utama, sementara akhirat yang seharusnya menjadi tujuan hidup justru terabaikan.
Karena itulah Allah Swt. mengingatkan manusia melalui firman-Nya dalam Surah Al-Hadid ayat 20:
"Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. ... Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya." (QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini memberikan peringatan yang sangat kuat bahwa dunia bukanlah tujuan akhir. Harta, jabatan, popularitas, dan berbagai kenikmatan duniawi dapat menjadi jebakan yang memperdaya manusia jika tidak dikelola dengan kesadaran iman.
Pesan moral dari ayat tersebut sangat relevan sepanjang masa. Kehidupan dunia harus dimanfaatkan sebagai ladang amal, tempat menanam kebaikan, memperbanyak ibadah, dan menjauhi kemaksiatan. Hanya dengan cara itulah manusia akan memperoleh kebahagiaan sejati dan keselamatan di akhirat.
Kita masih memiliki kesempatan untuk melakukan refleksi dan memperbaiki diri, agar tata kelola kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara tidak mengalami anomali di tengah derasnya arus peradaban modern yang sedang berlangsung.

