BANTUL, Suara Muhammadiyah - Persoalan jumlah peserta didik menjadi salah satu tantangan yang dihadapi sebagian sekolah dan madrasah Muhammadiyah. Kondisi tersebut membutuhkan strategi yang tidak hanya berorientasi pada penambahan siswa, tetapi juga menyentuh cara sekolah membangun sistem, jejaring, dan masa depannya.
Gagasan tersebut disampaikan Dr. H. Ridwan Furqoni, S.Pd.I., M.P.I., Kepala MTs Muhammadiyah Kasihan, dalam forum Badan Koordinasi Madrasah (BKM) Muhammadiyah se-DIY yang berlangsung di MTs Muhammadiyah Shifa Bangli Puro, Rabu (2/9/2026).
Menurut Ridwan, sekolah dengan jumlah siswa sedikit perlu dilihat secara objektif berdasarkan kondisi dan potensi masing-masing. Tidak semua sekolah membutuhkan solusi yang sama. Karena itu, ia menawarkan tiga pendekatan strategis yang dapat dipertimbangkan untuk mengembangkan sekolah Muhammadiyah yang sedang menghadapi persoalan minimnya jumlah siswa.
1. Integrasi Sekolah Berjenjang
Pendekatan pertama ditujukan bagi sekolah Muhammadiyah yang berada dalam satu kawasan dengan sekolah pada jenjang sebelumnya, misalnya MTs Muhammadiyah yang berdekatan atau berdampingan dengan SD Muhammadiyah.
Kedekatan geografis tersebut dapat diubah menjadi kekuatan melalui integrasi kelembagaan dan program. Fasilitas tertentu dapat digunakan bersama, termasuk ruang kerja guru maupun sarana pendukung lainnya. Koordinasi pimpinan juga dapat diperkuat sehingga kedua lembaga tidak berjalan sebagai unit yang sepenuhnya terpisah.
Yang lebih penting adalah membangun kesinambungan program pendidikan. Pendidikan enam tahun di SD dan tiga tahun di MTs dapat dirancang sebagai satu perjalanan pendidikan selama sembilan tahun.
Dengan demikian, siswa SD Muhammadiyah yang melanjutkan ke MTs Muhammadiyah dalam satu ekosistem tidak merasa sedang berpindah ke lembaga baru, tetapi seperti melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya dalam lingkungan pendidikan yang sama.
Pendekatan ini membutuhkan peran aktif pimpinan persyarikatan untuk menghubungkan kedua lembaga, sehingga integrasi tidak berhenti pada kedekatan lokasi, tetapi benar-benar terwujud dalam tata kelola dan program pendidikan.
2. Sister School
Jika pendekatan pertama memanfaatkan kedekatan antarlembaga, pendekatan kedua membangun kekuatan melalui jejaring antarsekolah.
Konsep Sister School adalah mempersaudarakan sekolah Muhammadiyah yang sedang bertumbuh dengan sekolah Muhammadiyah yang lebih besar dan memiliki praktik pengelolaan yang telah berkembang.
Kerja sama tidak harus berada dalam satu daerah. Sister School dapat dibangun lintas kabupaten bahkan lintas daerah, sehingga sekolah memiliki kesempatan belajar dari pengalaman yang lebih beragam.
Karena setiap sekolah berada dalam pembinaan Majelis Dikdasmen PDM masing-masing, proses tersebut dapat dimulai melalui silaturahim dan komunikasi antarmajelis Dikdasmen PDM untuk mempertemukan sekolah yang membutuhkan penguatan dengan sekolah yang siap menjadi mitra.
Bentuk kerja samanya dapat diarahkan pada kebutuhan nyata, seperti peningkatan kompetensi guru, manajemen sekolah, pembelajaran, kesiswaan, program unggulan, digitalisasi, pengelolaan sarana, hingga strategi membangun kepercayaan masyarakat.
Ridwan menegaskan bahwa Sister School bukan hubungan antara sekolah besar dan sekolah kecil dalam posisi yang timpang, melainkan persaudaraan untuk saling menguatkan dalam satu keluarga besar pendidikan Muhammadiyah.
Model semacam ini bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Praktik baik Sister School telah berkembang pada beberapa lembaga pendidikan dasar, sementara pola kolaborasi antara lembaga besar dan lembaga yang lebih kecil juga telah dikenal di lingkungan perguruan tinggi.
3. Pendekatan Sekolah Baru
Pendekatan ketiga diperuntukkan bagi sekolah yang jumlah siswanya sudah sangat kecil dan tidak lagi memungkinkan dikembangkan secara optimal dengan pola yang berjalan selama ini.
Dalam kondisi demikian, diperlukan keberanian untuk melakukan pendekatan Sekolah Baru.
Sekolah tidak sekadar memperbaiki program lama, tetapi membangun kembali arah pengembangannya dengan mindset, semangat, visi, cita-cita, dan gagasan yang baru.
Pendekatan ini penting karena semangat baru dapat mengubah cara para pengelola dan pendamping melihat sekolah. Sekolah tidak lagi diposisikan sebagai lembaga yang sedang mengalami kemunduran, tetapi sebagai lembaga yang mendapatkan kesempatan untuk memulai babak baru.
Yang menarik, memulai kembali tidak berarti memulai dari nol. Sekolah yang sudah ada biasanya memiliki sejumlah modal penting, seperti tanah yang luas, bangunan yang kokoh, izin operasional, serta sumber daya manusia yang dapat diberdayakan.
Modal tersebut kemudian menjadi fondasi untuk membangun konsep sekolah yang lebih relevan, program yang lebih menarik, tata kelola yang lebih profesional, serta citra baru yang lebih positif di tengah masyarakat.
Ketiga pendekatan tersebut memiliki karakter yang berbeda.
- Integrasi sekolah berjenjang memanfaatkan kedekatan antarlembaga untuk membangun kesinambungan pendidikan.
- Sister School memanfaatkan kekuatan jejaring untuk mempertemukan sekolah yang sedang bertumbuh dengan sekolah yang memiliki pengalaman lebih maju.
- Sementara Pendekatan Sekolah Baru memberikan kesempatan bagi sekolah yang sudah sangat kecil untuk membangun kembali dirinya dengan energi dan cara berpikir yang baru.
Menurut Ridwan, pilihan pendekatan tentu harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah. Tidak ada satu model yang dapat diterapkan secara seragam untuk semua lembaga.
Namun, ketiganya memiliki satu prinsip yang sama: sekolah Muhammadiyah yang sedang menghadapi tantangan tidak boleh dibiarkan berjalan sendirian.
Diperlukan keterlibatan persyarikatan, kepemimpinan yang kuat, kolaborasi antarlembaga, keberanian berinovasi, dan kesediaan untuk melihat persoalan dengan perspektif baru.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memastikan bahwa sekolah Muhammadiyah, berapa pun jumlah siswanya hari ini, tetap memiliki ruang untuk tumbuh dan masa depan untuk diperjuangkan.
Saling Menguatkan, Maju Bersama
Kegiatan tersebut diikuti oleh para Kepala MTs Muhammadiyah dari berbagai wilayah. Sebanyak 18 madrasah Muhammadiyah se-DIY hadir dalam forum ini. Para peserta datang dari berbagai daerah, termasuk Gunungkidul, Kota Yogyakarta, Bantul, dan wilayah lainnya. Turut hadir pula Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kabupaten Bantul.
BKM diselenggarakan secara rutin sebagai bagian dari upaya menjaga komunikasi, mempererat silaturahim, dan membangun sinergi antarmadrasah Muhammadiyah.
Di tengah berbagai kesibukan dan tantangan pengelolaan madrasah, pertemuan seperti ini menjadi momentum yang sangat berharga bagi para kepala madrasah untuk dapat bertemu, berbincang, berbagi pengalaman, sekaligus saling memberikan semangat.
Suasana kegiatan berlangsung hangat, penuh antusiasme, dan kekeluargaan. Diskusi berkembang secara dinamis dengan berbagai pengalaman dan cerita dari masing-masing madrasah.
Setiap madrasah tentu memiliki karakteristik, potensi, dan tantangan yang berbeda. Namun melalui BKM, berbagai perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan untuk saling belajar.
Madrasah yang telah memiliki pengalaman dan praktik baik dapat berbagi dengan madrasah lainnya. Sementara berbagai tantangan yang dihadapi bersama dapat menjadi bahan refleksi dan pembelajaran untuk menemukan langkah-langkah terbaik.
BKM menjadi salah satu bentuk nyata dari semangat persyarikatan Muhammadiyah dalam membangun pendidikan melalui kebersamaan dan kolaborasi.
Kemajuan sebuah madrasah tidak harus menjadi keberhasilan madrasah itu sendiri, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi madrasah lainnya. Begitu pula ketika sebuah madrasah menghadapi persoalan, forum BKM menjadi ruang untuk mendapatkan dukungan moral, gagasan, dan pengalaman dari sesama madrasah.
Semangat inilah yang menjadikan BKM memiliki arti penting. Para kepala madrasah tidak hanya datang untuk menghadiri agenda organisasi, tetapi juga datang sebagai keluarga besar pendidikan Muhammadiyah yang memiliki cita-cita bersama untuk menghadirkan pendidikan yang semakin baik bagi masyarakat.
Pertemuan rutin BKM juga menjadi momentum untuk menjaga agar komunikasi antarmadrasah tetap terjalin. Dari komunikasi yang baik akan lahir keakraban, dari keakraban tumbuh kepercayaan, dan dari kepercayaan akan lebih mudah dibangun kolaborasi dan gerakan bersama.
Potensi tersebut akan semakin kuat apabila terus dirawat melalui pertemuan, silaturahim, berbagi praktik baik, dan kolaborasi. Karena itu, keberlangsungan BKM sebagai forum rutin menjadi bagian penting dalam menjaga semangat kebersamaan tersebut.
Dari pertemuan di MTs Muhammadiyah Shifa Bangli Puro ini diharapkan para kepala madrasah kembali ke lembaganya masing-masing dengan semangat baru, energi baru, dan keyakinan baru bahwa berbagai tantangan pendidikan dapat dihadapi bersama.

