SUMU: Sang Penggerak Ekonomi UMKM

Suara Muhammadiyah

20 August 2026

132
Istimewa

Istimewa

SUMU: Sang Penggerak Ekonomi UMKM

Oleh: Mukhaer Pakkanna, Wakil Ketua Majelis Ekonomi dan Bisnis (MEB) PP Muhammadiyah

Pada 13 – 18 Agustus 2026, saya membersamai kawan-kawan pengusaha (saudagar) yang bergabung dalam komunitas Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) ke kota Yiwu dan Hangzhou, ibu kota provinsi Zhejiang, China Timur. Ada 52 peserta berpartisipasi aktif dalam business trip tersebut, dengan agenda yang cukup padat dan konkret. Mereka adalah pengusaha autentik, bukan pengusaha karbitan dan juga bukan pengusaha yang memainkan proyek-proyek anggaran negara. Mereka berasal dari pelbagai latar usaha dan daerah, dari Sumatera Utara hingga Papua Barat. 

Mengonfirmasi Sekretaris Jenderal SUMU, Ghufran Mustaqim, SUMU adalah paguyuban yang inklusif, terbuka bagi siapa saja, lintas lantar belakang, yang memiliki visi, misi, dan frekuensi yang sama, membangun kemandirian bangsa. Selain itu, SUMU terbuka bagi yang sudah menjadi pengusaha dan yang belum menjadi pengusaha, untuk membangun jejaring intra dan ekstra dengan berbagai pihak (dalam dan luar negeri). SUMU adalah wahana kawah candradimuka untuk mempersiapkan pengusaha-pengusaha tangguh, mandiri, dan bermarwah.

Mengapa Yiwu?

Perjalanan bisnis 5 (lima) hari ini, SUMU memang dengan sadar memilih sebuah kota sentra produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang sangat popular di aras dunia, dan lokasinya adalah di Yiwu. Kota Yiwu, kota setingkat kabupaten di bawah yurisdiksi kota Jinhua. Jika berkunjung di kota ini, sekitar 158 kilometer dari ibu kota provinsi, Hangzhou, ibu kota di mana Jack Ma memulai debut bisnisnya dengan jenama Alibaba.

Kota ini terkenal sebagai pusat pasar grosir komoditas skala UMKM terbesar. Kerapkali kota ini juga dijuluki "supermarket global", tempat para pedagang internasional mencari pelbagai barang konsumsi ringan.  Memiliki pasar grosir barang-barang manufaktur ringan terbesar di planet ini. 

Sebagai “supermarket global”, di kota ini, tentu akan menemukan Yiwu International Trade City (Pasar Futian) dengan 6 (enam) distrik yang sangat luas. Distrik inilah merupakan jantung ekonomi kota ini. Kompleks pasar grosir jumbo ini mencakup area seluas lebih 6 juta meter persegi dengan lebih 75.000 stan, serta dukungan sistem keuangan dan ekosistem pembayaran cashless (Alipay), pergudangan modern (logistic), dan traffic transportasi yang mudah di akses, sehingga melancarkan aktivitas pengiriman (ekspor) barang.

Di pasar Futian ini, pelbagai barang teretalase. Menyediakan lebih dari 1,8 juta jenis produk komoditas skala kecil dan menengah yang mencakup aksesori, mainan anak, fashion dan kitchen ware, tekstil, peralatan elektronik, perangkat teknologi informasi, dekorasi rumah tangga, komponen otomotif, peralatan pertanian dan perkebunan, dan lainnya. Bahkan, banyak menyuplai kebutuhan jamaah untuk prosesi ibadah haji dan umroh di Arab Saudi.

Alasan lain memilih Yiwu, karena kota ini melakukan lompatan yang luar biasa (quantum leap), menjadi salah satu benchmark kota bisnis dunia. Kemampuan menemukan keunikan yang tidak dimiliki daerah-daerah lain, memiliki comparative advantage. Awalnya, kota ini merupakan daerah pertanian miskin, bahkan melarat. Masyarakat Yiwu memiliki budaya tradisional unik, "menukar gula dengan bulu ayam" (sugar for feathers) sebagai pupuk dan bahan kerajinan.

Kemudian pada 1982, pemerintah daerah (Pemda) berani mengambil risiko besar dengan meresmikan pasar bebas swasta pertama di China modern. Resonansinya adalah, memantik ledakan ekonomi yang mengubah lanskap Yiwu, menjadi salah satu kota terkaya di China.

Acapkali berbeda dari kota wisata biasa. Pendatang dari luar negeri, sebagian besar adalah pebisnis dan importir. Hal ini menciptakan komunitas global yang unik, termasuk keberadaan "Arab Quarter" yang dipenuhi oleh restoran dan toko Timur Tengah. Di tiap sudut, orang dengan mudah menemukan makan-makanan ala Timur Tengah dan Asia Selatan.

Energi perubahan ini paralel dengan spirit revolusi ekonomi yang didendangkan oleh Deng Xiaoping. Dia adalah pemimpin Tiongkok yang mengubah lanskap sistem ekonomi negara itu lewat program reformasi dan keterbukaan (gaige kaifang) pada 1978. Ia membuang aturan komunis yang kaku dan memakai cara pasar bebas. Kebijakan ini membuat Tiongkok bangkit dan tumbuh sangat cepat

Filosofi pragmatisnya yang paling terkenal berbunyi: "Tidak peduli kucing itu hitam atau putih, asalkan bisa menangkap tikus, itu adalah kucing yang baik. Xiaoping tampaknya lebih kepincut mengutamakan hasil nyata (kemakmuran rakyat) daripada perdebatan dogmatis mengenai ideologi Kapitalis versus Komunis

Padahal dasawarsa 1980 dan 1990, produk Tiongkok masih dipicingkan mata oleh penduduk planet ini sabagai produk rendahan. Sarat stigma dan pejoratif. Namun, salah satu strategi jitu pebisnis atau masyarakat mereka, mengenal pola ATM (Amati, Tiru & Modifikasi).  Justru strategi itu, memetik hasilnya hingga saat ini. Strategi itu, paralel dengan dukungan jutaaan anak-anak muda potensial yang dikirim studi ke seantero negara-negara Barat, terutama ke Amerika. Mayoritas mereka studi tentang STEM (sains, teknologi, engineering & mathematic). 

Not but not least, diaspora China juga turut mendukung. Dan, yang paling penting, kebijakan kapitalisme negara (state capitalism) yang sangat kuat dan istiqamah mengawal proses kedaulatan ini. Mata publik dunia pun terbelalak melihat progresifitas ekonomi dan politiknya.  Negara Eropa dan Amerika mulai bertekuk lutut mengamini kemajuan negeri Panda ini. 

Inilah sebuah strategi dan desain  soft diplomacy, diplomasi lunak. Saya pun teringat pada tulisan Sun Tzu yang disusun ribuan tahun lampau dalam karya The Art of War (Seni Menang Tanpa Bertempur), menulis: “Puncak kecemerlangan tertinggi bukanlah memenangkan seratus pertempuran, melainkan menaklukkan musuh tanpa harus berperang”.
 
Empat dekade energi revolusi itu mengalir, dengan sarat suka dan duka. Tidak terelakkan, China mampu berdaulat secara ekonomi, politik, teknologi, pendidikan dan kebudayaan.  Secara ekonomi, negeri Panda ini berdaulat terhadap produk-produknya, terutama yang dibuat oleh UMKM. Negeri Tirai Bambu ini tidak menggelorakan spirit anti-asing, tapi produk asing justru kesulitan masuk dalam pasar domestiknya. 

Sementara produk China, sangat efektif mempenetrasi ke seluruh pasar global. Seluruh penjuru dunia hingga desa-desa terpencil pun, dengan mudah kita menemukan produk-produk China. Strategi produksi massal China, berhasil menciptakan produk dengan harga murah melalui konsep ekonomi skala (economies of scale), di mana biaya per unit barang ditekan serendah mungkin dengan memproduksi jutaan unit sekaligus.

Langkah SUMU

Sebagai praktisi  bisnis, anggota SUMU tentu tidak akan terlibat dalam perdebatan ideologis tentang nasionalisme ekonomi. Bagi mereka, bagaimana SUMU melahirkan pengusaha-pengusaha handal dan bermarwah serta berkontribusi bagi kemandirian dan kedaulatan bangsa. SUMU tampaknya tersemangati oleh semboyan dalam persyarikatan Muhammadiyah: "Sedikit Bicara, Banyak Bekerja".  Ini merupakan etos kerja fundamental yang mendasari gerakan amal nyata persyarikatan sejak masa awal berdirinya. Filosofi ini menekankan pentingnya menghadirkan solusi konkret dan karya nyata (amal usaha) bagi masyarakat daripada sekadar berwacana di ruang publik.

Saya pun teringat pada khotbah William Lonsdale Watkinson pada September 1907. Warkinson adalah pendeta asal Inggris, menyampaikan khotbah berjudul The Supreme Conquest and Other Sermons Preached in America. Salah satu kutipannya adalah, "Jauh lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan" (It is far better to light the candle than to curse the darkness). 

Saya kira bagi SUMU, Islam selalu mendorong umatnya untuk aktif berbuat kebaikan, membawa solusi, dan melakukan perubahan nyata daripada sekadar mengeluh, mencela keadaan, atau membuang waktu meratapi masalah.  Ungkapan "lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan" bermakna, SUMU akan selalu melakukan tindakan nyata yang positif atau memberi solusi jauh lebih baik daripada sekadar mengeluh, marah, atau menyalahkan keadaan saat menghadapi masalah.

Maka, tatakala saya membersamai peserta SUMU, semboyan "sedikit bicara, banyak bekerja" dan ungkapan “lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan” terasa kental dalam business trip ini. Mereka dengan cekatan melakukan negosisi dan membangun jejaring dengan pengusaha-pengusaha lokal China, bahkan berinteraksi dengan pengusaha-pengusaha dari Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan, yang lebih awal membangun jejaring bisnis.

Saya pun teringat, Rasulullah itu adalah pebisnis ulung. Lebih separoh sejarah hidupnya sebagai pengusaha. Dalam berbisnis, Rasulullah bukan berbisnis berbasiskan pada modal uang, tapi dimulai dari magang (internship) pada pamannya. Abu Thalib, paman Rasulullah menempanya pada usia 12 – 17 tahun. Menyerap banyak ilmu dan pengalaman. Kemudian, pada usia 18 tahun, Rasulullah sudah mandiri dalam mengelola usahanya. Sejak usia itu,  Rasulullah menjadi business owner dan investment manager. Dalam goresan sejarah, banyak pemilik modal di Mekkah yang percaya (trust) pada Rasulullah, dan itu menjadi modal sosial yang terpenting.

Saya juga teringat pada pesan imperatif, bahwa bisnis merupakan jalan memperoleh keberkahan dan menuju sorga. Riwayat Rasulullah SAW; “Sembilan persepuluh dari sumber riski itu dari berdagang”. Malah dinukilkan “Pedagang yang jujur dan amanah (akan ditempatkan) di sorga beserta para nabi, shidiqin dan para syuhada”(HR. Tt-Tirmidzi). 

Bagi persyarikatan Muhammadiyah, sebagai induk SUMU, teringat dalam goresan sejarah bahwa pada periode awal pergerakan, Muhammadiyah selalu diinisiasi oleh kaum pengusaha. Mereka ini berfungsi ganda, selain sebagai juru dakwah, juga sebagai pedagang dalam mensyiarkan Islam di mana mereka berkunjung. Periode awal, para pengusaha Muhammadiyah sukses membangun kemandirian organisasinya. Figur Kiai Dahlan sebagai tokoh sentral dan merupakan prototype pengusaha autentik, sejati, kerap berdagang di pelbagai kota. 

Bahkan, Kiai Dahlan selalu mengajarkan murid-muridnya untuk menjadi orang yang mandiri secara ekonomi. Hasilnya, cukup mencengangkan. Pada 1916, kaum pengusaha yang menjadi anggota persyarikatan Muhammadiyah, tercatat dalam sejarah mencapai hampir tiga perempatnya dari total anggota Muhammadiyah.

Bagi SUMU, harus membangun prinsip bahwa untuk memandirikan ekonomi bangsa, SUMU harus menjadi prime changer  Memberi solusi, menebar cahaya. SUMU tidak semata menjadi marketing dari juragan produk bangsa-bangsa lain. Strategi jitu, ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi) harus diresapi. Bangsa ini sudah sangat lelah menjadi jongos bangsa-bangsa asing.
Wallahu a'lam.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Puasa Ramadhan Momentum Merawat Hati dan Menata Pikiran Oleh: Dwi Kurniadi/Kader IMM Pondok Shabran....

Suara Muhammadiyah

10 March 2025

Wawasan

Demokrasi dan Tirani Mayoritas Oleh: Suko Wahyudi, Pegiat Literasi Tinggal di Yogyakarta  Dem....

Suara Muhammadiyah

25 September 2025

Wawasan

Urgensi Penerapan K3 di Pondok Pesantren Oleh: Tito Yuwono, Dosen Jurusan Teknik Elektro-Unive....

Suara Muhammadiyah

13 May 2026

Wawasan

Ikhtiar Awal Menuju Keluarga Sakinah (6) Oleh: Mohammad Fakhrudin dan Iyus Herdiana Saputra Pada I....

Suara Muhammadiyah

12 October 2023

Wawasan

Antara Takdir dan Kelalaian: Cara Kita Menyikapi Tragedi Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua PRM Legoso....

Suara Muhammadiyah

29 October 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah