Tantangan Heterogenitas di Muhammadiyah
Oleh: Gus Zuhron
Muhammadiyah adalah rumah besar untuk semua. Pernyataan ini tidak ada yang salah selama ditafsirkan dengan benar. Di tengah masyarakat yang beragam, baik dari sisi suku, agama, ras, bahasa, pilihan politik, selera beragama dan seterusnya. Rasanya mustahil bagi Muhammadiyah untuk memilih jalan homoginitas.
Fakta heteroginitas tidak dapat diabaikan. Sebuah potensi yang sangat besar jika dapat dikelola dengan benar. Tetapi berlaku pula sebaliknya, gagal dalam merajut keragaman akan mendatangkan petaka yang tidak terduga.
Sudah jamak dipahami, orang-orang yang memilih menjadi bagian dari Muhammadiyah memiliki latar belakang yang bermacam-macam. Dari sisi organisasi, ada yang berasal dari Ortom, HMI, KAMMI, PII dan organisasi lain. Dari sudut politik banyak dijumpai darah politik yang beragam masuk ke dalam tubuh Muhammadiyah (PAN, PDIP, PKS, Gelora, Nasdem, PSI, Golkar, Gerindra, dll).
Dalam sudut paham keagamaan, tidak sedikit yang genre pemahamannya berbeda (Salafi, Jama’ah Tabligh, Tarbiyah, HTI dll) dan tetap berusaha menjadi bagian dari Muhammadiyah.
Keberadaan mereka tidak salah, selama tidak melakukan empat jenis perilaku yang dapat merusak Muhammadiyah.
Pertama, mengabaikan proses kaderisasi di tubuh internal Muhammadiyah. Tidak sedikit tokoh yang masuk pada jajaran pimpinan tanpa memiliki latar belakang perkaderan yang jelas. Mereka tidak memahami filosofi dan pikiran-pikiran resmi Muhammadiyah.
Perkaderan seperti Darul Arqam, Baitul Arqam, Ideopolitor, dan pendidikan kader lainnya diabaikan. Merasa sudah tua, sudah pintar, lebih berpengalaman, menguasai banyak hal, duitnya banyak, berpengaruh di masyarakat dan setumpuk alasan lain yang menjadikan orang-orang ini merasa tidak perlu mengikuti proses perkaderan.
Kedua, diam-diam menjadi benalu. Setelah eksis dan menjadi bagian dari Muhammadiyah, bukannya sadar untuk berjuang dan membesarkan persyarikatan, justru yang terjadi adalah mencoba mengisi rumah baru dengan cita rasa lama.
Romansa organisasi lama yang dulu pernah membentuk dirinya terus menjadi ruh utama dalam bergerak. Muhammadiyah hanya dijadikan kendaraan untuk mencapai eksistensi tertentu. Tidak sedikit kelompok ini membentuk koloni (HMI+HMI, PII+PII, Salafi+ Salafi, PKS+PKS dll) untuk menguasai asset milik persyarikatan. Kepentingan mereka jelas, meraup keuntungan dengan jalan pintas tanpa mau bekerja keras.
Ketiga, menganaktirikan Ortom. Ungkapan yang sering terucap adalah “orang yang dikader lama di Muhammadiyah belum tentu menjadi Muhammadiyah”. Pernyataan ini biasanya muncul disaat mereka menjumpai ada satu atau dua orang yang dianggap telah melewati jenjang perkaderan ideal namun perilakunya tidak sesuai harapan.
Pernyataan ini jelas tidak dapat digunakan untuk mengeneralisir semua proses perkaderan. Apalagi sampai menganaktirikan mereka yang telah dikader lewat jalur Ortom. Karena persentase keberhasilan kaderisasi Ortom jauh lebih besar.
Kalau ada kader yang ingin eksis dalam Amal Usaha Muhammadiyah mestinya diberikan ruang terbuka dan jalan yang seluas-luasnya. Bukan malah dihalangi dan disingkirkan dengan berbagai argumentasi yang dipaksakan.
Keempat, tidak taat dengan keputusan organisasi dan memilih menjalankan organisasi dengan seleranya sendiri.
Perilaku upnormal semacam ini lambat laun akan merusak. Kebenaran diukur dengan apa yang ada dalam pikiran dan egonya. Padahal watak Muhammadiyah jauh dari semua itu. Kebenaran dalam Muhammadiyah ditentukan oleh Dalil, Argumentasi, Musyawarah dan Keputusan Pimpinan. Bukan melekat pada selera individu.
Persyarikatan tidak pernah melarang apapun latar belakang seseorang untuk bergabung dengan Muhammadiyah. Tetapi, setelah menjadi bagian di dalamnya, sebaiknya tinggalkan baju lama dan kenakan baju baru yang nyaman dan indah. Kalau masih memaksakan diri mengenakan baju lama, sebaiknya mereka perlu disterilkan. Jika perlu tuangkan segelas racun agar para benalu segera tersungkur di kubangan sampah.
Gus Zuhron, Sekretaris MPKSDI PWM Jateng

