Tanwir 2026 di Palu, Muhammadiyah Akan Bahas Program Strategis 25 Tahun ke Depan

Suara Muhammadiyah

12 September 2026

309
Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah yang diluncurkan oleh Prof Dr Haedar Nashir, MSi. Foto: Abyan

Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah yang diluncurkan oleh Prof Dr Haedar Nashir, MSi. Foto: Abyan

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Bulan November 2026 mendatang, Muhammadiyah akan melangsungkan Tanwir dan Milad ke-114 di Palu, Sulawesi Tengah dengan mengusung tema “Bersama Satukan Bangsa.” Demikian disampaikan Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

“Kita pilih Palu karena setelah dari Kupang, kita ingin memberi support kepada masyarakat Palu setelah dulu mengalami musibah besar gempa, di samping Muhammadiyah juga terus membuat amal usaha di sana,” ujar Haedar di sela-sela peluncuran logo Tanwir dan Milad ke-114 di Kantor PP Muhammadiyah, Cik Ditiro, Kota Yogyakarta, Sabtu (12/9).

Menggarisbawahi konteks Tanwir di situ, kata Haedar sebagai persidangan tertinggi di bawah Muktamar. “Ini Tanwir terakhir menjelang nanti Muktamar di bulan November juga tahun 2027 di Medan,” sebutnya. Apa yang di bahas dalam Tanwir tersebut?

“Dan dalam Tanwir besok itu, kita akan membahas program-program Muhammadiyah 25 tahun ke depan,” katanya.

Menurut Haedar, sejak tahun 2000, Muhammadiyah memiliki program strategis yang dirancang dalam jangka 5-25 tahun. Kenapa mengambil program itu? Banyak hal yang mendasarinya, tetapi yang mengerucut karena hidup dalam kontinuitas yang terus berdinamika.

“Dan kita belajar dari pengalaman bahwa misalkan pendidikan. Pendidikan itu tidak mungkin terpotong-potong setiap pergantian pemerintahan. Harus ada sesuatu yang strategis ke depan, biarpun pergantian pemerintahan,” katanya. “Dia harus menjadi aksi pembangunan,” menambahkan.

Sisi lain, tema yang di usung itu, sebut Haedar, secara normatif dan juga realitas empirik, Indonesia punya modal dasar untuk terus bersatu dalam keragaman. Namun, kenyataannya, sebutnya, selalu ada dinamika dalam kehidupan kebangsaan.

“Dari di kondisi itu sering terjadi perbedaan pandangan yang tajam. Yang tajam yang mestinya kita bisa berdialog, kita bisa mencari titik temu, mencari moderasi,” tekan Haedar.

Dalam konteks politik pun demikian. Kendati tidak ada oposisi, kenyataannya di lapangan menunjukkan, kontroversi politik selalu terjadi. Juga menyangkut soal ekonomi, menjadi masalah kompleks saat ini.

“Maka kita ingin lewat Tanwir ini membawa pesan untuk bangsa bahwa modal sosial bersatu kita itu tidak cukup dengan hal-hal yang given atau sudah tersedia, tetapi itu perlu didinamisasi dalam menghadapi berbagai dinamika perbedaan,” bebernya.

Di situlah berlaku fungsi kepemimpinan, mesti terejawantah tersistem dari tingkat pusat sampai bawah, baik di pemerintahan maupun di organisasi kemasyarakatan. Supaya apa? “Konsepsi menyatukan bangsa di tengah keragaman itu menjadi platform bersama, bukan pikiran sendiri-sendiri,” tegas Haedar. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SURABAYA, Suara Muhammadiyah - Dalam semangat membangun generasi yang tangguh dan peduli, Lembaga Ke....

Suara Muhammadiyah

5 June 2025

Berita

SINJAI, Suara Muhammadiyah – Titik mula sejarah peradaban manusia dibangun oleh orang-ora....

Suara Muhammadiyah

25 September 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Pusat Muhammadiyah melakukan penandatanganan kesepak....

Suara Muhammadiyah

12 August 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - 20 peserta perwakilan lintas iman dari berbagai wilayah di Indonesia, ....

Suara Muhammadiyah

4 October 2023

Berita

METRO, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Metro meng....

Suara Muhammadiyah

6 October 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah