Tapak Suci dan Empat Jalan Pengabdiannya
Oleh: Yudha Kurniawan (Ketua Pimda 02 Tapak Suci Bantul, bekerja di BPMP DIY)
Tapak Suci, bagi sebagian besar orang mungkin langsung terbayang bentangan gelanggang pencak silat, pertandingan, medali, atau pesilat-pesilat tangguh yang berlaga di berbagai kejuaraan. Persepsi itu memang tidak salah, meski terlalu sempit.
Betul bahwa sepanjang puluhan tahun sepak terjangnya, Tapak Suci menjelma menjadi salah satu kekuatan utama pencak silat Indonesia. Bahkan Tapak Suci adalah penyumbang terbesar atlet dalam berbagai ajang nasional maupun internasional.
Akan tetapi, menjelang Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Semarang, ada pertanyaan yang menarik untuk dikupas. Benarkah Tapak Suci hanya sebuah perguruan olahraga bela diri?
Dengan menelusuri sejarah dan perjalanan perguruan ini, jawabannya jelas tidak.
Tapak Suci sesungguhnya salah satu karya besar Muhammadiyah yang memadukan olahraga, dakwah, pendidikan kader, dan pengabdian sosial dalam satu gerakan yang utuh. Maka posisi strategis Tapak Suci tidak dapat diukur sekedar dari jumlah medali yang diraih atau banyaknya pesilat yang dimiliki.
Setidaknya ada empat peran besar Tapak Suci, sehingga memiliki arti penting bagi Muhammadiyah, umat, dan bangsa.
Peran sebagai organisasi otonom Muhammadiyah
Sejak ditetapkan sebagai organisasi otonom Muhammadiyah pada tahun 1967, Tapak Suci tampil sebagai instrumen perkaderan Persyarikatan yang khas. Jalur yang ditempuh bukan pengajian, sekolah, atau aktivitas sosial, melainkan pencak silat.
Melalui gelanggang latihan, Tapak Suci membuka pintu yang luas bagi masyarakat untuk mengenal Muhammadiyah. Bahkan dalam banyak kasus, seseorang mengenal Muhammadiyah justru melalui latihan Tapak Suci sebelum mengenal amal usaha atau sayap Muhammadiyah lainnya.
Keistimewaan ini membuat Tapak Suci memiliki ceruk kaderisasi yang sangat luas. Anak-anak dari berbagai latar belakang keluarga, pendidikan, budaya, bahkan pandangan sosial dapat bertemu dalam satu gelanggang yang sama.
Dari sanalah proses pembinaan dimulai. Tapak Suci menjadi salah satu "pintu masuk" Muhammadiyah yang paling terbuka dan paling mudah diterima masyarakat.
Peran sebagai pelaku dakwah kultural
Barangkali inilah salah satu warisan pemikiran paling cemerlang dari Pendekar Besar Muhammad Barie Irsjad. Tapak Suci tidak menggunakan pendekatan dakwah yang bersifat formal dan verbal semata. Dakwah dilakukan melalui seni bela diri tradisional yang dekat dengan budaya masyarakat Indonesia.
Melalui pendekatan ini, Tapak Suci menghadirkan pencak silat yang melestarikan tradisi bangsa, namun telah dibersihkan dari praktik-praktik yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sejak awal berdirinya, Tapak Suci menawarkan konsep pencak silat yang rasional, metodis, dan selaras dengan tauhid. Langkah ini menjadi salah satu kontribusi penting Tapak Suci dalam perkembangan dunia persilatan Indonesia.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Tapak Suci telah menjadi salah satu wajah dakwah kultural Muhammadiyah yang paling berhasil. Di berbagai negara, kehadiran Tapak Suci bahkan sering mendahului berdirinya PCIM atau struktur Muhammadiyah yang lain. Perguruan ini menjadi jembatan pengenalan nilai-nilai Islam berkemajuan kepada masyarakat internasional.
Peran ketiga sebagai lembaga pendidikan karakter dan kader
Di sinilah sesungguhnya letak keunikan Tapak Suci. Tujuan akhir pendidikan Tapak Suci bukan hanya menghasilkan juara dan jawara, melainkan membentuk manusia yang beriman, berakhlak, dan tentu berprestasi.
Perguruan ini menjalankan dua kurikulum sekaligus. Pertama adalah pembinaan ragawi melalui pencak silat. Kedua adalah pembinaan ruhani melalui Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.
Keduanya harus berjalan seimbang. Karena itu motto yang terus digaungkan adalah, "Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat, tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah."
Di lingkungan Tapak Suci, prestasi tidak pernah dipisahkan dari akhlak. Medali memang membanggakan, tetapi akhlak tetap menjadi ukuran tertinggi keberhasilan pendidikan anggota. Sebab pesilat yang hebat belum tentu menjadi kader yang baik, tetapi kader yang baik akan selalu berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungannya.
Karena itulah Tapak Suci sesungguhnya salah satu "pabrik kader" Muhammadiyah yang sangat strategis. Melalui proses pendidikan yang panjang dan berjenjang, perguruan ini menyiapkan kader-kader yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga matang secara ideologi dan moral.
Peran keempat sebagai kekuatan pengabdian umat dan bangsa
Sejarah mencatat bahwa Tapak Suci lahir pada masa yang penuh gejolak. Dalam berbagai situasi sulit yang dihadapi umat dan bangsa, perguruan ini pernah mengambil peran sebagai bagian dari kekuatan yang menjaga keamanan, ketertiban, dan kepentingan umat.
Namun makna pengabdian itu sesungguhnya jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan bela diri. Pendekar Besar Muhammad Barie Irsjad sejak awal membayangkan adanya KOSEGU sebagai korps yang memiliki beragam kompetensi untuk membantu kebutuhan umat dan masyarakat.
Gagasan ini menunjukkan bahwa kekuatan seorang pesilat tidak hanya diukur dari kemampuannya bertarung, tetapi juga dari kemampuannya memberi manfaat bagi sesama.
Di tengah tantangan zaman modern, semangat itu semakin relevan. Bangsa ini membutuhkan kader-kader yang siap hadir dalam misi kemanusiaan, penanggulangan bencana, pelayanan sosial, pendidikan masyarakat, hingga penguatan ketahanan bangsa. Tapak Suci memiliki modal besar untuk memainkan peran tersebut.
Karena itu Muktamar XVI sesungguhnya menjadi momentum yang sangat penting. Bukan hanya untuk memilih pemimpin baru atau menyusun program kerja lima tahunan, melainkan untuk menegaskan kembali posisi strategis Tapak Suci di tengah perubahan zaman.
Apakah Tapak Suci akan tetap dikenal hanya sebagai perguruan yang melahirkan juara-juara pencak silat? Ataukah ia akan semakin meneguhkan dirinya sebagai organisasi kader, pelaku dakwah kultural, duta budaya Indonesia, sekaligus kekuatan pengabdian umat dan bangsa?
Jawabannya akan sangat ditentukan oleh arah yang dirumuskan dalam Muktamar XVI.
Yang jelas, sejak pertama kali didirikan oleh Muhammad Barie Irsjad pada tahun 1963, Tapak Suci tidak pernah dimaksudkan sekadar menjadi tempat orang belajar berkelahi. Perguruan ini dibangun untuk menjadi alat perjuangan. Sebuah gerakan yang memadukan kekuatan fisik, kejernihan akal, keluhuran akhlak, dan semangat pengabdian.
Itulah sebabnya, menjelang Muktamar XVI, penting untuk kembali mengingat bahwa gelanggang Tapak Suci sesungguhnya jauh lebih luas daripada sekedar matras pencak silat.

