Tapak Suci, dari Gelanggang Menjadi Penggerak Persyarikatan

Suara Muhammadiyah

27 June 2026

167
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Tapak Suci, dari Gelanggang Menjadi Penggerak Persyarikatan

"Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah." Pesan KH Ahmad Dahlan itu tidak pernah kehilangan relevansinya. Kalimat sederhana tersebut mengandung amanat bahwa setiap unsur di dalam Persyarikatan harus menjadi penggerak, bukan sekadar penikmat gerakan.

Pesan itulah yang menurut saya perlu terus dihidupkan dalam seluruh organisasi otonom Muhammadiyah, termasuk Tapak Suci Putera Muhammadiyah.

Di tengah berbagai prestasi olahraga yang membanggakan, Tapak Suci tidak boleh kehilangan orientasi sebagai organisasi kader. Perguruan ini memang mengajarkan pencak silat, tetapi tujuan akhirnya bukan semata-mata melahirkan pesilat yang kuat. 

Lebih dari itu, Tapak Suci diproyeksikan menjadi wahana membentuk kader Muhammadiyah yang beriman, berakhlak, berprestasi, dan siap mengabdikan dirinya bagi umat, bangsa, dan Persyarikatan.

Karena itu, ketika Sarasehan Organisasi Otonom Muhammadiyah Bantul, Sabtu (27/6/26) di Bukit Lintang sewu Dlingo, mengangkat tema "Ortom sebagai Penggerak Persyarikatan", saya memandang Tapak Suci memiliki posisi strategis.

Tapak Suci adalah gelanggang kaderisasi

Secara rutin, sekian banyak anak-anak dan remaja datang ke tempat latihan. Mereka mungkin datang karena tertarik belajar pencak silat. Namun sesungguhnya mereka sedang memasuki salah satu pintu kaderisasi Muhammadiyah. 

Di dalam latihan, mereka tidak hanya belajar teknik bela diri, tetapi juga disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, keberanian, sportivitas, persaudaraan, dan nilai-nilai Islam berkemajuan. Inilah keistimewaan Tapak Suci dibanding banyak organisasi olahraga lainnya. Gelanggang latihan adalah ruang pendidikan karakter.

Di sinilah anggota belajar menghormati guru, mencintai ilmu, mengendalikan emosi, bekerja sama, dan mengutamakan akhlak bukan sekedar kemampuan fisik. Filosofi "Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat, tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah" bukan sekadar semboyan, melainkan ruh pendidikan Tapak Suci.

Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah, Tapak Suci juga memiliki kekuatan yang tidak dimiliki banyak ortom lainnya, yaitu dakwah kultural.

Pendiri Tapak Suci, Pendekar Besar Muhammad Barie Irsjad, telah menunjukkan bahwa pencak silat dapat menjadi media dakwah yang efektif. Seni bela diri dipadukan dengan nilai-nilai tauhid sehingga melahirkan tradisi pencak silat yang rasional, bersih dari praktik syirik, dan tetap menghargai budaya bangsa. 

Melalui pendekatan budaya inilah, Tapak Suci mampu menjangkau masyarakat yang mungkin tidak pernah sekalipun mengenal Muhammadiyah melalui sekolah atau pengajian.

Peluang dan tantangan dalam konteks Bantul

Bantul memiliki tradisi pencak silat yang hidup di tengah masyarakat. Tapak Suci dapat menjadi wajah Muhammadiyah yang ramah, membumi, sekaligus berprestasi. Setiap latihan, kejuaraan, bakti sosial, maupun kegiatan kader adalah ruang dakwah yang memperkenalkan nilai-nilai Persyarikatan kepada masyarakat luas.

Namun menjadi penggerak Persyarikatan tidak cukup hanya dengan semangat. Gerakan memerlukan sistem yang kuat. 

Di sinilah saya melihat salah satu pekerjaan rumah besar Tapak Suci Bantul.

Hingga hari ini, Tapak Suci Bantul belum memiliki padepokan tingkat daerah yang representatif sebagai pusat pembinaan. Akibatnya, proses latihan prestasi, pendidikan kader, pelatihan pelatih, hingga konsolidasi organisasi masih tersebar di berbagai tempat. Kondisi ini tentu menyulitkan pembinaan yang berkelanjutan dan terstandar.

Padahal, sebuah padepokan bukan sekadar bangunan fisik.

Padepokan adalah pusat peradaban perguruan. Di sanalah kader ditempa, prestasi dibangun, tradisi dipelihara, ilmu dikembangkan, dan identitas organisasi diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bagi Tapak Suci Bantul, kehadiran padepokan daerah bukan hanya kebutuhan organisasi, tetapi juga investasi jangka panjang bagi Muhammadiyah. Semakin kuat pembinaan Tapak Suci, semakin besar pula kontribusinya terhadap kaderisasi Persyarikatan.

Saya membayangkan suatu hari nanti Bantul memiliki padepokan yang hidup hampir setiap hari. Anak-anak berlatih pencak silat, kader mengikuti pengajian, pelatih meningkatkan kompetensi, atlet ditempa menuju kejuaraan, sementara masyarakat memanfaatkan fasilitas itu sebagai ruang silaturahmi dan pembinaan generasi muda. 

Padepokan semacam itu akan menjadi pusat lahirnya kader-kader Muhammadiyah yang tangguh secara fisik, matang secara intelektual, dan kokoh secara spiritual.

Membangun budaya gerakan

Tapak Suci Bantul harus terus mendorong anggotanya aktif di berbagai amal usaha Muhammadiyah, mengambil peran di ranting dan cabang, terlibat dalam kegiatan sosial, menjadi relawan kemanusiaan, berprestasi di bidang olahraga, aktif menulis, memanfaatkan media sebagai sarana dakwah, hingga menjadi teladan di lingkungan profesinya masing-masing.

Di situlah makna sesungguhnya menjadi penggerak Persyarikatan. Tapak Suci tidak boleh berhenti sebagai organisasi yang hanya sibuk melatih tendangan dan pukulan. 

Perguruan ini harus menjadi mesin kader Muhammadiyah yang terus bergerak menghasilkan manusia-manusia yang siap melanjutkan perjuangan Persyarikatan di berbagai bidang kehidupan.

Maka ukuran keberhasilan Tapak Suci tidak hanya terletak pada banyaknya medali yang dibawa pulang dari arena pertandingan. Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak kader yang lahir dari gelanggang Tapak Suci kemudian menjadi guru, dosen, dokter, pengusaha, birokrat, ulama, aktivis, relawan kemanusiaan, penggerak ranting, pimpinan Muhammadiyah, maupun tokoh masyarakat yang tetap membawa semangat Persyarikatan dalam pengabdiannya.

Jika itu yang mampu diwujudkan, maka Tapak Suci tidak hanya menjadi organisasi otonom Muhammadiyah. Namun benar-benar menjadi penggerak, pelangsung, pelopor, dan penyempurna gerakan Persyarikatan sebagaimana cita-cita besar Muhammadiyah sejak awal berdirinya.

Yudha Kurniawan (Ketua Pimda 02 Tapak Suci Bantul, bekerja di BPMP DIY)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Sjafruddin Prawiranegara dan Motif Ekonomi yang Tidak Manusiawi  Oleh: Buya Anwar Abbas Setia....

Suara Muhammadiyah

30 April 2026

Wawasan

Resesi dalam Kehidupan Dalam kehidupan di dunia ini tidaklah semulus jalan tol dan secepat pesawat,....

Suara Muhammadiyah

20 October 2023

Wawasan

Umar Melarang Anaknya Dicalonkan Jadi Khalifah Oleh: Abdul Hafiz, Wakil Ketua PWM Bengkulu “....

Suara Muhammadiyah

13 February 2024

Wawasan

Ramadhan sebagai  Sekolah Prososial Oleh: Gufron Amirullah, Dosen Uhamka/ Tenaga Ahli Wak....

Suara Muhammadiyah

27 March 2025

Wawasan

Oleh: Drh H Baskoro Tri Caroko. PP Muhammadiyah, LPCRPM Bidang Pemberdayaan Ekonomi Seni Dan Budaya.....

Suara Muhammadiyah

6 November 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah