Tauhid Murni sebagai Akar Kokoh Gerakan Muhammadiyah
Pesan Mas Kiai Abdul Mu’ti - Penutupan Pengkajian Ramadan 2026
Ditulis oleh: Ahsan Jamet Hamidi – Wakil Sekretaris LPCRPM PP Muhammadiyah
Mas Kiai Abdul Mu’ti memulai pesan dalam kegiatan penutupan Pengkajian Ramadan di UMT (Universitas Muhammadiyah Tangerang) Tahun 2026 dengan mengulas tema tauhid murni dan menjelaskan secara singkat Surah Ibrahim ayat 24–26.
Surah Ibrahim ayat 24–26
Ayat 24:
اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ
"Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,"
Ayat 25:
تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍۢ بِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ
"Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat."
Ayat 26:
وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيْثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيْثَةٍ ۨاجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْاَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ
"Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun."
Ayat ini dimulai dengan perintah agar manusia melakukan refleksi dengan menerapkan cara berpikir tingkat tinggi, yakni memahami penegasan bahwa apa yang akan disampaikan merupakan sesuatu yang sangat penting untuk dipahami dan diterapkan sebaik-baiknya.
Tidakkah kamu berpikir dengan sungguh-sungguh bagaimana Allah membuat perumpamaan secara tegas agar kamu dapat memahaminya? Perumpamaan itu adalah perumpamaan tentang kalimah thayyibah. Menurut Ibnu Katsir, kalimat tersebut adalah “la ilaha illallah”. Itulah tauhid yang murni.
Tauhid murni juga diibaratkan sebagai pohon yang indah: akarnya kokoh, cabang dan rantingnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya setiap saat atas izin Tuhannya. Allah memberikan perumpamaan seperti itu agar manusia senantiasa mengingat dan mengambil pelajaran.
Sebaliknya, kalimat yang kotor diibaratkan seperti pohon yang buruk, tidak memiliki akar yang kuat, dan mudah tumbang.
Jika dikaitkan dengan kalimat tauhid dan akidah Islam yang murni, orang yang memiliki tauhid murni akan berpendirian kokoh, tidak mudah goyah, serta memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Inilah ideologi Muhammadiyah. Organisasi Muhammadiyah kuat dan kokoh karena memiliki manhaj. Memilih menjadi Muhammadiyah adalah pilihan yang sengaja dilakukan di tengah banyaknya organisasi dengan ideologi yang berbeda-beda. Sebagian orang menyebut ideologi atau manhaj tersebut sebagai “Muhammadiyahisme”, yakni sebutan bagi cara berpikir dan gerakan Muhammadiyah.
Muhammadiyah akan kokoh apabila manhajnya kokoh. Manhaj yang terlembaga dan terstruktur itu diibaratkan seperti akar, cabang, dan ranting yang menjulang ke langit. Seluruh strukturnya harus hidup dan berjalan dengan baik. Jika hanya akarnya yang hidup tanpa cabang dan ranting, ia tidak akan berkembang. Sebaliknya, jika cabang dan rantingnya saja yang hidup, tetapi akarnya tidak kuat, maka tetap akan tumbang.
Jika tidak memiliki fondasi yang kokoh, maka ketika kita mendirikan AUM (Amal Usaha Muhammadiyah), hal itu hanya akan menjadi gerakan sosial semata. Padahal, Muhammadiyah didirikan sebagai gerakan Islam. Akidah yang kokoh menjadikan seluruh aktivitas kita bernilai ibadah. Itulah yang dilakukan oleh para penggerak di tingkat cabang dan ranting. Dengan kultur dan struktur organisasi Muhammadiyah yang kuat itulah, Muhammadiyah dapat bertahan hingga berusia 113 tahun.
Muhammadiyah harus mendatangkan manfaat dan maslahat serta memberikan dampak nyata bagi umat. Jika hanya indah bagi dirinya sendiri dan tidak berdampak pada perbaikan serta kemajuan bangsa dan umat, maka itu belum mencerminkan Muhammadiyah. Dalam beramal, Muhammadiyah diibaratkan seperti pohon yang berbuah dan seperti matahari yang menerangi. Amal Muhammadiyah diperuntukkan bagi semua. Sebagaimana dijelaskan dalam buku Islam dan Dakwah: Aktualisasi Misi Kerahmatan, AUM tidak hanya menjadi kegiatan bisnis semata, tetapi merupakan amal usaha sebagai bagian dari aktualisasi iman dan amal saleh serta objektifikasi iman dan amal saleh.
Amal saleh memiliki empat dimensi. Pertama, ikhlas, yakni beribadah semata-mata karena Allah. Kedua, kaifiah atau tata caranya harus benar dan dilakukan secara profesional. Muhammadiyah sering dikritik dalam hal ini. Bagaimana tidak, jika yang dibutuhkan adalah dokter, tetapi yang melamar justru bukan dokter? Ketiga, amal tersebut harus membawa maslahat dan manfaat bagi perbaikan kehidupan bersama. Keempat, amal usaha harus terus mengalami peningkatan dan menghadirkan inovasi, tidak berjalan di tempat.
Di dalam Muhammadiyah harus ada tajdid atau pembaruan. Jika kehadiran Muhammadiyah sudah tidak relevan, tidak lagi mampu menjawab kebutuhan masyarakat, dan tidak lagi memberikan solusi, maka Muhammadiyah akan ditinggalkan. Oleh karena itu, aktualisasinya harus seperti pohon yang rindang dan bermanfaat bagi banyak orang.
Makna Thayyib
Lafaz thayyib dapat dikaitkan dengan makanan, sebagaimana ungkapan “halalan thayyiban”. Halalan thayyiban berkaitan dengan pemenuhan makanan yang halal dan baik, termasuk dalam konteks pemenuhan gizi agar mampu melahirkan masyarakat yang kebutuhan pangannya tercukupi.
Kata thayyibah juga dikaitkan dengan “dzurriyyatan thayyibah”, yakni keturunan yang baik, berakhlak mulia, berprestasi, dan memiliki berbagai capaian yang membanggakan. Kalimah thayyibah merupakan ikhtiar untuk membangun sumber daya manusia yang thayyib.
Dakwah dan amal usaha Muhammadiyah dibangun untuk mengantarkan para pengikutnya ke pintu gerbang surga serta menjadikan negeri ini sebagai negara yang makmur dan penuh ampunan. Namun, mengantarkan ke pintunya saja belum berarti telah memasukinya.
Akhirat adalah tempat tinggal yang indah dan nyaman yang di dalam Al-Qur’an sering disebut sebagai “masakina thayyibah”. Untuk memperoleh kehidupan yang indah, tidak harus tinggal di Pondok Indah, karena hidup akan terasa indah apabila hati kita telah merasakan ketenangan dan sakinah, yakni penuh kedamaian. Tauhid murni harus mampu menjamin umat untuk meraih masakina thayyibah, yaitu kehidupan yang baik dan penuh ketenteraman.
Thayyibah juga terkait dengan angin yang membawa kabar gembira. Di dalam Al-Qur’an, angin sering dikaitkan dengan datangnya hujan. Jika udara berembus sepoi-sepoi, itu menjadi pertanda turunnya hujan. Hujan diibaratkan sebagai keberkahan yang menumbuhkan tanaman dan buah-buahan, yang kemudian menjadi rezeki bagi manusia. Kalimah thayyibah memiliki berbagai wujud dan manifestasi. Itulah yang hendak diwujudkan oleh Muhammadiyah di semua sektor dan bidang. Hal tersebut menjadi manhaj dan ideologi yang membuat Muhammadiyah tegak berdiri.
Tadi telah dijelaskan oleh Pak Muhajir tentang filantropi. Filantropi menjadi DNA Muhammadiyah, sebagaimana ditulis oleh Kiai Syuja’ dalam bukunya Muhammadiyah dan Pendirinya. Sejak masa awal berdirinya, Muhammadiyah telah menjadi gerakan filantropi, yaitu gerakan yang senantiasa memberikan sebagian harta yang dicintai kepada orang-orang yang membutuhkan dan berhak menerimanya. Karena itu, di Muhammadiyah sering ada iuran. Meskipun jumlahnya sedikit, jika dilakukan oleh banyak orang, hasilnya akan menjadi besar.
Ada praktik baik yang dilakukan oleh maskapai Etihad. Saat penerbangan, pramugara seniornya membawa celengan dan mendatangi para penumpang. Sebelumnya diputar video yang menggambarkan upaya Etihad dalam membantu warga miskin di berbagai negara. Ditampilkan pula slogan, “Your change can make change”, yang bermakna bahwa uang receh Anda dapat membawa perubahan.
Andaikan setiap orang hanya menyumbang Rp1.000 per hari, jumlah itu tampak kecil. Namun, jika dilakukan oleh banyak orang, hasilnya akan besar. Jika anggota Muhammadiyah berjumlah 30 juta orang dan setiap orang membayar Rp10.000, maka hasilnya mencapai Rp300 miliar. Nominal Rp10.000 itu setara dengan harga empat biji bakwan. Akan tetapi, jika dikumpulkan secara rutin, dampaknya akan luar biasa.
Berinfak tidak perlu dalam jumlah besar; yang penting rutin. Untuk berderma, tidak harus menunggu kaya raya. Pada hakikatnya, orang kaya bukanlah yang memiliki harta ratusan miliar, melainkan orang yang merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Maskapai Etihad telah memberikan contoh baik bahwa uang receh dapat menimbulkan perubahan.
Artinya, banyak perubahan besar terjadi karena langkah-langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus. Itulah yang membuat Muhammadiyah tetap hidup. Muhammadiyah menjadi kuat karena konsistensinya. Tauhid murni adalah tauhid yang diikuti dengan sikap istiqamah dan konsisten. Tauhid murni adalah peneguhan terhadap manhaj sehingga organisasi ini dapat berkembang dan memberikan manfaat.

