Tidak Perlu Terburu-buru, Alon-alon Waton Kelakon

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
119
Prof Dr Abdul Mu'ti, MEd

Prof Dr Abdul Mu'ti, MEd

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pada esensinya, puasa sebagai ibadatu tarbawiyah (ibadah pendidikan). Artinya, puasa itu mendidik manusia agar bertakwa (madrasatun littaqwa).

“Sebagai ibadah pendidikan, maka puasa itu adalah ibadah yang di dalamnya kita ini dilatih oleh Allah untuk menjadi orang yang bisa menahan diri,” ujar Abdul Mu’ti.

Kata menahan diri di sini digarisbawahi Mu’ti merujuk pada konteks kesabaran. Demikian hadis Nabi mengemukakan. “Puasa adalah setengah dari kesabaran.” (HR Ibnu Majah No 1745).

“Sehingga karena itu maka, sebagian ulama ada yang berpendapat esensi dari berpuasa itu adalah sabar itu sendiri,” jelas Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Selasa (24/2) di TvMu Channel dalam program Jendela Ramadhan.

Dilanjutkan Mu’ti, esensi kesabaran di sini bukan kesabaran dalam bentuk pasif, melainkan dalam bentuk reflektif. “Sehingga sabar dan sadar,” tekan Mu’ti, yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah tersebut.

Jika dikontekstualisasikan dengan karakteristik manusia bertakwa, yakni punya kesabaran. Menurutnya, ada empat aspek mencakup kesabaran.

Pertama, tidak terburu-buru. Sebuah ungkapan Jawa menyebutkan, ‘Alon-alon waton kelakon.’ “Tidak tergesa-gesa (the state of not being hasty),” jelas Mu’ti.

Kedua, menerima apa pun yang terjadi terhadap diri sendiri. Lebih-lebih dalam menghadapi ratapan cobaan dan musibah.

Ketiga, melihat ke dalam diri. Memang, kehidupan itu tidak dapat dipungkiri banyak kejadian yang terjadi.

“Bukan karena perbuatan kita, tapi karena orang lain yang melakukan. Tapi bisa sesuatu terjadi karena kita yang berbuat. Sering disebut sebagai konsekuensi atau akibat dari suatu perbuatan yang kita lakukan,” jelasnya.

Dan, yang terakhir, keempat, merancang menjadi lebih baik lagi di tengah pelbagai keadaan yang terjadi.

“Mudah-mudahan dengan berpuasa, kita menjadi orang yang bisa bersabar, bisa memiliki kesempatan dan waktu untuk merefleksi diri, menerima apa pun keadaan yang terjadi pada kita dengan penuh tanda syukur. Karena apa pun yang menimpa kita itulah yang terbaik dari Allah,” tandasnya. (Cris)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

GORONTALO, Suara Muhammadiyah – Provinsi Gorontalo kembali mencatat sejarah penting dalam perg....

Suara Muhammadiyah

5 September 2025

Berita

LAMPUNG, Suara Muhammadiyah – Muhammadiyah Lampung menginisiasi Kick Off Sigerpreneur & Sa....

Suara Muhammadiyah

9 September 2025

Berita

DENPASAR, Suara Muhammadiyah – Pesantren Mualaf berupa Kajian Intensif Al Islam untuk Mualaf (....

Suara Muhammadiyah

20 March 2025

Berita

PURWOREJO, Suara Muhammadiyah - Kepala Sekolah Dasar Kepemimpinan Umat dan Bangsa (SDKUB) Muham....

Suara Muhammadiyah

10 September 2024

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Babakan sebagai ranting terbaru di....

Suara Muhammadiyah

26 February 2025