Tidak Perlu Terburu-buru, Alon-alon Waton Kelakon

Suara Muhammadiyah

24 February 2026

805
Prof Dr Abdul Mu'ti, MEd

Prof Dr Abdul Mu'ti, MEd

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pada esensinya, puasa sebagai ibadatu tarbawiyah (ibadah pendidikan). Artinya, puasa itu mendidik manusia agar bertakwa (madrasatun littaqwa).

“Sebagai ibadah pendidikan, maka puasa itu adalah ibadah yang di dalamnya kita ini dilatih oleh Allah untuk menjadi orang yang bisa menahan diri,” ujar Abdul Mu’ti.

Kata menahan diri di sini digarisbawahi Mu’ti merujuk pada konteks kesabaran. Demikian hadis Nabi mengemukakan. “Puasa adalah setengah dari kesabaran.” (HR Ibnu Majah No 1745).

“Sehingga karena itu maka, sebagian ulama ada yang berpendapat esensi dari berpuasa itu adalah sabar itu sendiri,” jelas Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Selasa (24/2) di TvMu Channel dalam program Jendela Ramadhan.

Dilanjutkan Mu’ti, esensi kesabaran di sini bukan kesabaran dalam bentuk pasif, melainkan dalam bentuk reflektif. “Sehingga sabar dan sadar,” tekan Mu’ti, yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah tersebut.

Jika dikontekstualisasikan dengan karakteristik manusia bertakwa, yakni punya kesabaran. Menurutnya, ada empat aspek mencakup kesabaran.

Pertama, tidak terburu-buru. Sebuah ungkapan Jawa menyebutkan, ‘Alon-alon waton kelakon.’ “Tidak tergesa-gesa (the state of not being hasty),” jelas Mu’ti.

Kedua, menerima apa pun yang terjadi terhadap diri sendiri. Lebih-lebih dalam menghadapi ratapan cobaan dan musibah.

Ketiga, melihat ke dalam diri. Memang, kehidupan itu tidak dapat dipungkiri banyak kejadian yang terjadi.

“Bukan karena perbuatan kita, tapi karena orang lain yang melakukan. Tapi bisa sesuatu terjadi karena kita yang berbuat. Sering disebut sebagai konsekuensi atau akibat dari suatu perbuatan yang kita lakukan,” jelasnya.

Dan, yang terakhir, keempat, merancang menjadi lebih baik lagi di tengah pelbagai keadaan yang terjadi.

“Mudah-mudahan dengan berpuasa, kita menjadi orang yang bisa bersabar, bisa memiliki kesempatan dan waktu untuk merefleksi diri, menerima apa pun keadaan yang terjadi pada kita dengan penuh tanda syukur. Karena apa pun yang menimpa kita itulah yang terbaik dari Allah,” tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi meliris logo dan tema Milad....

Suara Muhammadiyah

1 October 2025

Berita

Prodi Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Univeritas Muhammadiyah Prof.....

Suara Muhammadiyah

30 July 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Jetis terus menunjukkan konsiste....

Suara Muhammadiyah

30 June 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PW....

Suara Muhammadiyah

7 July 2024

Berita

KUDUS, Suara Muhammadiyah — Pesantren Muhammadiyah Kudus kembali menunjukkan komitmennya dalam....

Suara Muhammadiyah

9 July 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah