TLM D4 UMP Pelopori Pelatihan Bahasa Isyarat bagi Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medis, Siapkan Tenaga Kesehatan Inklusif Masa Depan
PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah – Program Studi Teknologi Laboratorium Medis (TLM) D4 Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi pendidikan kesehatan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Melalui kerja sama dengan komunitas Batir Isyarat Banjoemas, TLM D4 UMP menyelenggarakan Pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) bagi mahasiswa sebagai bagian dari implementasi mata kuliah wajib Komunikasi.
Kegiatan yang mengusung tema “Mewujudkan Mahasiswa TLM D4 UMP sebagai Tenaga Kesehatan Masa Depan yang Inklusif dalam Pelayanan Kesehatan” ini menjadi langkah strategis dalam membekali mahasiswa dengan kemampuan komunikasi yang efektif kepada pasien berkebutuhan khusus, khususnya teman tuli.
Ketua Program Studi TLM D4 UMP, Retno Sulistiyowati, menyampaikan bahwa pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh kompetensi teknis tenaga kesehatan, tetapi juga kemampuan berkomunikasi dengan seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
“Melalui pelatihan ini, kami ingin menumbuhkan kesadaran dan keterampilan mahasiswa dalam berkomunikasi dengan teman tuli sebagai bagian dari upaya menciptakan pelayanan kesehatan yang inklusif. Setiap pasien memiliki hak yang sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang nyaman, aman, dan mudah diakses,” ungkapnya.
Dalam dunia pelayanan kesehatan, komunikasi menjadi aspek fundamental yang menentukan keberhasilan proses pemeriksaan, diagnosis, hingga edukasi pasien. Namun demikian, hambatan komunikasi masih menjadi tantangan bagi kelompok disabilitas, termasuk penyandang tuli. Kondisi inilah yang mendorong TLM D4 UMP untuk menghadirkan pelatihan bahasa isyarat sebagai bekal kompetensi tambahan bagi mahasiswa.
Dosen pengampu mata kuliah Komunikasi, Fuad Minan Zuhri, menjelaskan bahwa kegiatan ini lahir dari kesadaran bahwa tenaga Teknologi Laboratorium Medis akan berhadapan dengan pasien dari berbagai latar belakang dan kondisi.
“Kami menyadari bahwa sebagai calon tenaga Teknologi Laboratorium Medis, mahasiswa akan bertemu dengan pasien dari berbagai latar belakang, termasuk teman tuli. Oleh karena itu, Program Studi TLM D4 UMP menghadirkan pelatihan bahasa isyarat sebagai bekal agar mahasiswa mampu memberikan pelayanan kesehatan yang lebih inklusif, profesional, dan berorientasi pada kebutuhan pasien,” jelasnya.
Lebih lanjut, Fuad menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi salah satu inovasi pembelajaran yang masih sangat jarang diterapkan pada pendidikan Teknologi Laboratorium Medis di Indonesia.
“Sepengetahuan kami, pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia yang terintegrasi dalam pembelajaran Program Studi Teknologi Laboratorium Medis masih sangat jarang dilakukan, bahkan berpotensi menjadi salah satu yang pertama di Indonesia. Ini merupakan bentuk komitmen TLM D4 UMP dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam kompetensi laboratorium, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi inklusif yang dibutuhkan di masa depan,” tambahnya.
Pelatihan menghadirkan narasumber dari Batir Isyarat Banjoemas, Aulia Fikra Ayu Laraswati, S.Ds., yang memberikan materi mengenai budaya tuli, etika berinteraksi dengan komunitas tuli, serta praktik langsung penggunaan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dalam situasi pelayanan kesehatan.
Aulia mengapresiasi langkah progresif yang dilakukan oleh Program Studi TLM D4 UMP dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif bagi mahasiswa kesehatan.
“Saya sangat mengapresiasi Program Studi TLM UMP dan berterima kasih karena telah memberikan kesempatan belajar Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) kepada mahasiswa TLM UMP bersama teman-teman tuli. Harapannya, Prodi TLM UMP dapat melahirkan tenaga kesehatan yang mampu berbahasa isyarat sehingga dapat berkomunikasi dengan pasien tuli di masa depan,” ujarnya.
Selama pelatihan berlangsung, mahasiswa tampak antusias mengikuti setiap sesi, mulai dari pengenalan alfabet isyarat, kosakata dasar pelayanan kesehatan, hingga simulasi komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien tuli. Suasana interaktif yang terbangun tidak hanya memberikan pengalaman belajar yang bermakna, tetapi juga meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai pentingnya pelayanan kesehatan yang setara dan aksesibel.
Salah satu peserta, Azka Azaliyyah, mengaku memperoleh wawasan baru yang sangat berharga melalui kegiatan tersebut.
“Menurut saya, pelatihan bahasa isyarat yang telah dilaksanakan memberikan pengalaman dan wawasan baru. Dengan pelatihan ini, mahasiswa menjadi lebih memahami pentingnya komunikasi dengan teman-teman tuli. Harapannya, kegiatan seperti ini dapat terus diadakan agar semakin banyak mahasiswa yang memiliki kesadaran serta keterampilan dalam menciptakan lingkungan yang ramah dan aksesibel bagi semua kalangan,” tuturnya.
Pelatihan bahasa isyarat ini menjadi bukti nyata bahwa TLM D4 UMP tidak hanya berfokus pada penguasaan teknologi dan keterampilan laboratorium medis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan pelayanan yang berkeadilan. Kompetensi tersebut menjadi modal penting bagi lulusan untuk menghadapi tantangan dunia kesehatan yang semakin kompleks dan beragam.
Sebagai salah satu program studi kesehatan yang terus berkembang, Program Studi Teknologi Laboratorium Medis D4 UMP berkomitmen menghadirkan pembelajaran inovatif yang selaras dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan pelayanan kesehatan modern. Melalui berbagai program unggulan, termasuk pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO), TLM D4 UMP terus mempersiapkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik dan profesional, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang inklusif bagi seluruh masyarakat.
“Karena pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak hanya mampu mendengar hasil pemeriksaan, tetapi juga mampu memahami setiap pasien yang dilayani.”

