Tragedi Berdarah atau Pesan Syukur? Menakar Ulang Tafsir Kisah Kuda Nabi Sulaiman

Publish

5 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
69
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Tragedi Berdarah atau Pesan Syukur? Menakar Ulang Tafsir Kisah Kuda Nabi Sulaiman

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Dalam diskursus tafsir klasik, sering kali kita menemukan kisah-kisah dramatis yang sepintas terdengar heroik, namun jika ditelisik lebih dalam, justru mencederai maksumnya (terjaganya) seorang nabi. Salah satu kisah yang paling sering disalahpahami adalah narasi mengenai Nabi Sulaiman AS dan kuda-kuda kesayangannya. Selama berabad-abad, sebuah mitos berkembang di tengah sebagian umat: Nabi Sulaiman dikabarkan begitu terlena memamerkan dan mengagumi kuda-kuda perangnya hingga melewatkan ibadah salat Asar. Lalu, dalam puncak penyesalan yang emosional dan penuh amarah, beliau menyembelih ratusan kuda tak berdosa tersebut sebagai bentuk penebusan dosa.

Namun, benarkah Al-Qur'an menceritakan tragedi berdarah sekadar karena kelalaian waktu ibadah? Ataukah teks suci tersebut sebenarnya sedang mengabadikan potret keindahan dari sebuah rasa syukur yang tulus?

Tulisan ini ingin membedah kekeliruan interpretasi ini dengan pendekatan linguistik dan logika tekstual. Mari kita urai mengapa narasi "pembantaian kuda" ini adalah sebuah miskonsepsi besar, dan bagaimana Al-Qur'an sebenarnya sedang menyajikan cerita yang sangat berbeda.

Untuk memahami duduk perkaranya, kita harus kembali ke akar teksnya, yaitu Al-Qur'an Surah Sad (38) ayat 30 hingga 33. Konteks rangkaian ayat ini dimulai dengan penegasan dari Allah SWT mengenai anugerah-Nya kepada Nabi Dawud AS: "Dan kepada Dawud, Kami karuniakan Sulaiman; dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)."

Ayat ini adalah batu pijakan yang krusial. Allah mendefinisikan Sulaiman sebagai Awwab—sosok yang berulang kali kembali, bertaubat, dan selalu berorientasi kepada Tuhannya. Karakter dasar ini menjadi modal utama kita untuk menolak segala spekulasi bahwa beliau bisa dengan mudah terdistraksi dari mengingat Allah.

Kisah kemudian berlanjut pada momen di suatu sore: "(Ingatlah) ketika pada suatu sore dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang jinak yang amat cepat jalannya, maka dia berkata, 'Sesungguhnya aku menyukai kesenangan pada kebaikan (kuda) demi mengingat Tuhanku.' Sampai ketika kuda-kuda itu tersembunyi dari pandangan..."

Di sinilah titik awal imajinasi para mufasir klasik mulai bercabang ke arah yang ekstrem. Mengapa sebuah apresiasi terhadap aset militer dan keindahan satwa bisa berubah menjadi narasi pembantaian dalam buku-buku tafsir? Setidaknya ada tiga kekeliruan fatal dalam logika penafsiran tersebut.

1. Kekeliruan Linguistik: Menukar Kuda dengan Matahari

Kesalahan pertama terjadi pada interpretasi kalimat: "Hingga mereka terhalang oleh hijab (pandangan)."

Dalam teks Arab asli, ayat ini tidak menyebutkan subjeknya secara eksplisit, melainkan hanya menggunakan dhamir al-mustatir (kata ganti tersembunyi) berbentuk feminin tunggal (muannats mufrad). Dalam kaidah tata bahasa Arab, kata ganti feminin tunggal ini bisa merujuk pada dua hal dalam konteks ini: hewan dalam jumlah jamak (yaitu kuda-kuda yang sedang berlari menjauh) dan matahari (asy-syams), yang secara gramatikal bergenre feminin.

Para mufasir yang terjebak pada mitos "salat yang terlewat" memilih opsi kedua. Mereka berasumsi bahwa yang terhalang dari pandangan adalah matahari (alias matahari sudah terbenam).

Namun, ada cacat logika yang sangat mencolok di ayat berikutnya. Ketika Sulaiman berkata, "Ruddūhā 'alayya" (Bawalah mereka kembali kepadaku), kata ganti yang digunakan masih sama. Jika pada ayat sebelumnya yang dimaksud "tenggelam" adalah matahari, maka di ayat ini Nabi Sulaiman secara tidak logis meminta matahari yang sudah tenggelam untuk terbit kembali! Tentu saja ini adalah permintaan yang mustahil dan tidak masuk akal bagi seorang nabi. Maka, pilihan interpretasi yang jauh lebih konsisten dan selamat adalah: Nabi Sulaiman meminta kuda-kuda yang sudah berlari jauh ke cakrawala agar dibawa kembali ke hadapannya.

2. Anakronisme Ibadah: Menyamakan Skenario Zaman Nabi Sulaiman dengan Zaman Kita

Kekeliruan kedua adalah asumsi ruang dan waktu. Para penafsir sering kali memproyeksikan batasan dan regulasi syariat Islam zaman Nabi Muhammad SAW ke masa Nabi Sulaiman AS.

Di zaman kita, waktu salat Asar—terutama di musim dingin—memang sangat pendek. Sedikit saja kita terlena oleh pekerjaan atau hobi, waktu Maghrib akan tiba dan kita melewatkan Asar. Namun, apakah Nabi Sulaiman memiliki batasan waktu salat yang persis sama dengan umat Muhammad? Tidak ada bukti tekstual yang sahih mengenai hal itu. Membayangkan seorang nabi agung "keasyikan bermain" sampai melupakan kewajiban ritualnya adalah bentuk simplifikasi yang tidak adil terhadap makam kenabian.

3. Kekeliruan Semantik: Dari "Mengusap" Menjadi "Menyembelih"

Ini adalah distorsi narasi yang paling ekstrem. Di akhir ayat, Al-Qur'an menyatakan bahwa ketika kuda-kuda itu kembali, Nabi Sulaiman melakukan "Mas-han bis-sūqi wal-a'nāq".

Kata masah dalam bahasa Arab berarti mengusap, menyeka, atau membelai lembut. Dari akar kata ini pula lahir kata masaha (mengurapi dengan minyak) dan mashiach (Mesias/yang diurapi) dalam tradisi Semitik, sebuah ritual penghormatan tinggi bagi para raja dan hakim Israel kuno saat pelantikan.

Secara harfiah dan logis, ayat ini menggambarkan Nabi Sulaiman yang sedang membelai leher dan kaki kuda-kudanya dengan penuh kasih sayang. Tindakan ini sangat dipahami oleh siapa pun yang pernah merawat kuda: mengusap searah rambut, memeriksa kondisi fisik kaki dan leher mereka setelah berlari kencang. Ini adalah momen kedekatan antara seorang pemimpin, hewan tunggangannya, dan rasa syukur kepada Penciptanya.

Namun, entah bagaimana, sebagian mufasir mengartikan kata "mengusap" ini menggunakan metafora yang mengerikan: mengusap dengan pedang. Mereka mengklaim Nabi Sulaiman menebas leher dan menyayat kaki-kaki kuda tersebut.

Ada analogi yang tajam untuk membongkar keanehan ini: Jika seorang peternak ingin menyembelih hewan secara legal dan berperikemanusiaan (baik dalam syariat Yahudi maupun Islam), mereka akan memotong urat lehernya dengan rapi. Mengapa harus menyayat paha atau kakinya juga? Tindakan menyayat kaki hewan sama sekali tidak memiliki nilai ritual maupun praktis; itu adalah tindakan vandalisme emosional—seperti seseorang yang mengamuk lalu menusuk ban mobilnya sendiri. Seorang nabi Allah tidak mungkin melakukan tindakan destruktif dan kejam terhadap hewan tanpa alasan yang dibenarkan.

Ketika kita membersihkan ayat ini dari infiltrasi cerita-cerita Israiliyat yang tidak berdasar, kita akan menemukan sebuah pesan yang sangat indah dan relevan bagi kehidupan modern kita.

Al-Qur'an sebenarnya sedang menunjukkan kepada kita sebuah contoh ideal tentang bagaimana seorang manusia menyikapi kekayaan materi dan hobi. Nabi Sulaiman tidak sedang mengamuk; beliau justru sedang mendemonstrasikan spiritualitas tingkat tinggi. Ketika melihat kuda-kuda perang yang gagah dan cepat itu, beliau tidak menjadi sombong. Beliau justru berkata: "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan pada kebaikan (kuda) ini demi mengingat Tuhanku."

Kalimat ini adalah kunci utamanya. Nabi Sulaiman mengajarkan bahwa menikmati keindahan dunia—baik itu kendaraan yang bagus, rumah yang nyaman, hewan peliharaan, atau hobi—bukanlah hal yang tabu atau dosa, asalkan kesenangan tersebut justru mengantarkan kita untuk semakin mengingat dan bersyukur kepada Allah. Kuda-kuda itu bukan pengalih perhatian (distraksi) dari Tuhan, melainkan jembatan (wasilah) untuk mengagumi keagungan Tuhan.

Naskah Al-Qur'an bersifat mulia dan bersih dari visualisasi kemarahan yang destruktif. Cerita tentang Nabi Sulaiman yang menyembelih kuda-kudanya karena melewatkan salat adalah hasil dari imajinasi mufasir yang terjebak pada ambiguitas tata bahasa dan interpretasi yang dipaksakan.

Kita perlu menelaah potret Nabi Sulaiman yang jauh lebih anggun: seorang hamba yang saleh, yang berdiri di sore hari di bawah langit senja, mengagumi karunia berupa kuda-kuda yang berlari cepat, memanggil mereka kembali dengan lembut, lalu mengusap leher dan kaki mereka dengan penuh kasih sayang seraya melafalkan pujian kepada Allah SWT.

Ini adalah sebuah validasi bahwa kita boleh, bahkan dianjurkan, untuk menikmati hal-hal baik dalam hidup ini, merawatnya dengan penuh tanggung jawab, dan menjadikan setiap jengkal berkah tersebut sebagai sarana untuk mengetuk pintu rida-Nya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Dartim Ibnu Rushd  Bulan ramadhan telah datang di tengah-tengah kita. Di bulan ramadhan ....

Suara Muhammadiyah

23 March 2024

Wawasan

KHGT: Lompatan Muhammadiyah dalam Wilayah Ijtihadiyah Aqliyah Penulis: Akhmad Faozan, Ketua Pimpina....

Suara Muhammadiyah

21 February 2026

Wawasan

Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Setelah hijrah ke Madinah dan membang....

Suara Muhammadiyah

23 September 2024

Wawasan

Mendefinisikan Ulang Pertumbuhan Ekonomi: Integrasi Pemikiran Seyyed Hossein Nasr Oleh: Dani Yanuar....

Suara Muhammadiyah

28 May 2026

Wawasan

Membaca Manazil Bulan dalam QS Yunus Ayat 5 Oleh: Rusydi Umar, Dosen S2 Informatika UAD, Anggota MP....

Suara Muhammadiyah

1 June 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah