Apakah Bangsa ini Masih Memiliki Nurani?

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
740
Dokumen pribadi

Dokumen pribadi

Apakah Bangsa Ini Masih Memiliki Nurani?

Oleh: Amrizal

Tahun boleh berganti, tetapi pertanyaan paling mendasar bangsa ini tak pernah benar-benar berubah: ke mana sebenarnya kita sedang melangkah? Di tengah angka pertumbuhan ekonomi dan parade kebijakan pembangunan, terselip kegelisahan yang sulit disangkal bahwa kemajuan kerap berlari lebih cepat daripada kebijaksanaan.

Refleksi akhir tahun ini terasa lebih menyesakkan saat kita menoleh ke arah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana alam yang melanda saudara-saudara kita di sana bukan sekadar ujian alam, melainkan cermin retak yang memperlihatkan betapa rapuhnya nurani kolektif kita sebagai bangsa.

Jerit di Tengah Labirin Birokrasi

Di saat warga Aceh bergelut dengan banjir, Sumatera Utara dihantam longsor, dan Sumatera Barat diterjang galodo, kita menyaksikan drama klasik yang memilukan: lambatnya respons pemerintah dan ribetnya prosedur birokrasi. Kita harus mengkritik keras paradigma "prosedur di atas nyawa". Sangat tidak etis ketika bantuan logistik tertahan di gudang hanya karena urusan administrasi yang belum tuntas, atau alat berat yang tak kunjung dikerahkan karena menunggu surat keputusan (SK) tanggap darurat yang berbelit. Pemerintah seringkali terjebak dalam patologi birokrasi: lebih sibuk dengan laporan di atas kertas daripada realitas di lapangan.

Negara tidak boleh membiarkan rakyatnya "mati" karena menunggu antrean stempel. Birokrasi dalam kebencanaan seharusnya bersifat agile (lincah) dan taktis, bukan lamban dan kaku. Pemimpin nasional dan daerah harus berani memotong kompas birokrasi yang menghambat, karena dalam situasi darurat, setiap detik keterlambatan adalah bentuk pengabaian terhadap hak hidup warga negara.

Buya Syafii Maarif berulang kali mengingatkan bahwa bangsa ini kekurangan keberanian moral. Kritikan ini tertuju tajam bagi para tokoh nasional: Jangan sampai bencana hanya dijadikan komoditas politik atau panggung pencitraan. Kepemimpinan itu diuji pada kecepatan tangan menolong, bukan pada ketangkasan mulut berjanji.

KH. Ahmad Dahlan telah meletakkan fondasi: "Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah." Wasiat ini adalah tamparan bagi siapa saja yang menggunakan organisasi atau jabatan publik untuk kepentingan diri. Sementara itu, KH. AR Fachruddin (Pak AR) dengan kesahajaannya yang legendaris selalu menekankan bahwa "Muhammadiyah itu bukan milik pengurus, tapi milik umat." Beliau mengajarkan bahwa pemimpin harus hadir dengan wajah yang mencerahkan, bukan wajah birokrat yang menjauhkan diri dari rakyat.

Muhammadiyah: Bukti Nyata Kemanusiaan

Di tengah kelambanan birokrasi negara, Muhammadiyah melalui MDMC dan Lazismu hadir sebagai oase. Di Aceh, Sumut, dan Sumbar, relawan Muhammadiyah membuktikan bahwa kerja kemanusiaan tidak perlu menunggu instruksi yang bertele-tele. Mereka bergerak atas panggilan iman dan kemanusiaan—membangun huntara, dapur umum, hingga layanan kesehatan.

Namun, seperti diingatkan oleh Prof. Dr. Haedar Nashir, kerja Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada aksi karitatif (bantuan sesaat). Muhammadiyah harus tetap menjadi suara etik yang berani melakukan kritik sistemik. Jika pemerintah lamban, Muhammadiyah harus menjadi lokomotif yang mendesak perubahan kebijakan agar tata kelola bencana kita lebih manusiawi.

Bersatu Membangun Negeri

Bencana di Sumatera adalah panggilan bagi kita untuk kembali ke jati diri bangsa yang peduli. Kita tidak boleh membiarkan nurani bangsa ini mati oleh tumpukan kertas birokrasi dan ego kekuasaan.

Mari kita pegang teguh pesan Prof. Dr. Haedar Nashir untuk terus bersatu, bersama membangun negeri. Kebersamaan kita adalah modal sosial terbesar untuk bangkit dari setiap duka. Muhammadiyah akan terus berdiri di garda terdepan, bukan untuk gagah-gagahan, tapi untuk memastikan bahwa di negeri ini, nurani tetap menyala dan keadilan tetap tegak.

Akhir tahun ini, mari kita berjanji: tidak ada lagi nyawa yang terabaikan karena birokrasi yang buta, karena Indonesia adalah rumah bagi kemanusiaan, bukan sekadar laboratorium administrasi.

Penulis adalah Aktivis Muhammadiyah/Mahasiswa S3 UNY


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Apakah Allah ‘Memejamkan Mata’ terhadap Derita Rakyat Palestina? Oleh: Donny Syofyan, D....

Suara Muhammadiyah

10 June 2024

Wawasan

Ketika Boros Dianggap Kebaikan Oleh: Rusydi Umar, Dosen FTI UAD, Anggota MPI PP Muhammadiyah (2015-....

Suara Muhammadiyah

24 November 2025

Wawasan

Mencari Solusi Oleh: Iu Rusliana, Dosen Program Magister Manajemen Uhamka Jakarta, Sekretaris Pimpi....

Suara Muhammadiyah

26 September 2025

Wawasan

Menjaga Amanah Persyarikatan Oleh: Saidun Derani Pada Pembukaan Baitul Arqam Pimpinan  Univer....

Suara Muhammadiyah

14 January 2024

Wawasan

Antara "Al-Silm" dan "Al-Islam": Memahami Konsep Kedamaian dalam Al-Qur'an Oleh: Donny Syofyan....

Suara Muhammadiyah

14 April 2025