MALAYSIA, Suara Muhammadiyah - Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) sebagai Universiti dari Indonesia pertama di luar negara menerima kunjungan sejumlah tokoh yang berbagi pandangan dan nasihat mengenai fondasi keislaman, pentingnya budaya ilmu, arah kemajuan umat, serta perjalanan umat Islam dalam membangun peradaban dan kepemimpinan kemanusiaan.
Kunjungan ini menjadi momentum penting bagi UMAM untuk memperkuat tradisi keilmuan, memperluas wawasan keislaman, serta mendorong lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki visi masa depan.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah tokoh menyampaikan pemikiran dan nasihat dari perspektif keilmuan, keislaman, dan pembangunan umat.
Dr. Abdullah Yasin memberikan nasihat mengenai pentingnya menjadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai fondasi utama dalam menjalani kehidupan seorang Muslim.
Beliau menekankan bahwa pemahaman dan pengamalan ajaran Islam perlu berlandaskan sumber utama agama, sehingga umat Islam memiliki pedoman yang jelas dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Selain itu, beliau mengingatkan pentingnya mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Menurut pesan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut, kehidupan dunia hendaknya dijalani dengan penuh tanggung jawab, disertai amal saleh dan kesadaran bahwa setiap manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah SWT.
Rektor (Vice Chancellor) UMAM, Dr. Saidul Amin, menekankan pentingnya membudayakan ilmu sebagai salah satu investasi terbaik bagi individu, institusi, dan masa depan umat.
Budaya ilmu bukan sekadar memperoleh pengetahuan melalui pendidikan formal, melainkan juga membangun kebiasaan membaca, berdiskusi, meneliti, berpikir kritis, dan mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui budaya ilmu yang kuat, perguruan tinggi diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kematangan moral, serta kemampuan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.
Pesan tersebut sejalan dengan peran UMAM sebagai institusi pendidikan tinggi yang berkomitmen mengembangkan ilmu pengetahuan dan membangun generasi yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Sementara itu, Prof. Sohirin mengingatkan pentingnya memahami arah kemajuan umat melalui berbagai perumpamaan yang disampaikan dalam diskusi.
Berbagai perumpamaan tersebut menjadi sarana untuk merefleksikan perjalanan umat, memahami tantangan yang dihadapi, serta melihat pentingnya visi dan strategi dalam menentukan arah kemajuan.
Kemajuan umat tidak hanya diukur melalui pencapaian material, tetapi juga melalui kualitas ilmu pengetahuan, kekuatan nilai-nilai moral, kemampuan beradaptasi, dan kesungguhan dalam membangun peradaban.
Melalui pemikiran tersebut, umat diharapkan mampu mengambil pelajaran dari perjalanan masa lalu, memahami realitas masa kini, dan mempersiapkan masa depan dengan lebih terarah.
Dr. Fahmi Salim menguraikan perjalanan umat dalam perspektif sejarah dan peradaban, mulai dari fase kelahiran, perjuangan untuk bertahan, hingga berkembang menjadi kekuatan yang berperan dalam kepemimpinan kemanusiaan.
Pembahasan ini memberikan gambaran bahwa perjalanan suatu umat tidak selalu berlangsung mudah. Terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi, termasuk upaya mempertahankan identitas, membangun kekuatan intelektual, dan mengembangkan kapasitas untuk memberikan manfaat yang lebih luas.
Dalam konteks tersebut, umat Islam perlu memperkuat kualitas sumber daya manusia, membangun institusi yang kokoh, serta mengembangkan ilmu pengetahuan agar mampu mengambil peran dalam menjawab persoalan kemanusiaan.
Kepemimpinan umat pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan kedudukan atau kekuasaan, tetapi juga dengan tanggung jawab untuk menghadirkan kemaslahatan, keadilan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Kunjungan sejumlah tokoh ini memberikan ruang bagi pertukaran gagasan dan penguatan wawasan mengenai hubungan antara agama, ilmu pengetahuan, dan kemajuan peradaban.
Berbagai pemikiran yang disampaikan menghadirkan pesan yang saling melengkapi: Al-Quran dan Sunnah sebagai fondasi kehidupan, ilmu sebagai investasi jangka panjang, visi sebagai penentu arah kemajuan, serta kepemimpinan sebagai sarana memberikan manfaat bagi kemanusiaan.
Bagi UMAM, pertemuan semacam ini menjadi kesempatan untuk terus mengembangkan lingkungan akademik yang terbuka terhadap diskusi, menghargai tradisi keilmuan, dan mendorong pemikiran yang berorientasi pada kemajuan umat.

