UMRI Hadirkan Budaya Komunikasi Kampus Melalui Pendekatan Ala Masjid

Suara Muhammadiyah

16 January 2026

719
Dok Istimewa

Dok Istimewa

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah — Salah satu persoalan klasik yang kerap dihadapi mahasiswa di berbagai perguruan tinggi adalah sulitnya menemui dosen, pengambil kebijakan, hingga pimpinan universitas. Prosedur birokrasi yang panjang dan jalur administrasi yang berlapis sering kali membuat persoalan mahasiswa berlarut-larut tanpa kejelasan.

Namun, suasana berbeda dirasakan di Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI). Selain jalur birokrasi formal yang tetap berjalan, UMRI memiliki tradisi khas yang hidup dan efektif dalam membangun komunikasi kampus, yakni pendekatan ala masjid.

Di UMRI, shalat berjamaah bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi telah menjadi budaya sekaligus kewajiban bagi dosen, pimpinan universitas, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, melainkan juga menjadi ruang perjumpaan, silaturahmi, dan komunikasi lintas sivitas akademika. Ketika dosen atau pejabat kampus sulit ditemui di kantor, mahasiswa memahami satu jalur yang hampir selalu terbuka: masjid. Kaprodi, dekan, bahkan rektor dan wakil rektor yang terkadang sulit dijangkau melalui jalur formal sering kali dapat ditemui sebelum atau sesudah shalat berjamaah. 

Tidak sedikit persoalan akademik, administrasi, hingga kebutuhan mahasiswa dan masyarakat yang dapat diselesaikan melalui pertemuan singkat dan dialog santai di masjid. Pendekatan ini dinilai lebih cair, lebih manusiawi, serta efektif, tanpa menghilangkan adab, etika, dan rasa hormat antara mahasiswa dan pimpinan. 

Lebih dari itu, masjid juga menjadi ruang lahirnya ide-ide besar kampus. Berbagai gagasan strategis, program unggulan universitas, hingga arah kebijakan kerap bermula dari obrolan dan musyawarah para pimpinan di sela-sela ibadah berjamaah.

Keunikan ini semakin kuat dengan dukungan tata ruang kampu UMRI. Dengan lebih dari 13.000 mahasiswa aktif dan area kampus yang terintegrasi, seluruh aktivitas akademik dan nonakademik berporos pada satu masjid pusat, yaitu Masjid Baitul Hikmah. Masjid ini benar-benar menjadi jantung kehidupan kampus, tempat bertemunya nilai keilmuan, spiritualitas, dan komunikasi sosial.

Tidak mengherankan jika keluhan mahasiswa sulit menemui dosen hampir tidak terdengar di UMRI. Jika tidak berada di kantor, mahasiswa mengetahui satu jalan yang hampir pasti: mencari ke masjid.

Dengan demikian, kuliah di UMRI bukan hanya tentang belajar ilmu di ruang kelas atau komunikasi formal di ruang rapat, tetapi juga tentang mempelajari seni komunikasi, silaturahmi, dan musyawarah ala masjid—sebuah tradisi yang langka dan bernilai tinggi di dunia pendidikan tinggi saat ini. (Ziyan Al Ghifari)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – “Srikandi Penjaga Peradaban” menjadi tagline yang....

Suara Muhammadiyah

16 May 2026

Berita

Wujud Kepedulian untuk Pendidikan  BANTUL, Suara Muhammadiyah - Pada hari Jumat, 28 Februari 2....

Suara Muhammadiyah

1 March 2025

Berita

WAKATOBI, Suara Muhammadiyah - Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah (ITBM) Wakatobi kembali me....

Suara Muhammadiyah

28 September 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Setelah sebulan penuh berpuasa, muslim merayakan Idul Fitri p....

Suara Muhammadiyah

19 March 2026

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Muktashim Billah, Kepala Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Ma’had....

Suara Muhammadiyah

19 May 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah