GUNUNGKIDUL, Suara Muhammadiyah – Tim Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Knowledge Sharing dan Learning dalam Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat” di Kelompok Tani Hutan (KTH) Sedyo Makmur, Kabupaten Gunungkidul.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Environmental Collaboration and Conflict Resolution (ECCR) Summer School yang menghadirkan 25 peserta dari 15 negara. Para peserta terdiri dari mahasiswa magister, doktoral, serta praktisi profesional dari berbagai sektor.
Program tersebut juga melibatkan kolaborasi internasional bersama ECCR Global Network, University of Eastern Finland, University of Jyväskylä, Portland State University, dan College of Business Education. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian summer school IGOV UMY yang mengangkat isu kolaborasi global dan resolusi konflik lingkungan.
Ketua Tim Pengabdian, Rijal Ramdani, Ph.D, dari Ilmu Pemerintahan UMY mengatakan kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola hutan secara berkelanjutan melalui pendekatan kolaboratif lintas negara.
“Program ini dirancang untuk menjembatani pengetahuan global dengan praktik lokal. Kami ingin memastikan masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek utama dalam proses pembelajaran dan pengelolaan hutan,” ujar Rijal.
Ia menjelaskan, program ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya kapasitas kelembagaan masyarakat dalam pengelolaan hutan berbasis komunitas, khususnya terkait akses pengetahuan, praktik berbagi informasi, serta jejaring kolaborasi eksternal.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bertahap, mulai dari koordinasi dengan mitra, identifikasi kebutuhan masyarakat, hingga implementasi program. Pada tahap awal, kegiatan ini menunjukkan hasil positif, seperti meningkatnya pemahaman masyarakat terkait pengelolaan hutan berkelanjutan dan keterlibatan anggota kelompok dalam berbagai aktivitas.
Kegiatan lapangan dikemas melalui fieldwork excursion yang mencakup forest walk, panel discussion, dan doorstop discussion. Melalui pendekatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Dalam kegiatan forest walk, peserta diajak menyusuri kawasan hutan kemasyarakatan untuk mengamati kondisi ekologi, teknik konservasi, serta pemanfaatan hasil hutan oleh masyarakat. Peserta dibagi ke dalam enam kelompok yang masing-masing didampingi anggota KTH dan penerjemah.
“Forest walk menjadi ruang belajar kolaboratif, di mana pengetahuan ilmiah bertemu dengan praktik lokal yang telah lama dijalankan masyarakat,” kata Rijal.
Sementara itu, panel discussion mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, termasuk akademisi, pemerintah daerah, LSM, dan anggota KTH. Diskusi ini membahas sejarah, tantangan, serta peluang pengelolaan hutan berbasis masyarakat, sekaligus menghadirkan perspektif internasional seperti praktik community forestry di Tanzania dan pengelolaan hutan di Finlandia.
Adapun doorstop discussion dilakukan secara informal selama kegiatan lapangan. Metode ini memungkinkan interaksi yang lebih cair antara peserta internasional dan masyarakat, sehingga membuka ruang bagi pertukaran pengalaman dan pengetahuan yang lebih mendalam.
Dalam pelaksanaannya, KTH Sedyo Makmur berperan sebagai mitra sekaligus subjek utama kegiatan. Masyarakat terlibat aktif dalam seluruh proses, mulai dari identifikasi kebutuhan hingga berbagi pengetahuan lokal kepada peserta.
Meski demikian, kegiatan ini juga menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan waktu partisipasi masyarakat, penyesuaian jadwal dengan peserta internasional, serta kendala bahasa. Untuk mengatasi hal tersebut, tim pengabdian menghadirkan penerjemah guna memastikan komunikasi berjalan efektif.
Rijal menambahkan, program ini diharapkan tidak hanya memperkuat kapasitas masyarakat, tetapi juga membuka peluang kolaborasi internasional yang lebih luas.
“Ke depan, kami menargetkan kegiatan ini dapat menghasilkan berbagai luaran, mulai dari publikasi media, dokumentasi video, hingga artikel ilmiah yang dapat memperkaya wacana pengelolaan hutan berbasis komunitas,” ujarnya.
