MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) kembali menyemarakkan rangkaian Ramadhan di Kampus (RDK) 2026 melalui kegiatan Talk-O-Rama: Talkshow Ramadhan bertema “Ramadhan: Ilmu Pengetahuan dan Peradaban”. Acara diselenggarakan di Auditorium Kampus 1 UNIMMA pada Jumat (20/2) dan menghadirkan Prof. Dr. Phil. Al Makin, M.A., akademisi sekaligus Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Periode 2020–2024.
Talkshow tersebut menjadi ruang refleksi intelektual di bulan suci Ramadhan, sekaligus penguatan komitmen UNIMMA dalam merawat tradisi keilmuan di lingkungan kampus.
Dr. Lilik Andriyani, SE., M.Si, Rektor UNIMMA menyampaikan bahwa Ramadhan merupakan momentum untuk menguatkan spiritualitas sekaligus intelektualitas sivitas akademika. “Ramadhan bukan hanya bulan ibadah ritual, sesuai dengan tema kali ini, ilmu pengetahuan adalah fondasi peradaban, dan dari kampuslah peradaban itu harus terus dirawat,” ujarnya.
Dalam paparannya, Prof. Al Makin menyampaikan refleksi akademiknya selama 25 tahun mengajar filsafat ilmu, orientalisme, dan oksidentalisme. Ia menekankan bahwa ilmu pengetahuan dan peradaban selalu berjalan beriringan. “Ilmu pengetahuan itu dari mana asalnya? Ternyata ilmu dengan peradaban dan kemajuan itu selalu bersama. Jika sebuah kemajuan, baik itu teknologi, ekonomi, politik, tanpa ilmu pengetahuan, itu pasti runtuh. Karena peradaban tanpa ilmu pengetahuan akan mengalami pembusukan,” ungkapnya.
Lebih lanjut dijelaskan, ilmu yang dimiliki manusia telah diwariskan sejak ribuan tahun lalu, namun terus diperbarui oleh setiap peradaban. “Saya ingin menekankan bahwa pada dasarnya, ilmu yang kita punya sudah sangat tua tapi selalu diperbaharui. Setiap peradaban, setiap kebudayaan selalu memperbaiki ilmu yang usianya kira-kira sudah puluhan ribu tahun di dunia ini. Apabila peradaban itu mengembangkan warisan kuno, maka peradaban itu akan berjaya. Tapi ketika lupa dengan ilmu pengetahuan, lupa dengan warisan kuno maka peradaban akan runtuh,” tuturnya.
Prof. Al Makin juga menjelaskan, berdirinya Indonesia pun tidak terlepas dari kekuatan ilmu. “Indonesia berdiri karena ilmu pengetahuan. Tetapi hari ini mayoritas penduduknya tidak suka membaca buku, itu yang menjadi sorotan kita. Lalu bagaimana sekarang kita mempertahankan Indonesia? Kembali kepada kamus lama dengan cara yang konservatif yaitu membaca untuk mengembalikan ilmu pengetahuan,” jelasnya.
Penulis buku Dari Athena sampai Nusantara yang baru saja diterbitkan ini turut menyinggung perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan sebagai hasil dari tradisi literasi panjang. “Bahkan chat gpt yang dibangga-banggakan itu juga hasil dari membaca, kalau kita hanya menjadi konsumen yang menggunakan dengan sangat bangga, maka kita akan ditindas, kita akan menjadi bangsa yang terjajah. Maka kita harus kembali lagi ke metode yang paling tradisional yaitu membaca, menulis, berpikir independent sebagaimana dilakukan oleh para ulama kita dan para pendiri bangsa kita, yang sadar betul bahwa ilmu pengetahuan adalah kuncinya,” tandasnya.
Setelah pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang mendapat respons antusias dari peserta. Beragam pertanyaan disampaikan, mulai dari refleksi literasi hingga tantangan generasi muda di era digital. Dari sesi tersebut, dua penanya terbaik dipilih dan menerima buku terbaru karya Prof. Al Makin sebagai bentuk apresiasi.
Melalui kegiatan tersebut, UNIMMA menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan ruang-ruang dialog yang mencerahkan, menumbuhkan kesadaran literasi, serta menginspirasi sivitas akademika untuk menjadi insan berilmu, berakhlak, dan berkemajuan.

