BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Sitti Syabariyah, resmi didapuk menjadi Rektor Universitas ‘Aisyiyah Bandung periode 2026-2030. Prosesi pelantikan dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Salmah Orbayinah di Grand Asrilia Hotel Convention Bandung, Senin (19/1).
“Sanggupkah saudara untuk menjalankan amanat yang diberikan saudara dengan setulus-tulusnya dan sebaik-baiknya?” tanya Salmah. “Sanggup,” jawab Syabariyah singkat dan tegas.
Salmah mengapresiasi capaian Unisa Bandung yang meraih prestasi membanggakan. “Sudah terakreditasi unggul,” katanya. Kategorisasi unggul di sini, tidak hanya unggul dalam aspek nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan, akan tetapi secara kelembagaan.
“Tidak mudah, butuh effort (upaya) yang luar biasa, terutama adalah tantangan dalam SDM (Sumber daya manusia),” sebut Salmah.
Dalam transisi pergantian kepemimpinan ini, meniscayakan peneguhan komitmen untuk melanjutkan rancang bangun yang sudah tersistem dengan baik. “Tidak mengulang yang sama, tetapi untuk melanjutkan estafeta kepemimpinan berikutnya,” tuturnya.
Dengan maksud menjadi Perguruan Tinggi ‘Aisyiyah yang unggul dan berdaya saing global. Menguatkan visi Unisa Bandung sebagai “Menjadi Universitas Islami dan Terkemuka di Bidang IPTEKS tingkat internasional tahun 2045.”
“Harus punya target. Ini bukan slogan semata, tapi harus merintis bahwa di tahun 2045 bahkan sebelumnya akan tercapai sesuai dengan visi yang diharapkan,” tutur Salmah, menggarisbawahi butuh kerja keras kolektivitas yang tinggi untuk mewujudkan visi tersebut. “Butuh sinergi dari semua elemen yang ada di Unisa Bandung,” sambungnya.
Diingatkan Salmah, saat ini perubahan zaman sangat pesat. Dalam konteks tersebut, dosen harus ikut serta terlibat dalam perubahan ini. “Harus adaptif terhadap perubahan dengan kemajuan AI yang luar biasa,” tegasnya. Demikian halnya penting untuk mempertahankan bunga rampai capaian yang telah diperoleh selama ini. “Ditingkatkan tentunya dan kualitasnya juga,” sambungnya.
Serupa itu, Rektor Unisa Bandung periode 2021-2025 Tia Setiawati menyebut capaian yang diraih sebagai bagian integral dari kerja keras seluruh civitas akademika. “Saya di sini bertindak sebagai konduktor dalam simfoni besar yang bapak ibu mainkan dengan luar biasa,” ucapnya. Yang kemudian mewujud pada raihan prestasi yang gemilang.
Di lain sisi, Syabariyah menyebut amanah rektor bukan sekadar jabatan, akan tetapi menjadi bentuk tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. “Saya yakin sepenuhnya setiap amanah terdapat tanggung jawab yang tidak hanya dihadapan manusia, tapi harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah,” ujarnya.
Karenanya, ia berkomitmen untuk membawa Unisa Bandung menjadi perguruan tinggi ‘Aisyiyah yang unggul. “Dalam akhlak, ilmu, dan kontribusi nyata bagi masyarakat,” tandasnya. (Cris)

