Urgensitas Segmentasi Mubaligh Muhammadiyah
Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur
Muhammadiyah sejak kelahirannya dikenal sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang berorientasi pada pencerahan umat. Dakwah Muhammadiyah tidak semata-mata bertumpu pada retorika mimbar, tetapi menjelma menjadi gerakan sosial yang menghadirkan solusi konkret bagi persoalan keumatan dan kebangsaan. Dalam konteks tersebut, mubaligh memegang peran strategis sebagai ujung tombak dakwah persyarikatan.
Namun, perubahan sosial yang berlangsung cepat dalam beberapa dekade terakhir menuntut pembaruan serius dalam strategi dakwah. Masyarakat Indonesia tidak lagi homogen. Diferensiasi sosial semakin tajam, baik berdasarkan usia, tingkat pendidikan, profesi, kelas ekonomi, wilayah geografis, hingga preferensi budaya dan media. Satu pendekatan dakwah yang bersifat seragam semakin sulit menjangkau seluruh lapisan umat.
Di sinilah urgensitas segmentasi mubaligh di Muhammadiyah menemukan relevansinya. Segmentasi mubaligh bukanlah upaya mengkotak-kotakkan dakwah atau menciptakan hierarki mubaligh, melainkan strategi untuk memastikan pesan dakwah Muhammadiyah dapat disampaikan secara efektif, kontekstual, dan mencerahkan sesuai dengan karakter sasaran dakwah. Tulisan ini mencoba menakar pentingnya segmentasi mubaligh di Muhammadiyah, baik dari sisi teologis, sosiologis, maupun strategis, serta implikasinya bagi penguatan dakwah persyarikatan di era kontemporer.
Sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah meletakkan dakwah sebagai inti gerakan. Dakwah tidak dipahami secara sempit sebagai ceramah keagamaan, tetapi sebagai upaya sistematis untuk membangun peradaban Islam yang berkemajuan. Spirit tajdid atau pembaruan telah menjadi ciri khas Muhammadiyah, baik dalam pemikiran keagamaan, kelembagaan, maupun metode dakwah.
Pada masa awal, tantangan dakwah Muhammadiyah berkutat pada upaya purifikasi ajaran Islam sekaligus pemberdayaan umat melalui pendidikan dan kesehatan. Masyarakat yang menjadi sasaran dakwah relatif homogen, dengan tingkat literasi yang belum tinggi dan akses informasi yang terbatas. Dalam konteks tersebut, figur mubaligh yang serba bisa masih relatif memadai.
Namun, memasuki era modern hingga digital saat ini, lanskap dakwah berubah drastis. Masyarakat hidup dalam ekosistem informasi yang melimpah, bahkan berlebihan. Otoritas keagamaan tidak lagi dimonopoli oleh institusi atau tokoh tertentu. Setiap orang dapat menjadi produsen sekaligus konsumen pesan keagamaan. Dalam situasi ini, dakwah yang tidak tersegmentasi berpotensi kalah bersaing dengan narasi lain yang lebih populer, emosional, atau provokatif.
Segmentasi mubaligh sejatinya merupakan kelanjutan logis dari spirit tajdid Muhammadiyah. Jika tajdid dimaknai sebagai keberanian melakukan pembaruan demi efektivitas dakwah, maka segmentasi mubaligh adalah bagian dari ikhtiar tersebut. Secara teologis, segmentasi dakwah memiliki pijakan yang kuat dalam ajaran Islam. Al-Qur’an menegaskan pentingnya dakwah bil hikmah, mau’izhah hasanah, dan mujadalah billati hiya ahsan. Hikmah mengandaikan kecakapan membaca situasi, memahami karakter audiens, serta memilih pendekatan yang paling tepat.
Rasulullah SAW memberikan teladan nyata tentang segmentasi dakwah. Kepada para sahabat yang telah matang keimanannya, Rasulullah menyampaikan ajaran yang mendalam dan penuh tanggung jawab. Kepada masyarakat awam, beliau menggunakan bahasa yang sederhana dan menyentuh aspek keseharian. Kepada para pemimpin kabilah dan utusan luar Madinah, Rasulullah menggunakan pendekatan diplomatis dan argumentatif.
Dakwah yang efektif menuntut pemahaman terhadap kondisi psikologis, intelektual, dan sosial audiens. Dengan demikian, segmentasi mubaligh bukanlah penyimpangan dari prinsip dakwah Islam, melainkan pengejawantahan dari nilai hikmah itu sendiri.
Salah satu tantangan terbesar dakwah Muhammadiyah hari ini adalah fragmentasi sosial. Masyarakat terbelah ke dalam berbagai segmen dengan kebutuhan dan persoalan yang berbeda. Generasi muda, khususnya Gen Z, bergulat dengan isu identitas, kesehatan mental, relasi sosial, dan masa depan ekonomi. Kelompok kelas menengah urban menghadapi tekanan gaya hidup, kompetisi kerja, dan kecemasan status sosial. Sementara itu, masyarakat akar rumput masih berjuang dengan persoalan kemiskinan, akses pendidikan, dan layanan dasar.
Dalam kondisi demikian, satu pola dakwah yang bersifat umum dan normatif sering kali gagal menyentuh persoalan riil jamaah. Ceramah yang terlalu tekstual bisa terasa jauh dari realitas hidup audiens. Sebaliknya, dakwah yang terlalu populis tanpa basis keilmuan juga berisiko kehilangan kedalaman dan arah ideologis.
Segmentasi mubaligh memungkinkan Muhammadiyah menghadirkan dai yang benar-benar memahami dunia audiensnya. Mubaligh yang terbiasa berdialog dengan anak muda tentu berbeda dengan mubaligh yang fokus mendampingi masyarakat pedesaan atau komunitas profesional. Perbedaan ini bukan kelemahan, melainkan kekuatan jika dikelola secara sistematis.
Segmentasi mubaligh dapat dipahami sebagai upaya pemetaan dan penguatan peran mubaligh berdasarkan kompetensi, latar belakang, dan sasaran dakwah. Setidaknya, terdapat beberapa bentuk segmentasi yang relevan bagi Muhammadiyah. Pertama, segmentasi berdasarkan kelompok usia. Dakwah anak-anak, remaja, pemuda, dan orang tua memerlukan pendekatan yang berbeda. Mubaligh untuk anak muda perlu menguasai bahasa populer, isu kekinian, serta dinamika budaya digital. Sementara mubaligh untuk kalangan dewasa dan lansia lebih menekankan pada ketenangan spiritual, keteladanan, dan penguatan keluarga.
Kedua, segmentasi berdasarkan latar sosial dan profesi. Dakwah di lingkungan kampus, buruh, petani, ASN, atau pengusaha memiliki karakteristik tersendiri. Mubaligh yang memahami dunia profesi audiens akan lebih mudah membumikan nilai-nilai Islam dalam konteks kerja dan kehidupan sehari-hari.
Ketiga, segmentasi berdasarkan medium dakwah. Dakwah di masjid, majelis taklim, sekolah, hingga ruang digital memerlukan keterampilan yang berbeda. Tidak semua mubaligh cocok berdakwah di media sosial, dan tidak semua dai digital efektif di forum tatap muka. Segmentasi memungkinkan setiap mubaligh berkiprah di ruang yang paling sesuai dengan kapasitasnya.
Meski urgensinya tinggi, segmentasi mubaligh di Muhammadiyah bukan tanpa tantangan. Salah satu tantangan internal adalah budaya dakwah yang masih cenderung seragam. Banyak mubaligh diharapkan mampu mengisi berbagai forum dengan materi yang relatif sama. Akibatnya, potensi spesialisasi sering kali tidak berkembang optimal. Selain itu, sistem kaderisasi mubaligh di sebagian wilayah belum sepenuhnya berbasis pemetaan kompetensi. Pelatihan mubaligh sering kali bersifat umum, belum secara spesifik diarahkan pada segmentasi sasaran dakwah. Padahal, Muhammadiyah memiliki sumber daya manusia yang sangat beragam, baik dari kalangan akademisi, profesional, aktivis sosial, maupun praktisi media.
Tantangan lainnya adalah resistensi kultural. Segmentasi kadang dipersepsikan sebagai bentuk eksklusivisme atau pembatasan ruang dakwah. Persepsi ini perlu diluruskan dengan pemahaman bahwa segmentasi bukan pembatasan, melainkan optimalisasi peran. Jika dikelola dengan baik, segmentasi mubaligh justru akan memperkuat dakwah berkemajuan Muhammadiyah. Dakwah menjadi lebih relevan, membumi, dan berdampak nyata. Masyarakat merasa didengarkan dan dipahami, bukan sekadar menjadi objek ceramah.
Segmentasi juga memungkinkan Muhammadiyah membangun narasi dakwah yang lebih beragam namun tetap berada dalam satu bingkai ideologis. Nilai Islam berkemajuan dapat disampaikan dengan bahasa yang berbeda-beda sesuai segmen, tanpa kehilangan substansi. Lebih jauh, segmentasi mubaligh dapat memperkuat posisi Muhammadiyah di ruang publik, termasuk di ranah digital. Di tengah maraknya dakwah instan dan populisme agama, kehadiran mubaligh Muhammadiyah yang kredibel dan kontekstual menjadi sangat penting.
Urgensitas segmentasi mubaligh di Muhammadiyah tidak dapat dipisahkan dari dinamika perubahan sosial yang semakin kompleks. Segmentasi bukanlah tujuan, melainkan alat strategis untuk memastikan dakwah Muhammadiyah tetap relevan, mencerahkan, dan berkemajuan.
Dengan landasan teologis yang kuat, tradisi tajdid yang mengakar, serta sumber daya manusia yang melimpah, Muhammadiyah memiliki modal besar untuk mengembangkan segmentasi mubaligh secara sistematis. Tantangannya terletak pada keberanian melakukan pembaruan manajemen dakwah dan kaderisasi mubaligh.
Pada akhirnya, segmentasi mubaligh bukan hanya soal efektivitas dakwah, tetapi juga tentang tanggung jawab moral Muhammadiyah dalam menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam—Islam yang mampu berbicara kepada setiap segmen umat dengan bahasa yang dipahami dan dirasakan manfaatnya.

