Warung, Sepak Bola, dan Ikhtiar Merawat Damai

Suara Muhammadiyah

3 July 2026

47
Istimewa

Istimewa

Warung, Sepak Bola, dan Ikhtiar Merawat Damai

Penulis: Tsani Itsna Ariyanti, Dosen dan Sekretaris Pusat Studi Islam, Perempuan dan Pembangunan ITB Ahmad Dahlan Jakarta

Saya bukan penikmat sepak bola. Apalagi turnamen sekelas Piala Dunia. Saya bahkan tidak hafal nama-nama pemain maupun aturan pertandingan. Namun, sepekan perjalanan penelitian di Kota Ambon, Maluku, pelan-pelan mengubah cara saya memandang sepak bola. Saya tidak sedang belajar soal taktik permainan, melainkan tentang bagaimana sebuah pertandingan mampu menghidupkan ruang-ruang sosial.

Menjelang malam, kota ini justru semakin hidup. Warung makan yang biasanya hanya dikunjungi beberapa pelanggan mendadak penuh. Kafe dipadati anak-anak muda yang khusyuk menatap layar televisi dan telepon genggam. Di halaman kantor wali kota, lapangan terbuka, kios perbelanjaan, hingga sudut-sudut kampung, masyarakat berkumpul menyaksikan pertandingan secara bersama-sama.

Saat mengunjungi sebuah warung makan sederhana, saya juga menyaksikan perempuan, anak-anak, mahasiswa, pengemudi ojek, hingga para lansia duduk berdampingan menunggu serunya laga sepakbola. Mereka datang bukan karena saling mengenal, tetapi karena memiliki satu tujuan yang sama yaitu menikmati pertandingan sepak bola.

Anak-anak berlarian membawa bendera negara favoritnya. Para remaja mengenakan jersey kebanggaan. Sementara ibu-ibu yang baru selesai memasak memilih tetap tinggal di warung sambil menemani anak-anaknya menyaksikan pertandingan. Dalam beberapa jam, warung kecil itu berubah menjadi ruang bersama yang mempertemukan banyak orang tanpa mempersoalkan usia, pekerjaan, maupun latar belakang sosial.

Pemandangan seperti itu terus berulang hampir setiap malam, pagi, dan siang, ketika laga Piala Dunia berlangsung. Bahkan ketika Tim Nasional Belanda bertanding, sejumlah ruas jalan telah dipersiapkan aparat keamanan untuk mengantisipasi konvoi kemenangan yang menjadi tradisi masyarakat Ambon. Bagi saya, ini bukan sekadar euforia olahraga. Ada sesuatu yang lebih dalam sedang bekerja di balik sorak-sorai itu.

Warung yang Menjadi Ruang Bersama

Pengamat ruang publik Ray Oldenburg dalam bukunya The Great Good Place (1989) memperkenalkan gagasan tentang third place, yakni ruang ketiga selain rumah dan tempat kerja. Di ruang inilah orang bertemu, berbincang, membangun keakraban, dan perlahan menumbuhkan rasa saling percaya.

Selama berada di Ambon, saya merasa warung-warung sederhana telah menjelma menjadi third place itu. Orang datang bukan semata-mata membeli kopi atau makanan. Mereka datang untuk berbagi pengalaman, tertawa bersama, dan sesekali berdebat mengenai jalannya pertandingan. Sepak bola hanyalah pintu masuk. Sesungguhnya yang sedang dibangun adalah relasi antarmanusia.

Yang menarik perhatian saya justru bukan para laki-laki. Kehadiran mereka di arena sepak bola mungkin sudah lazim. Yang membuat saya terkesan adalah keberadaan perempuan.

Saya melihat geliat ibu-ibu muda, nenek, remaja putri, bahkan anak-anak perempuan ikut memenuhi warung dan ruang publik. Mereka bukan sekadar mengantar suami atau menemani anak. Mereka ikut larut dalam permainan, bersorak ketika gol tercipta, dan berdiskusi tentang pemain favoritnya.

Pemandangan seperti ini jarang saya temui di banyak daerah lain. Ruang publik yang biasanya lebih didominasi laki-laki, pada malam-malam Piala Dunia justru menjadi ruang yang lebih inklusif bagi seluruh anggota keluarga.

Sepak Bola dan Ikhtiar Merawat Kerukunan

Sulit berada di Ambon tanpa mengingat sejarah panjang konflik sosial yang pernah melukai kota ini pada akhir 1990-an. Konflik yang bermula dari persoalan kecil, lalu berkembang menjadi kekerasan komunal, meninggalkan luka yang tidak hanya merenggut korban jiwa, tetapi juga meretakkan kepercayaan antarmasyarakat. Karena itu, tantangan terbesar setelah konflik mereda bukan sekadar menghentikan kekerasan, melainkan merawat kembali ruang-ruang perjumpaan agar rasa saling percaya dapat tumbuh sedikit demi sedikit.

Dalam sebuah obrolan ringan, Rusdah, kolega saya dari Universitas Muhammadiyah Maluku menceritakan pengalaman yang menarik. Menurutnya, setiap kali Piala Dunia berlangsung, euforia masyarakat justru menghadirkan ruang-ruang kebersamaan yang sulit ditemukan pada hari-hari biasa. Di Desa Mamala dan Morella, misalnya, beberapa kali mengalami konflik antardesa yang cukup panjang. Ketika Piala Dunia berlangsung, masyarakat di dua desa itu berkumpul mendukung tim favorit mereka, menikmati pertandingan bersama, lalu melanjutkan semangat itu melalui turnamen sepak bola persahabatan antardesa. Tradisi serupa, katanya, juga tumbuh di sejumlah desa lain di Maluku.

Bagi saya, cerita tersebut menunjukkan bahwa sepak bola memang tidak menghapus sejarah konflik yang pernah terjadi. Namun, ia dapat menjadi medium yang mempertemukan kembali warga dalam suasana yang lebih cair dan setara. Lapangan sepak bola, layar televisi di warung, hingga turnamen antardesa perlahan berubah menjadi ruang-ruang sosial tempat percakapan, kerja sama, dan keakraban kembali dirajut. Di situlah saya melihat sepak bola bukan sekadar pertandingan, melainkan salah satu ikhtiar kultural untuk merawat kerukunan.

Pengalaman-pengalaman kecil seperti inilah yang mengingatkan saya pada pandangan pakar studi perdamaian, Johan Galtung, bahwa perdamaian tidak cukup dimaknai sebagai berhentinya konflik (negative peace), tetapi juga harus ditandai dengan hadirnya hubungan sosial yang sehat, kepercayaan, dan kerjasama (positive peace). Dalam konteks Ambon, sepak bola mungkin bukan jawaban atas seluruh persoalan, tetapi ia tampak menjadi salah satu ruang tempat benih-benih perdamaian itu terus dipelihara.

Fenomena dukungan masyarakat Ambon terhadap Belanda dalam laga sepakbola juga menarik dibaca dari perspektif ini. Kedekatan emosional itu bukan semata-mata romantisme sejarah kolonial. Banyak warga merasa memiliki ikatan karena sejumlah pemain Tim Nasional Belanda memiliki garis keturunan Maluku. Representasi tersebut menghadirkan rasa bangga sekaligus kedekatan simbolik yang diwariskan lintas generasi.

Ketika Belanda menang, masyarakat berkonvoi memenuhi jalan-jalan kota. Aparat keamanan mengawal euforia itu agar tetap berlangsung tertib. Pemandangan yang saya lihat bukan sekadar iring-iringan kendaraan, melainkan sebuah kota yang sedang merayakan identitas bersama dalam bentuk yang damai.

Pandangan ini mengingatkan saya pada gagasan Robert D. Putnam dalam Bowling Alone (2000). Menurut Putnam, modal sosial (social capital) tumbuh melalui kebiasaan masyarakat untuk berkumpul, membangun jejaring, dan memelihara rasa saling percaya. Modal sosial tidak selalu lahir melalui lembaga formal. Ia sering tumbuh dari aktivitas sehari-hari yang menghadirkan kebersamaan.

Ketika Perempuan Ikut Memiliki Ruang

Mungkin inilah bagian yang paling membekas bagi saya. Selama ini, narasi tentang sepak bola hampir selalu identik dengan laki-laki. Namun, malam-malam di Ambon menunjukkan gambaran yang berbeda. Perempuan hadir sebagai bagian dari ruang publik itu sendiri.

Filsuf politik Nancy Fraser mengingatkan bahwa ruang publik yang sehat adalah ruang yang memberi kesempatan kepada kelompok-kelompok yang selama ini kurang terdengar untuk ikut berpartisipasi. Dalam konteks yang sederhana, saya melihat bagaimana perempuan tidak lagi hanya menjadi penonton dari aktivitas sosial, melainkan turut menghidupkannya.

Saya menyaksikan ibu menggendong anak sambil menyaksikan pertandingan, nenek yang ikut bersorak ketika gol tercipta, hingga anak-anak perempuan yang dengan bangga mengibarkan bendera negara favoritnya. Kehadiran mereka menjadikan ruang publik terasa lebih hangat dan lebih aman.

Barangkali yang sedang tumbuh bukan hanya budaya menonton sepak bola, melainkan budaya berbagi ruang. Ketika perempuan merasa nyaman berada di ruang publik bersama keluarga hingga larut malam, di situlah sesungguhnya kepercayaan sosial sedang dirawat.

Perjalanan singkat di Ambon menyadarkan saya bahwa perdamaian tidak selalu lahir dari meja perundingan atau forum-forum resmi. Ia bisa tumbuh melalui ruang-ruang sederhana yang mempertemukan manusia dalam pengalaman bersama.

Dalam ajaran Islam, ikhtiar membangun kehidupan bersama tidak hanya diwujudkan melalui penyelesaian konflik, tetapi juga melalui nilai ta'awun (saling menolong dalam kebaikan) dan tasamuh (kelapangan hati dalam menghormati perbedaan). Nilai-nilai itu tumbuh ketika masyarakat bersedia membuka ruang perjumpaan, memperkuat kepercayaan, dan menikmati kebersamaan tanpa terus-menerus dibayangi sekat identitas.

Teladan itu sesungguhnya telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, ketika membangun masyarakat Madinah yang majemuk. Melalui Piagam Madinah, Rasulullah tidak menghapus perbedaan agama, suku, maupun kabilah, tetapi membangun kesepakatan untuk hidup berdampingan, saling melindungi, dan menjaga kemaslahatan bersama. Perdamaian dalam Islam, dengan demikian, bukan sekadar berhentinya pertikaian, melainkan hadirnya kepercayaan (tsiqah), kerja sama, dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia. Nilai-nilai inilah yang membuat ruang-ruang kebersamaan menjadi penting untuk terus dirawat.

Barangkali itulah pelajaran paling berharga yang saya bawa pulang dari Ambon. Di tengah sorak-sorai Piala Dunia, saya menemukan bahwa kerukunan tidak selalu dirawat melalui pidato-pidato besar. Kadang ia tumbuh perlahan di warung kecil yang penuh sesak, di secangkir kopi yang dibagi bersama, pada tawa anak-anak, pada sorak para ibu, dan orang-orang yang, selama sembilan puluh menit, memilih duduk berdampingan menyaksikan pertandingan yang sama.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Demokrasi dan Tirani Mayoritas Oleh: Suko Wahyudi, Pegiat Literasi Tinggal di Yogyakarta  Dem....

Suara Muhammadiyah

25 September 2025

Wawasan

 Meminimalisir Dampak Buruk Gawai Oleh: Amalia Irfani, Dosen IAIN Pontianak/Sekretaris LPP PWM....

Suara Muhammadiyah

5 February 2025

Wawasan

Musim Pilkada, Musim Menabur Uang? Oleh: Immawan Wahyudi, Immawan Wahyudi Dosen Fakultas Hukum....

Suara Muhammadiyah

13 October 2024

Wawasan

Kampus Merdeka, Kuliah Untuk Semua Oleh: Faozan Amar, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA Sal....

Suara Muhammadiyah

27 August 2024

Wawasan

Catatan Perjalanan Pulang di Akhir Tahun Oleh; Ahsan Jamet Hamidi Menjelang akhir tahun 2025, saya....

Suara Muhammadiyah

31 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah