YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Leptospirosis merupakan penyakit infeksi bakteri yang masih kerap luput dari perhatian masyarakat, meskipun memiliki risiko kematian yang relatif tinggi. Penyakit zoonosis ini banyak ditemukan di negara tropis seperti Indonesia, terutama pada musim hujan dan saat terjadi banjir, ketika kondisi lingkungan menjadi media ideal bagi penyebaran bakteri.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. drh. Tri Wulandari K., M.Kes., menjelaskan bahwa leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira yang secara alami hidup di ginjal tikus dan dikeluarkan melalui urin. Urin tersebut kemudian mencemari tanah, air, dan lingkungan sekitar, sehingga menjadi sumber penularan bagi manusia maupun hewan lainnya.
“Urin tikus yang mengandung bakteri Leptospira tidak hanya berisiko bagi manusia, tetapi juga dapat menginfeksi hewan lain, seperti ternak maupun hewan domestik. Hewan-hewan tersebut kemudian berpotensi menjadi sumber penularan baru,” ujar drh. Tri saat dimintai keterangan secara daring, Selasa (20/1).
Lingkungan yang terkontaminasi urin tikus menjadi media utama penularan leptospirosis pada manusia. Meski prevalensinya tidak setinggi beberapa penyakit menular lain, leptospirosis memiliki case fatality rate atau angka kematian yang cukup tinggi sehingga memerlukan perhatian serius. Menurut drh. Tri, hingga kini leptospirosis masih tergolong penyakit yang belum menjadi prioritas utama dalam sistem penanganan kesehatan masyarakat.
“Penularan leptospirosis terjadi ketika bakteri masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang terluka, selaput lendir, atau tertelan secara tidak sengaja saat seseorang kontak dengan air atau lingkungan yang terkontaminasi urin tikus. Risiko penularan meningkat signifikan pada musim hujan, terutama di wilayah yang tergenang air atau terdampak banjir,” jelasnya.
Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk lebih waspada saat beraktivitas di lingkungan berisiko, seperti dengan menggunakan alas kaki, sarung tangan, serta menghindari kontak langsung dengan air yang berpotensi terkontaminasi.
Lebih lanjut, drh. Tri menjelaskan bahwa setelah bakteri masuk ke dalam tubuh, gejala awal leptospirosis umumnya berupa demam. Namun, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan serius pada organ vital.
“Gejala awal biasanya demam, tetapi infeksi dapat berlanjut menjadi kerusakan organ dalam, seperti ginjal dan jantung. Tingkat keparahan ini juga dipengaruhi oleh jenis bakteri Leptospira, karena terdapat beberapa tipe yang berbeda. Inilah yang membuat leptospirosis berbahaya dan berpotensi mematikan,” terangnya.
Sebagai langkah pencegahan, ia mendorong pemerintah untuk meningkatkan prioritas penanganan leptospirosis, terutama pada musim hujan. Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan serta waspada terhadap potensi kontak dengan air yang terkontaminasi, guna menekan risiko penularan penyakit tersebut. (NF)

