Wisudawan Non Muslim Rasakan Toleransi
JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Di tengah keberagaman Indonesia, Universitas Muhammadiyah Jakarta menjadi ruang pendidikan yang terbuka bagi seluruh mahasiswa tanpa memandang latar belakang agama. Sejumlah mahasiswa non muslim memilih menempuh pendidikan di UMJ karena kualitas akademik, lingkungan kampus yang inklusif, serta nilai toleransi yang diterapkan dalam kehidupan kampus sehari-hari.
Wilfridus kado Wisudawan asal Nusa Tenggara Timur beragama Kristen dari Studi Magister Teknologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta (SPs UMJ). Ia memilih UMJ karena memiliki kualitas dan reputasi yang sudah terakreditasi serta memiliki kurikulum yang sangat relevan dengan kebutuhan zaman.
Wilfridus menjelaskan bahwa integrasi teknologi dalam pedagogi adalah hal yang mutlak. UMJ menawarkan ekosistem akademik yang mendukung pengembangan kompetensi digital tersebut, ditunjang oleh dosen-dosen yang pakar di bidangnya. Selain itu, fleksibilitas dan keterbukaan UMJ terhadap mahasiswa dari berbagai latar belakang menjadi nilai tambah yang memantapkan pilihan saya.
Sejak hari pertama kuliah, Wilfridus merasa kampus Muhammadiyah menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan profesionalisme akademik, Khususnya di UMJ. Tidak ada sekat atau perlakuan diskriminatif, semua mahasiswa memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk belajar, berdiskusi, dan berkembang.
“Toleransi di UMJ bukan sekadar jargon, melainkan tindakan nyata,” ujarnya.
UMJ memiliki kebebasan dalam mengeksplorasi gagasan akademik tanpa perlu khawatir latar belakang agama. Saat berdiskusi kelompok atau menyusun riset, yang dinilai adalah objektivitas ilmiah dan kualitas pemikiran.
“Ruang untuk berdialog antarumat beragama terbuka lebar secara sehat, di mana perbedaan tidak dianggap sebagai pemisah, melainkan kekayaan perspektif,” tambahnya.
Tantangan yang Wilfridus rasakan lebih bersifat adaptasi kultural terhadap istilah-istilah atau tradisi keislaman yang sering digunakan dalam pembuka perkuliahan. Namun, tantangan ini sama sekali tidak menjadi hambatan.
“Rekan-rekan mahasiswa dan para dosen sangat inklusif dan dengan senang hati menjelaskan, sehingga proses adaptasi sosial dan akademik berjalan dengan sangat alami dan cepat,” jelasnya.
Pengalaman ini semakin memperkuat keyakinan Wilfridus bahwa institusi pendidikan berbasis agama Islam ataupun kampus Muhammadiyah, mampu tampil sebagai payung yang teduh bagi semua golongan. Ia melihat bahwa kolaborasi lintas latar belakang adalah kunci utama untuk memajukan pendidikan nasional.
Wilfridus mengatakan berkuliah di UMJ meningkatkan kapasitas berpikir strategis dan praktis dalam merancang ekosistem digital di sekolah. Ia belajar bagaimana mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI), mengelola platform learning management system (LMS), dan melakukan riset pengembangan instruksional yang berdampak nyata.
“Jejaring profesional dan kedewasaan cara pandang tentang keberagaman menjadi modal berharga yang saya bawa pulang ke daerah asal,” ujarnya.
Menurutnya Muhammadiyah sangat menekankan etos berkemajuan bagaimana untuk terus berinovasi dan tidak statis. Nilai ini sangat sejalan dengan semangat Teknologi Pendidikan. Selain itu, nilai memanusiakan manusia tanpa memandang suku, ras, atau agama sangat terasa dalam interaksi sehari-hari di kampus.
Kampus Muhammadiyah, seperti UMJ adalah lembaga pendidikan yang berasaskan amanah, profesionalisme, dan inklusivitas tinggi. Kuliah di UMJ, memberikan kesempatan langka untuk memperluas cakrawala, belajar merawat kebhinekaan secara nyata, dan mendapatkan kualitas pendidikan yang unggul.
“Jangan pernah ragu, karena anda akan dinilai berdasarkan integritas akademik dan kontribusi pemikiran Anda, bukan berdasarkan keyakinan Anda,” pesannya.
Wilfridus berharap UMJ terus mempertahankan dan memperkuat komitmennya sebagai kampus yang inklusif, humanis, dan berkemajuan. Semoga UMJ terus membuka ruang-ruang dialog budaya dan akademik yang mempertemukan berbagai latar belakang mahasiswa, sehingga UMJ dapat terus menjadi laboratorium toleransi yang menginspirasi kampus-kampus lain di Indonesia.
Mendikdasmen: Jadilah Intelektual Solutif
Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Mendikdasmen RI), menyampaikan pesan inspiratif kepada seluruh wisudawan dan wisudawati agar mampu menjadi generasi intelektual yang memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara, dalam acara Sidang Senat Terbuka Wisuda Periode I Tahun 2026 sesi 2 Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) yang berlangsung di Auditorium KH. Azhar Basyir, Gedung Cendekia UMJ, Sabtu (23/05/2026).
Dalam sambutannya, Mu’ti mengajak seluruh hadirin untuk senantiasa bersyukur atas terselenggaranya wisuda angkatan pertama Tahun 2026 Gelombang Kedua UMJ. “Pada kesempatan ini, secara pribadi dan atas nama Pimpinan Pusat Muhammadiyah, serta mewakili Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Badan Pembina Harian Universitas Muhammadiyah Jakarta, saya menyampaikan selamat kepada Bapak Rektor beserta seluruh jajaran pimpinan Universitas Muhammadiyah Jakarta,” ujar Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMJ yang juga Sekretaris Umum PP Muhammadiyah ini.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh wisudawan dan wisudawati yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan pada jenjang Sarjana, Magister, hingga Doktor. Menurutnya, wisuda bukan sekadar seremoni akademik, melainkan titik awal memasuki fase baru kehidupan.
“Wisuda bukanlah sekadar sebuah seremoni, melainkan momentum penting sekaligus titik awal bagi saudara-saudara untuk melangkah menuju perjalanan baru dalam kehidupan dan karier profesional,” tambahnya.
Mu’ti menegaskan bahwa para lulusan memiliki tanggung jawab besar karena telah memperoleh ilmu pengetahuan dan kesempatan yang lebih baik dibanding banyak orang lainnya.
Sebagai Mendikdasmen RI, Ia menyoroti pentingnya kehadiran kaum intelektual dalam menjawab berbagai persoalan bangsa. Mengutip pesan yang kerap disampaikan Presiden RI Prabowo Subianto, Mu’ti mengatakan bahwa akademisi dan ilmuwan harus hadir di tengah masyarakat untuk memberikan solusi nyata bagi pembangunan bangsa.
“Kita tidak dapat memungkiri bahwa masih banyak persoalan di negeri ini. Namun persoalan tersebut dapat diselesaikan apabila para intelektual hadir dan mengambil peran melalui gagasan, inovasi, dan karya nyata,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan pesan moral kepada para lulusan agar tidak hanya sibuk menyalahkan keadaan. “Jika di sekitarmu gelap, jangan hanya menyalahkan kegelapan dan meratapinya. Jika di sekitarmu gelap, nyalakanlah cahaya. Dan itulah sesungguhnya peran yang harus dilakukan oleh para intelektual,” pesannya.
Menutup sambutannya, Mu’ti mengungkapkan pengalamannya saat berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri dan bertemu dengan alumni UMJ yang dinilainya mampu menunjukkan kualitas sebagai intelektual sekaligus profesional yang berdedikasi tinggi bagi bangsa dan negara. Karena itu, ia berpesan agar seluruh alumni senantiasa menjaga nama baik almamater di mana pun berada.
“Saya telah berkesempatan berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan ke beberapa negara, dan bertemu dengan alumni Universitas Muhammadiyah Jakarta. Mereka tidak hanya menjadi intelektual yang unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi profesional yang berdedikasi tinggi bagi bangsa dan negara.” tutupnya
Kisah Wisudawan Tunanetra FIP UMJ Berjuang di Tengah Keterbatasan
Menjadi mahasiswa difabel bukanlah perjalanan yang mudah. Tantangan mobilitas, akses materi kuliah, hingga stigma sosial menjadi bagian dari perjuangan sehari-hari. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Qurratul Ain atau yang akrab disapa Quin, wisudawan tunanetra Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Pendidikan (PBI FIP) UMJ yang berjuang di tengah keterbatasan.
Quin yang berasal dari Gunungsitoli, Nias menceritakan bahwa awal mula dirinya memilih UMJ berangkat dari kondisi dirinya yang baru saja menjadi disabilitas netra. Saat itu, ia mengaku belum memiliki gambaran maupun informasi mengenai akses pendidikan untuk penyandang disabilitas.
“Sampai akhirnya, saya mulai memperbanyak relasi dan pertemanan. Dari sanalah pintu-pintu informasi terbuka, teman-teman banyak membantu dan mengarahkan saya step-by-step untuk mendaftar ke UMJ,” ujarnya.
Quin juga mengatakan bahwa keluarganya, mulai dari orang tua hingga buyutnya, merupakan sosok yang aktif menjaga dan mengembangkan Muhammadiyah di daerah asal mereka. Karena itu, ia mengaku sudah sangat akrab dengan Muhammadiyah sejak kecil, bahkan menempuh pendidikan TK dan SD di sekolah Muhammadiyah.
Terkait pilihannya mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Quin mengaku keputusan tersebut merupakan kombinasi antara keberanian dan pencarian jati diri sebagai penyandang disabilitas netra.
“Kalau ditanya kenapa pilih Pendidikan Bahasa Inggris, sebenarnya ini kombinasi antara nekat dan cocologi sih, hahaha. Bermodalkan suka bahasa Inggris, padahal kemampuan saya waktu itu sangat minim,” tuturnya.
Selain itu, Quin menganggap kalau profesi guru paling cocok dan aksesibel untuk dirinya sebagai penyandang tunanetra.
Saat pertama kali menjalani perkuliahan di tahun 2021, Quin mengaku sempat merasa takut dan overthinking, terlebih karena perkuliahan dilaksanakan secara daring akibat pandemi Covid-19.
“Muncul ketakutan-ketakutan yang wajar dirasakan oleh teman-teman disabilitas pada umumnya: ‘Apakah saya bisa diterima di sini?’, ‘Apakah nanti saya akan dibully atau diledek?’, dan ‘Mampu tidak ya saya mengikuti semua materi kuliah?’,” katanya.
Namun, setelah menjalani perkuliahan, ia merasa kekhawatiran tersebut tidak terjadi seperti yang dibayangkannya. Selama kuliah, Quin menghadapi berbagai tantangan, mulai dari mobilitas menuju kelas, materi visual dari dosen, hingga modul kuliah berbentuk gambar yang tidak dapat dibaca aplikasi screen reader miliknya.
“Tantangannya lumayan dinamis ya, bisa dibilang setiap hari menjalani hidup sebagai disabilitas netra itu adalah tantangan tersendiri,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya harus berulang kali mengedukasi dosen mengenai cara memberikan materi dan tugas yang lebih aksesibel bagi mahasiswa tunanetra.
“Mau tidak mau, kuncinya hanya satu: komunikasi yang aktif dan asertif. Solusinya sebenarnya sederhana, saya tidak boleh pasif,” jelas Quin.
Menurutnya, komunikasi menjadi jembatan utama untuk mengatasi berbagai keterbatasan fisik yang dihadapinya selama proses perkuliahan. Motivasi terbesar Quin dalam menyelesaikan pendidikan berasal dari kesadaran akan masa depan dan kondisi ekonomi keluarga.
“Saya sadar bahwa saya bukan dari keluarga yang bergelimang harta, saya sadar suatu hari nanti orang tua akan meninggalkan saya selamanya, dan saya sangat sadar bahwa pendidikan adalah salah satu jalan utama untuk memutus rantai kemiskinan,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya membekali diri dengan kemampuan intelektual dan keterampilan sosial sebagai penyandang disabilitas netra.
Dalam proses perkuliahan, Quin mengaku mendapatkan dukungan besar dari teman-teman dan dosennya. Ia mengatakan teman-temannya tidak pernah membeda-bedakan dirinya dan sering membantu mobilitas sehari-hari. “Bahkan mereka sering sekali sukarela antar-jemput saya ke kosan, sebuah kebaikan yang sangat saya apresiasi,” katanya.
Selain itu, Quin mengungkapkan pengalaman paling berkesan selama menjadi mahasiswa UMJ adalah ketika dirinya mulai jatuh cinta dengan dunia pendidikan, khususnya saat mempelajari Psikologi Perkembangan Anak.
“Awalnya saya sempat merasa salah jurusan karena sebenarnya saya kurang tertarik pada dunia pendidikan atau menjadi guru. Namun lambat laun, seiring berjalannya kuliah, saya mulai jatuh cinta,” ujarnya.
Sebagai wisudawan tunanetra, Quin berharap UMJ dapat terus meningkatkan dukungan terhadap mahasiswa disabilitas dengan membentuk Lembaga Layanan Disabilitas (LLD), memperhatikan kebutuhan aksesibilitas mahasiswa, serta membantu pengurusan Beasiswa ADIK Difabel dari pemerintah.
“Jika universitas merasa belum mampu menanggung penuh biaya kuliah mahasiswa disabilitas secara mandiri, tidak apa-apa. Namun setidaknya, tolong bantu dan fasilitasi kami untuk mengurus Beasiswa ADIK Difabel dari pemerintah,” harapnya.
Di akhir wawancara, wisudawan tunanetra ini memberikan pesan kepada mahasiswa difabel lainnya agar tetap semangat dan tidak menyerah dalam menempuh pendidikan.
“Jangan pernah menyerah. Saya tahu persis bagaimana rasanya menjalani perkuliahan dengan kondisi netra atau disabilitas lainnya itu dinamikanya susah-susah gampang. Namun, perjuangkanlah apa yang sudah kamu pilih sejak awal. Kita tidak boleh gagal di tengah jalan,” tutup Quin.
Wisudawan Internasional
Khleg Gamal Mohammed Al-Yamani, Wisudawan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta (FKM UMJ), menyampaikan pidato sebagai perwakilan wisudawan dalam Sidang Terbuka Senat UMJ Wisuda Periode I Tahun 2026.
Khleg menyampaikan rasa syukur atas perjalanan panjang yang telah wisudawan tempuh. Ia menekankan bahwa wisuda bukan sekadar tanda kelulusan, tetapi bukti kerja keras, kesabaran, dan harapan yang terus dijaga. “Setelah bertahun-tahun bekerja keras, menghadapi tantangan dan menjaga harapan, akhirnya kami mencapai momen ini,” ujar Khleg.
Sebagai mahasiswa internasional, Khleg menyebutkan bahwa UMJ telah menjadi tempat yang menerima keberagaman budaya dan mempersatukan mahasiswa dari berbagai negara melalui ilmu pengetahuan. Ia menegaskan bahwa dukungan teman, dosen, dan sivitas akademika membuat kampus ini terasa seperti rumah kedua.
“Di UMJ, kami belajar bahwa perbedaan budaya bukanlah penghalang. Melainkan kesempatan untuk saling mengenal dan dipersatukan oleh ilmu pengetahuan,” katanya.
Khleg juga mengenang pengalaman pengabdian masyarakat di Malaysia, yang mengajarkan nilai kebersamaan dan pentingnya solidaritas antar mahasiswa dari berbagai latar belakang. “Perjalanan itu mengingatkan kami bahwa meskipun berasal dari negara dan dialek yang berbeda, kami tetap mampu menjadi seperti keluarga,” ungkap Khleg.
Ia juga membagikan pesan inspiratif dari sebuah puisi yang selalu menjadi motivasi selama menempuh studi. “Bertahun-tahun usaha dan meski terasa panjang, pasti akan berakhir pada waktunya. Dengan pertolongan Allah, harapan tidak akan pernah gagal. Setelah kesulitan itu akan datang kelapangan dan kemudahan,” tutur Khleg.
Selain itu, Khleg menyitir inspirasi dari Nelson Mandela mengenai pentingnya pendidikan. “Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat kita gunakan untuk mengubah dunia,” tambahnya.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Rektor UMJ, Prof. Dr. Ma’mun Murod, M.Si., serta Dekan FKM, Dr. Erni, dan seluruh dosen dan staf atas dukungan selama perjalanan akademik. Khleg juga berterima kasih kepada pembimbingnya, Dewi Permowati dan Munaya Fauziah, serta orang tua yang selalu memberi doa dan dukungan.
Khleg menutup pidatonya dengan harapan agar UMJ terus berkembang menjadi kampus yang menyambut mahasiswa dari seluruh dunia. Ia menekankan pentingnya ilmu, kebaikan, dan nilai-nilai kemanusiaan sebagai landasan pendidikan di universitas ini.
Sebanyak 1.176 mahasiswa UMJ resmi dinyatakan lulus dalam prosesi wisuda Program Doktor ke-14, Spesialis ke-9, Program Sarjana ke-83, dan Diploma Tiga pada tahun akademik 2025/2026.
Turut hadir Sekretaris Kopertais Wilayah I, Dr. Abdul Mu’in, M.Pd., Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Dr. Jamhari Makruf, Duta Besar Yaman untuk Indonesia H.E. Mr. Salem Ahmed Balfakeeh, dan Ketua DPRD Tangerang Selatan H. Abdul Rasyid, S.Ag., M.A.P.

