MEDAN, Suara Muhammadiyah – Penguatan seni dan budaya di lingkungan Muhammadiyah dinilai perlu dimulai dari ruang pendidikan. Sekolah menjadi salah satu tempat strategis untuk menanamkan kepekaan rasa, kreativitas, sekaligus pengalaman kebudayaan kepada generasi muda.
Gagasan tersebut menjadi salah satu fokus dalam Workshop Peningkatan Kompetensi Guru Seni dan Budaya se-Sumatera Utara yang diselenggarakan Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah bersama LSB PWM Sumatera Utara dan LSB PDM Kota Medan pada 11–13 September 2026.
Workshop tidak hanya menghadirkan pembekalan bagi para guru, tetapi juga memberikan ruang praktik penciptaan karya. Peserta dari berbagai jenjang pendidikan diarahkan untuk mengembangkan kemampuan dalam bidang sastra maupun seni rupa sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Pada Sabtu (12/9), guru TK/KB/MA dan SD/MI mendapatkan materi cipta sastra yang meliputi dongeng, pantun, dan syair. Sementara guru SMP/MTs serta SMA/SMK/MA mengikuti praktik cipta seni rupa berupa sketsa dan drawing.
Materi kemudian berlanjut pada sesi siang. Guru TK/KB/MA dan SD/MI mengikuti workshop drawing dan coloring, sedangkan guru SMP/MTs serta SMA/SMK/MA memperoleh materi penciptaan puisi, cermin, dan cerpen.
Wakil Ketua LSB PP Muhammadiyah, Kusen atau yang dikenal sebagai Kyai Cepu, mengatakan bahwa upaya membangun kebudayaan di Muhammadiyah tidak dapat dilakukan secara instan. Menurutnya, proses tersebut perlu dimulai secara perlahan dari lingkungan yang paling dekat dengan kehidupan warga Persyarikatan.
“Pelan-pelan, insyaallah mulai berkebudayaan. Karena kemajuan tanpa kebudayaan adalah bar-bar,” ujar Kyai Cepu.
Ia melihat pendidikan memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Guru bukan hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi penghubung pertama bagi peserta didik untuk mengenal karya seni, sastra, serta berbagai pengalaman kebudayaan.
“Pengembangan seni dan budaya harus dimulai dari lingkungan pendidikan,” tegasnya.
Menurut Kyai Cepu, pengenalan seni rupa dan sastra sejak usia dini juga membuka peluang lahirnya karya-karya baru dari lingkungan sekolah Muhammadiyah. Karya tersebut tidak berhenti sebagai tugas pembelajaran, tetapi dapat dikembangkan dan didokumentasikan dalam bentuk karya yang lebih luas.
“Karya-karya mereka nantinya, insyaallah, dapat diterbitkan dalam bentuk antologi sastra. Ilustrasinya juga bisa didukung oleh karya seni rupa mereka sendiri,” ungkapnya.
Ia menambahkan, perkembangan aktivitas seni di sejumlah daerah yang menjadi kantong Muhammadiyah menunjukkan adanya potensi yang dapat terus dikembangkan. Komunitas seni pertunjukan, teater, hingga kegiatan pameran mulai tumbuh di berbagai tempat.
Potensi tersebut, kata dia, perlu mendapatkan ruang agar berkembang menjadi ekosistem kebudayaan yang lebih kuat. Karena itu, pendidikan menjadi salah satu fondasi penting untuk menyiapkan generasi sekaligus calon pelaku seni dan budaya di lingkungan Persyarikatan.
Lebih jauh, LSB PP Muhammadiyah juga membayangkan hadirnya ruang kebudayaan yang mempertemukan warga Muhammadiyah dengan para seniman. Peristiwa budaya tersebut diharapkan mampu menjadi pengalaman yang dinantikan dan memiliki daya hidup bagi Persyarikatan.
“Kita ingin para penggembira yang datang merindukan sebuah peristiwa budaya. Karena itu, yang tampil nanti adalah para seniman. Saya menyebutnya Lebaran Seniman Muhammadiyah se-Indonesia,” kata Kyai Cepu.
Semangat penciptaan karya juga menjadi bagian dari rangkaian workshop. Karya yang dikumpulkan peserta akan menjadi bagian dari parade pameran seni pertunjukan cipta karya peserta pada Ahad (13/9). Dengan demikian, kegiatan ini tidak berhenti pada proses pelatihan, tetapi diarahkan hingga menghasilkan karya dan ruang apresiasi.
Bagi LSB PP Muhammadiyah, penguatan kompetensi guru merupakan salah satu langkah untuk memperluas ekosistem seni dan budaya di lingkungan Persyarikatan. Semakin banyak guru yang memiliki kemampuan dan pengalaman berkesenian, semakin terbuka pula ruang bagi peserta didik untuk tumbuh dengan kreativitas dan kepekaan kebudayaan.
Ikhtiar tersebut menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah untuk memperkuat dakwah kultural sekaligus membangun peradaban melalui seni dan budaya. Pendidikan diharapkan tidak hanya menghasilkan generasi dengan kemampuan akademik, tetapi juga memiliki kepekaan rasa, kreativitas, dan kesadaran kebudayaan. (Faishal)

