YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi Islam paling menonjol dalam mengejawantahkan dakwah di bidang pendidikan dan kesehatan.
Bagi Kiai Tafsir, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, dakwah ini mewujud dalam praksis nyata dan dirasakan kebermanfataanya oleh masyarakat.
Namun, sesungguhnya, era saat ini yang perlu ditonjolkan Muhammadiyah di luar bidang dakwah tersebut.
“Karena yang sosial kita anggap sudah selesai,” kata Tafsir, saat Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo, Sabtu (3/1) di SM Tower Malioboro Yogyakarta.
Dikerucutkan Tafsir, dakwah di bidang ekonomi, sebagai kans dakwah ke depan. “Ini menjadi semangat kita,” ucapnya, dengan optimisme. Adapun, manifestasinya dengan menjadi sociopreneur (wirausaha kecil).
“Muhammadiyah sebagai sosiopreneur. Ormas yang membangun kewirausahaan,” tegasnya.
Tafsir mendorong untuk lebih fokus bergerak di situ. “Ditangani secara profesional,” tekannya.
Pun juga halnya, tetap mengutamakan nilai-nilai sosialnya tanpa tercerabut dari esensi dakwahnya itu sendiri sebagaimana yang telah melekat di dalam rahim Muhammadiyah.
“Harus ada sisi sosialnya. Maka namanya bagus sekali, amal usaha, gitu, kan. Sekalipun amal, tetap usaha, profesional,” pesanya.
Termasuk, mencontohkan dalam pengelolaan sekolah. Tafsir menegaskan, tidak perlu menambah sekolah. "Sudah banyak," ucapnya.
Justru yang digenjot sekarang ini yaitu mengembangkan sekolah yang lebih profesional lagi. "Sekarang kita butuh sekolah yang kelas premium," jelasnya.
Oleh karena itu, kini semakin dituntut upaya membingkai socioprenuer ke dalam denyut nadi jejak dakwah Muhammadiyah pada saat ini.
"Semangat membangun pasar, semangat industri, semangat membangun ketahanan pangan, itu sekarang tren kita," tandasnya. (Cris)

