Analisis Identitas Khidir: Antara Nubuat, Spiritualitas, dan Teori Malaikat

Publish

20 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
119
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Analisis Identitas Khidir: Antara Nubuat, Spiritualitas, dan Teori Malaikat

Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Kisah pertemuan antara Nabi Musa dan sosok misterius yang dikenal dalam tradisi Islam sebagai Khidir merupakan salah satu narasi yang paling memikat sekaligus memancing perdebatan intelektual yang mendalam dalam sejarah tafsir Al-Qur'an. 

Lewat tulisan ini, saya ingin menelusuri kembali identitas hamba Allah yang disebutkan dalam Surat Al-Kahfi ayat enam puluh lima tersebut. Al-Qur'an sendiri secara eksplisit tidak pernah menyebutkan nama "Khidir." Kitab suci tersebut hanya menyebutnya sebagai salah satu hamba di antara hamba-hamba Allah yang telah dikaruniai rahmat dan diajarkan ilmu langsung dari sisi-Nya, atau yang sering disebut sebagai ilmu ladunni. 

Nama Khidir, yang secara harfiah berarti "Yang Hijau," muncul dari literatur hadis dan tradisi lisan Islam yang kemudian melekat erat dalam kesadaran umat Muslim selama berabad-abad. Namun, pertanyaan mendasar yang terus menghantui para mufasir adalah mengenai hakikat keberadaan sosok ini: apakah dia seorang manusia biasa, seorang nabi yang memiliki derajat tinggi, ataukah sebenarnya dia adalah entitas malaikat yang mewujud dalam rupa manusia.

Ketidakpastian identitas ini menjadi misteri yang sangat menarik karena tindakan-tindakan yang dilakukan Khidir dalam perjalanannya bersama Musa tampak bertentangan dengan logika hukum syariat yang lahiriah. Dalam tradisi tafsir klasik, terdapat spektrum pendapat yang sangat luas. Al-Mawardi, seorang ulama besar yang wafat pada pertengahan abad kelima Hijriah, mencatat adanya dua pendapat utama pada masanya. Pendapat pertama menyatakan bahwa Khidir adalah seorang malaikat, sedangkan pendapat kedua menganggapnya sebagai manusia. 

Menariknya, pendapat yang menyebut Khidir sebagai malaikat sempat seolah-olah terlupakan dalam tradisi penulisan tafsir selama ratusan tahun. Ini merupakan fenomena unik dalam penulisan tafsir di mana karya-karya yang lebih baru cenderung meringkas atau menyalin poin-poin dari karya sebelumnya. Jika seorang penulis tafsir pada suatu waktu memutuskan untuk tidak menyertakan sebuah pendapat karena alasan tertentu, maka pendapat tersebut bisa hilang dari peredaran intelektual untuk waktu yang lama. 

Hal ini terjadi pada teori malaikat tersebut hingga Ibnu Katsir, yang hidup pada abad kedelapan Hijriah, memunculkannya kembali dengan merujuk pada catatan Al-Mawardi. Meskipun Ibnu Katsir sendiri pada akhirnya bersikap agnostik dan menyerahkan hakikat identitas Khidir sepenuhnya kepada pengetahuan Allah, kemunculan kembali ide ini memberikan ruang bagi diskusi modern.

Saya sendiri cenderung berpihak pada pendapat bahwa Khidir adalah seorang malaikat, sebuah pandangan yang juga dibela secara gigih oleh pemikir besar modern, Sayyid Abul A'la Maududi dalam karyanya Tafhim-ul-Quran. Alasan utama di balik argumen ini berkaitan erat dengan masalah legalitas dan moralitas tindakan Khidir. Dalam narasi Al-Qur'an, Khidir melakukan tindakan yang secara lahiriah sangat ekstrem, yaitu membunuh seorang anak muda tanpa alasan yang tampak secara kasat mata. Maududi berargumen bahwa jika Khidir adalah seorang manusia, maka tindakannya tersebut akan menjadi preseden yang sangat berbahaya bagi hukum dunia. 

Seorang manusia, meskipun dia seorang nabi, tetap terikat pada hukum-hukum Allah yang bersifat lahiriah di dunia ini. Jika seorang manusia bisa dengan bebas membunuh orang lain dengan klaim mendapatkan wahyu atau inspirasi ilahi yang tidak diketahui orang lain, maka tatanan hukum masyarakat akan runtuh. 

Sebaliknya, jika sosok tersebut adalah malaikat, maka dilema hukum ini dapat terselesaikan. Malaikat adalah eksekutor kehendak Tuhan yang tidak terikat pada tanggung jawab hukum manusia. Mereka menjalankan perintah Allah atas alam semesta, seperti malaikat maut yang mengambil nyawa setiap hari tanpa perlu memberikan penjelasan kepada manusia. Dengan demikian, tindakan mencabut nyawa anak tersebut bukanlah sebuah kejahatan, melainkan bagian dari pelaksanaan takdir ketuhanan yang dijalankan oleh agen non-manusia.

Selain menyelesaikan kebuntuan moral terkait pembunuhan tersebut, teori malaikat juga menjawab kegelisahan mengenai posisi hierarkis antara Musa dan Khidir. Nabi Musa adalah salah satu rasul terbesar yang memiliki kedudukan sangat tinggi dalam sejarah kenabian. Pertanyaan muncul ketika Musa digambarkan harus mengikuti dan belajar dari "seorang hamba" yang tampaknya memiliki otoritas lebih tinggi darinya. Jika hamba tersebut adalah manusia biasa atau bahkan nabi lain, maka muncul kerumitan mengenai wilayah kekuasaan dan derajat kenabian mereka. 

Namun, jika Khidir dipandang sebagai malaikat, maka hubungan tersebut menjadi lebih logis secara teologis. Hal ini mirip dengan hubungan antara Nabi Muhammad dengan Malaikat Jibril. Seorang nabi belajar dari malaikat adalah hal yang lumrah dalam proses turunnya wahyu. Dalam konteks ini, Khidir berfungsi sebagai utusan surgawi yang dikirim khusus untuk memberikan pelajaran tentang hikmah tersembunyi di balik peristiwa-peristiwa dunia yang tampak tidak adil. Pelajaran ini sangat penting bagi Musa untuk memperkuat perannya sebagai pemimpin umat yang seringkali harus menghadapi kenyataan hidup yang pahit dan sulit dimengerti secara logika sederhana.

Pandangan ini tentu berbeda dengan sarjana modern lainnya seperti Muhammad Asad. Dalam tafsirnya, Asad cenderung melihat sosok Khidir bukan sebagai entitas fisik yang nyata, melainkan sebagai personifikasi dari konsep "kebijaksanaan" atau "sang bijak" dalam sebuah narasi yang bersifat alegoris. Asad menganggap cerita ini sebagai sebuah legenda spiritual yang dirancang untuk menyampaikan pesan mendalam tentang keterbatasan persepsi manusia terhadap rencana Tuhan yang agung. Bagi Asad, fokus utamanya bukanlah pada identitas biologis atau metafisik Khidir, melainkan pada simbolisme perjalanan tersebut. 

Sementara itu, terjemahan modern seperti karya Safi Kaskas mencoba menjembatani pemahaman ini dengan tetap menggunakan istilah hamba atau pria, namun dengan catatan bahwa sosok tersebut memiliki akses pengetahuan yang tidak dimiliki oleh manusia pada umumnya. Meskipun Khidir disebut sebagai "pria" dalam beberapa riwayat atau terjemahan, hal itu tidak serta-merta menggugurkan kemungkinan bahwa dia adalah malaikat. Al-Qur'an mencatat bahwa malaikat sering kali menampakkan diri dalam rupa manusia yang sempurna, seperti saat Malaikat Jibril mendatangi Maryam atau saat para malaikat mengunjungi Nabi Ibrahim dan Nabi Luth.

Secara akademis dan sastra, Khidir dapat dilihat sebagai arketipe guru spiritual atau mentor misterius yang muncul secara tiba-tiba untuk mengubah arah hidup sang pahlawan. Dalam bidang sastra Inggris, pola ini sangat dikenal dalam analisis narasi perjalanan pahlawan. Khidir mewakili sisi esoteris dari agama, yang seringkali berbenturan dengan sisi eksoteris atau hukum formal yang diwakili oleh Musa. 

Pertemuan mereka adalah dialog antara hukum yang terlihat dan kebenaran yang tersembunyi. Khidir mengajarkan bahwa apa yang tampak sebagai bencana, seperti rusaknya perahu nelayan, sebenarnya bisa menjadi penyelamat dari kejahatan yang lebih besar, seperti penyitaan oleh raja yang zalim. Begitu pula dengan pembangunan kembali tembok yang runtuh demi melindungi harta anak yatim, yang menunjukkan bahwa kebaikan seringkali dilakukan tanpa mengharapkan imbalan langsung dan bekerja dalam garis waktu yang jauh lebih panjang daripada umur manusia.

Kesimpulannya, perdebatan mengenai apakah Khidir seorang malaikat atau manusia bukan sekadar latihan intelektual yang sia-sia, melainkan sebuah upaya untuk memahami bagaimana Tuhan berinteraksi dengan dunia dan bagaimana manusia seharusnya bersikap di hadapan misteri ketuhanan. Dengan memandang Khidir sebagai malaikat, kita mendapatkan penjelasan yang lebih rapi mengenai konsistensi hukum Tuhan. Hal ini memungkinkan kita untuk menerima bahwa ada dimensi realitas yang digerakkan langsung oleh kehendak Allah melalui perantara malaikat-Nya, yang tidak selalu harus sejalan dengan standar etika manusia yang terbatas. 

Pada akhirnya, baik dia malaikat maupun manusia, Khidir tetap menjadi simbol abadi bagi setiap pencari kebenaran bahwa di balik setiap kejadian yang tidak masuk akal, terdapat hikmah yang luas dan kasih sayang Tuhan yang mendalam, yang hanya bisa disingkap melalui kesabaran dan kerendahan hati dalam belajar. Kisah ini terus relevan bagi siapa saja yang merasa bingung dengan ketidakadilan dunia, mengingatkan bahwa ada tangan-tangan gaib yang bekerja untuk memastikan bahwa pada akhirnya, rencana Tuhan adalah yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Ketika Uang Tak Boleh Tidur: Pelajaran dari Purbaya dan Al-Qur’an Oleh: Rusydi Umar, Dosen FT....

Suara Muhammadiyah

8 November 2025

Wawasan

Anak Saleh (35)Oleh: Mohammad Fakhrudin/Warga Muhammadiyah "Anak saleh bukan barang instan. Dia dip....

Suara Muhammadiyah

20 March 2025

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Artikel ini mencoba memahami ke....

Suara Muhammadiyah

27 May 2024

Wawasan

Menelaah Gerakan Ilmu dalam Gerakan Islam Berkemajuan  Oleh: Sutopo Ibnoris, PC IMM AR Fakhrud....

Suara Muhammadiyah

8 May 2024

Wawasan

SIAP TEMPUR Oleh: Joko Intarto ---------------Pengembangan platform penghimpunan wakaf uang dengan....

Suara Muhammadiyah

24 November 2023