Baba Harun: Keteladanan Kecil di Hari Raya Kurban
Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Legoso – Tangerang Selatan
Salah satu ajaran dalam agama Islam adalah berkurban dengan penyembelihan hewan seperti unta, sapi, kerbau, domba, atau kambing sebagai simbol ketaatan kepada Allah pada Hari Raya Iduladha. Ritual ini tidak dimaksudkan sebagai ajang pesta pora sambil menikmati daging kurban. Menurut M. Quraish Shihab, berkurban pada Hari Raya Iduladha merupakan bukti ketakwaan, kepedulian sosial, dan pengorbanan diri kepada Allah.
Oleh karena itu, esensi kurban terletak pada keikhlasan dan niat mendekatkan diri kepada Allah, bukan pada banyak atau mahalnya hewan kurban. Secara sosial, kurban juga dipahami sebagai sarana memperkuat solidaritas antarwarga melalui pembagian daging kepada fakir miskin dan masyarakat lainnya. Dengan demikian, Iduladha memiliki dimensi ibadah sekaligus kemanusiaan.
Di dalam komunitas Ranting Aisyiyah dan Muhammadiyah Legoso, ada TK Aisyiyah yang setiap tahun melakukan penyembelihan hewan kurban dari sumbangan para orang tua murid dan para pegiat Aisyiyah. Seperti biasa, momen ini menjadi medium perjumpaan warga persyarikatan yang membahagiakan. Lingkungan sekolah menjadi ramai oleh anak-anak kecil yang ingin melihat proses penyembelihan. Antrean kendaraan terkadang membuat jalanan yang tidak terlalu lebar itu menjadi terganggu. Seorang petugas parkir bernama Baba Harun harus bekerja ekstra keras untuk menertibkannya.
Baba Harun, menurut saya, patut dijadikan teladan pada momen Iduladha seperti ini. Seperti biasa, momen ini membuat para pengurus masjid, mushala, rumah yatim, pondok pesantren, dan sekolah berbasis agama menjadi sangat sibuk sejak beberapa minggu sebelum hari H. Kesibukan itu dimulai dari proses pengumpulan dana, pengadaan hewan kurban, penyembelihan, pencacahan, pembungkusan, hingga distribusi.
Proses panjang ini terkadang cukup melelahkan. Untuk pemotongan, ada yang menggunakan jasa rumah potong hewan profesional, tetapi pilihan itu dianggap dapat menghilangkan momen kebersamaan. Ada pula yang tetap menggunakan jasa pemotong hewan profesional, namun proses pembungkusan dan pembagiannya dilakukan oleh warga sendiri.
Kurban dan Ujian Keikhlasan Sosial
Ada yang berpandangan bahwa proses pengelolaan hewan kurban pada Hari Raya Iduladha dapat menjadi tolok ukur untuk melihat kepribadian seseorang, baik dari sisi pengurban, pengelola, maupun penerima manfaat hewan kurban. Misalnya, bagaimana para pengelola mampu mendistribusikan daging secara adil kepada mereka yang berhak menerimanya.
Dari sisi penerima, akan terlihat dari bagaimana mereka bersikap bijaksana saat menerima daging kurban secara ikhlas. Tantangannya muncul ketika daging yang diterima tidak sesuai harapan. Ada yang menginginkan daging sapi, tetapi ternyata mendapat daging domba. Ada pula yang menginginkan daging has dalam, tetapi mendapat bagian paha lalu merasa kecewa. Sebagian lainnya menggerutu karena kualitas daging dianggap alot, terlalu banyak tulang, dan sebagainya.
Saya tentu mengapresiasi para pengurban yang telah menyisihkan sebagian hartanya untuk berkurban. Namun, dari sisi sosial, kepribadian mereka juga dapat terlihat. Dalam praktiknya, terkadang ada saja perilaku pengurban yang merepotkan panitia. Misalnya, meminta bagian daging melebihi ketentuan, meminta bagian tertentu dari hewan kurban padahal jumlahnya sangat terbatas, mengubah permintaan secara mendadak, serta mengeluhkan hasil pembagian yang dianggap tidak sesuai harapan.
Ketahuilah, panitia telah bekerja keras melayani banyak orang. Mungkin sebagian pengurban lupa bahwa esensi lain dari ibadah kurban juga terletak pada keikhlasan, kerendahan hati, dan kemampuan untuk tidak memberatkan orang lain.
Teladan dari Peran Kecil
Kembali pada sosok Baba Harun yang saya sebutkan di atas. Sehari-hari, ia adalah petugas parkir motor di depan sekolah TK Aisyiyah Legoso. Sebagai warga Betawi asli, ia rajin beribadah di masjid dan mushala yang berada di sekitar rumahnya. Wajar jika ia menerima pemberian daging kurban, baik dari pengurus mushala, masjid, sekolah, maupun warga yang anak dan cucunya sering ia antar-jemput ke sekolah. Meski begitu, ia sudah tidak lagi mengonsumsi daging. Entah karena alasan kesehatan di usianya yang telah mencapai 74 tahun atau karena alasan lain.
Meski tidak lagi mengonsumsi daging, Baba Harun tidak pernah menolak pemberian daging kurban. Ia pun ahli dalam memasak sop Betawi. Selama puluhan tahun, ia pernah menjadi juru masak pada seorang juragan sop Betawi di Tanah Abang. Berbekal kemampuan itu, ia mengolah daging pemberian tersebut menjadi semur dan sop Betawi, lalu membagikannya kepada para tetangga, bahkan kepada orang-orang yang secara ekonomi lebih mampu darinya. Saya mendapat kiriman semur Betawi yang rasanya sangat lezat. Dagingnya empuk, bumbunya meresap, dan enak dinikmati bahkan oleh orang dengan kemampuan gigi yang terbatas.
Baba Harun telah menunjukkan sebuah perilaku terpuji. Ia tidak pernah meminta pemberian daging. Namun, ia juga tidak pernah menolak pemberian yang datang dari siapa saja. Sikapnya juga datar saja. Ia hanya mengucapkan terima kasih, lalu selesai.
Kebiasaan baik lainnya adalah, setiap ada prosesi penyembelihan hewan kurban, ia selalu berinisiatif mengambil peran yang sering diabaikan oleh orang lain. Misalnya, mengatur parkir kendaraan, mengantar nenek-nenek yang kesulitan mengambil daging kurban, hingga membersihkan kaki dan kepala kambing atau sapi atas permintaan orang lain. Semua itu ia lakukan dengan ikhlas demi memberi manfaat bagi sesama.
Di tengah hiruk-pikuk perayaan kurban, Baba Harun mengajarkan saya bahwa makna pengorbanan tidak selalu hadir dari mereka yang mampu berkurban dengan banyak hewan, apalagi dengan memanfaatkan jabatan, lalu menggunakan uang negara untuk berkurban atas nama dirinya.
Baba Harun mungkin belum mampu berkurban sapi atau unta, tetapi ia telah berkurban dari hati tulus dengan mengambil peran kecil demi meringankan orang lain. Dari tangannya yang sederhana, saya belajar bahwa keikhlasan, kerendahan hati, dan kesediaan melayani sesama adalah bentuk ibadah yang bisa menghidupkan nilai kemanusiaan dalam perayaan Iduladha.

