Bahagia Lebih dari yang Diminta
Oleh: Mohammad Fakhrudin
Artikel ini berkaitan dengan “Solusi Ilahi” yang telah dipublikasi 28 April 2026 di Suara Muhammadiyah online. Ada hal menarik yang perlu mendapat penekanan kembali berkaitan dengan balasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang yang betakwa. Sebagaimana dijelaskan di dalam ayat 2 dan 3 surat ath-Thalaq, “Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga.”
Perlu kita pahami dengan sebaik-baiknya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai hak prerogatif dalam hal menentukan kepada siapa saja balasan tersebut diberikan dan apa wujud balasan itu. Balasan berupa solusi dapat diberikan kepada siapa pun di antara berjuta-juta “orang bertakwa” yang sedang menghitung cermat dana yang diperlukan untuk suatu keperluan. Dapat saja solusi diberikan kepada mereka yang sedang mempunyai rencana misalnya membeli baju untuk suatu acara. Ketika itu mereka sedang menghitung berapa uang yang harus disediakan. Sampailah pada hitungan: untuk membeli bahan dan ongkos jahit, banyak uang yang harus disediakan. Berkenaan dengan itu, mereka belum memutuskan.
Hanya selang 30 menit, datang solusi dari Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui suami istri yang hadir dan memberikan hadiah berkenaan dengan telah selesainya perhelatan pernikahan anaknya. Dalam pernikahan anaknya itu kami "dituakan" sejak hitbah nikah karena mereka "yatim piatu". Dengan kata lain, kami dijadikan "orang tua pengganti".
Subhanallah! Bahan pakaian yang kami terima itu lebih bagus daripada baju yang dalam rencana akan kami beli dan bahan itu cukup untuk kami berdua.
Alhamdulillahi rabbil'alamin! Sungguh kami "bahagia lebih dari yang kami minta!"
Solusi agar Bersyukur
Tidak ada keraguan sedikit pun bagi muslim mukmin bahwa nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat banyak sehingga kita tidak dapat menghitungnya. Hal ini dijelaskan di dalam Al-Qur’an, antara lain, di dalam surat Ibrahim (14):34
وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌࣖ
“Dia telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya, manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur.”
Di dalam kehidupan nyata cukup banyak orang yang berpikiran bahwa nikmat itu uang banyak, rumah megah, mobil mewah, atau lainnya yang bersifat kebendaan. Orang yang berpikiran demikian jika mempunyai uang sedikit, rumah sederhana, dan mobil berusia pakai 15 tahun mengeluh. Hidupnya penuh kegelisahan seperti tidak memiliki harta apa pun.
Tidak pernah terlintas di pikirannya untuk melihat orang lain yang berkeadaan harta di bawahnya. Hal itu dapat terjadi karena mereka tidak pernah mengaji sehingga tidak tahu bahwa di dalam HR al-Bukhari dan Muslim dijelaskan, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم
“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.”
Dengan mengamalkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut hati kita tentulah tenang. Kita mengetahu bahwa di antara kita ternyata banyak yang lebih tak berpunya. Lalu, kita dengan sadar bersyukur atas semua yang ada pada kita.
Kita lalu bersyukur karena dapat (1) bernapas dengan hidung secara gratis di tempat bekerja, tempat mengaji, dan/atau di tempat lain yang sehat, (2) menggerakkan tangan dan kaki untuk berbagai keperluan, (2) duduk, mendengar, berbicara, melihat, menggeleng, mengangguk, menengadah, dan menengok, (3) melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah, dan (4) berolahraga, pergi ke tempat pengajian, ke pasar, ke kantor, atau ke tempat lain, dan masih banyak lagi yang dapat kita lakukan yang bernilai ibadah. Kita menyadari bahwa semua itu sesungguhnya merupakan nikmat yang jauh sangat tinggi nilainya (manfaatnya)!
Menurut Tafsir Al-Azhar karya Hamka, di dalam ayat 34 surat Ibrahim tersebut dinyatakan sebagaimana dikuatkan juga oleh ayat-ayat yang lain bahwa semua yang kita perlukan di dalam di hidup kita, telah disediakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal itu kita ketahui jika kita memakai pikiran untuk mencarinya dan mengggunakannya.
Menurut beliau, kadang-kadang ada juga barang yang terdapat di sekitar kita, ada faedahnya bagi kita, tetapi kita tidak menggunakan pikiran untuk menyelidiki akan gunanya sehingga terbuang percuma saja. Jika kita mengadakan penyelidikan dengan saksama, niscaya barang-barang yang tadinya kita sangka tidak berguna, temyata ada gunanya.
Masih menurut beliau: makin terasa hal itu jika kita menghitung nikmat-Nya pada diri kita sendiri, sejak kita lahir ke dunia, sampai kini. Dapatkah kita jumlahkan? Pasti tidak! Namun, di antara kita ada yang zalim kepada diri sendiri sebab kerap kali nikmat yang tidak dapat dihitung itu kita sia-siakan. Kita menganiaya diri sendiri.
Berbuat Baik sebagai Bentuk Nikmat
Orang yang bertakwa tidak akan pernah lelah berbuat kebaikan. Dia meyakini bahwa tidak setiap orang mau meskipun mampu berbuat kebaikan. Dia meyakini bahwa hal tersebut tidak lepas dari hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, dia berpikiran bahwa kemampuan dan kemauan berbuat kebaikan adalah nikmat yang diperoleh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Banyak orang dapat berucap salam ketika bertemu dengan tetangga, tetapi tidak semua orang mau melakukannya apalagi kepada anak-anak.kecil. Banyak orang dapat tersenyum ketika bertemu dengan sesama muslim mukmin dan tetangga sekaligus, tetapi berapa orang yang mau melakukannya?
Banyak orang dapat menulis salam “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh”, tetapi di antara kita ada yang lebih suka memilih. “Assalamu 'alaikum wr. wb.” Banyak orang dapat menjawab salam dengan menulis, “Wa ‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”, tetapi di antara kita banyak yang memilih, “Kumsalam” atau “Wa‘alaikum salam”.
Kefujuran dan Ketakwaan
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengilhamkan kefujuran dan ketakwaan kepada manusia sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an surat asy-Syams (91):8
فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ
“… lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya.”
Agar memilih ketakwaan, manusia diberi hidayah akal sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an misalnya di dalam surat al-Baqarah (2):266,
فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِۙ وَاَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهٗ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاۤءُۚ فَاَصَابَهَآ اِعْصَارٌ فِيْهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَࣖ
“Apakah salah seorang di antara kamu ingin memiliki kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, di sana dia memiliki segala macam buah-buahan. Kemudian, datanglah masa tua, sedangkan dia memiliki keturunan yang masih kecil-kecil. Lalu, kebun itu ditiup angin kencang yang mengandung api sehingga terbakar. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan(-nya).”
Ujung ayat itu berisi pernyataan Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa semua yang dijelaskan di dalam “kalimat-kalimat” sebelumnya agar kita pikirkan. Sangat jelas bagi kita bahwa memikirkan sesuatu tentu dengan akal. Kita diperintah memikirkannya karena diberi hidayah akal. Tidak mungkin tanpa akal kita disuruh berpikir.
Manusia juga diberi hidayah agama. Hidayah tersebut dapat kita ketahui di dalam Al-Qur’an, antara lain, di dalam surat al-Hajj (22):67,
لِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوْهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِى الْاَمْرِ وَادْعُ اِلٰى رَبِّكَۗ اِنَّكَ لَعَلٰى هُدًى مُّسْتَقِيْمٍ
“Bagi setiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang (harus) mereka amalkan. Mereka sekali-kali tidak boleh membantahmu (Nabi Muhammad) dalam urusan (syariat) itu dan serulah (mereka) kepada Tuhanmu. Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) benar-benar berada di atas petunjuk yang lurus.”
Menurut Hamka di dalam Tafsir Al-Azhar, ujung ayat itu berisi penjelasan bahwa selain dari menjaga syariat dan akidah, kaum muslimin pengikut Muhammad shallalahu 'alaihi wa sallam diperintah agar awas dan hati-hati. Jangan sampai karena kekurangan pengetahuan, lalu meniru-meniru agama lain, padahal bertentangan dengan Islam yang mempunyai peraturan sendiri. Dari penjelasan tersebut, kiranya dapat kita pahami bahwa manusia diberi hidayah agama.
Allahu a’lam

