Bahagia Menyambut Ramadhan

Publish

14 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
95
Sumber Foto Freepik

Sumber Foto Freepik

Bahagia Menyambut Ramadhan

Penulis: Dr. Amalia Irfani, M.Si, Sekretaris LPP PWM Kalbar/Dosen IAIN Pontianak 

Marhaban ya Ramadhan, tamu nan agung segara datang. Bulan penuh rahmat, ampunan dan maghirah dari Allah SWT. Kebahagiaan menyambut datangnya Ramadhan merupakan salah satu manifestasi dari iman dan syukur sebagai hamba. Kegembiraan tersebut menjauhkan jasad dari api neraka. Allah SWT berfirman : "Katakanlah (Muhammad), 'Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan". (QS. Yunus ayat 58). Dalam ayat lain Allah juga menerangkan tentang kemuliaan bulan suci Ramadhan,"...Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)..." (QS. Al-Baqarah ayat 185). 

Dari ayat diatas dapat dipahami bahwa, kebahagiaan menyambut datangnya Ramadhan adalah wujud konkrit berimannya seorang hamba kepada TuhanNya, juga kesempatan meraih ampunan serta keberkahan Tuhan pemilik kehidupan. Ramadhan bulan kesembilan dalam kalender Hijriah, disebut pula sebagai Syahrul Mubarak (bulan penuh berkah), Syahrush Shiyam (bulan puasa), dan Syahrul Qur'an (bulan diturunkannya Al-Qur'an). Ini menandakan betapa merugi seorang hamba jika tidak memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk melakukan amal sholeh, ibarat berniaga inilah masa kita mencari keuntungan atau penyimpanan (storage) untuk kehidupan kekal kelak. Karena hanya dibulan Ramadhan Allah melipatgandakan pahala. 

Rasulullah pun menjelaskan, "Barang siapa yang pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan perbuatan yang diwajibkan pada bulan lainnya. Dan, barangsiapa yang melakukan suatu kewajiban pada bulan itu, nilainya sama dengan 70 kali lipat dari kewajiban yang dilakukannya pada bulan lainnya. Keutamaan sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan." (HR. Bukhari-Muslim).”

Lalu seperti apa persiapan kita menjelang dan memasuki Ramadhan, agar momentum istimewa ini tidak berlalu tanpa kebaikan?

Pertama persiapan mental dan fisik. Kita harus memahami Ramadhan bukan sekedar menahan lapar dahaga saja, bukan hanya sebuah aktifitas tahunan untuk menjadikan hati berjilbab dengan penuh amal sholeh. Lebih dari itu Ramadhan adalah waktu terbaik melakukan introspeksi diri dan meluaskan interaksi kebaikan pada sesama. Kadang kita lalai memanfaatkan waktu, kesempatan melakukan amal sholeh dengan aktifitas dunia yang tidak pernah ada habisnya. Atau hal yang sepele tetapi mempengaruhi psikologis; banyak berkeluh kesah, sehingga hidup terasa hambar dan kurang bermakna. Kebahagiaan terasa jauh, padahal salah satu kunci bahagia menurut Ali bin Abi Thalib adalah hidup dengan kesederhanaan walaupun bergelimang harta. 

Kedua, Mengisi dengan amaliyah Ramadhan, yakni menyambut dengan antusiasme untuk melakukan shalat tarawih, tadarus, sedekah, dan puasa dengan penuh keikhlasan. Kita harus berusaha konsisten dengan hasil, bahwa Ramadhan adalah kesempatan yang Allah berikan untuk kita membersihkan hati, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Ketiga, menyambut Ramadhan dengan hati gembira. Mengapa ini penting untuk kita persiapkan, karena hati yang bahagia akan membuat ibadah menyenangkan serta ringan, meningkatkan optimisme berwujud keikhlasan tanpa mengharapkan pujian hamba Allah. Kemudian membuat kualitas ibadah kita pun berkualitas sebab dilakukan dengan senang, fokus menjadi khusyuk pemacu semangat ibadah. 

Keempat mempersiapkan kesehatan diri dan kebersihan lingkungan. Rasulullah mengingatkan, agar kita tidak membuang waktu sehat tanpa ada aktifitas bermanfaat dan bernilai ibadah sebelum datang masa sakit. Dalam pepatah bijak arab juga dijelaskan "Kesehatan adalah mahkota di atas kepala orang-orang yang sehat, yang tidak dapat dilihat kecuali oleh orang-orang yang sakit". 

Peringatan Rasulullah dan pepatah arab diatas harus menjadi alarm kita untuk senantiasa berupaya memanfaatkan nikmat sehat. Kita harus memaksakan diri dengan pola hidup yang juga teratur, misalnya konsumsi makan minum yang halal lagi baik, menjaga kualitas dan kuantitas ibadah. Khusus di bulan Ramadhan "memaksakan diri" dengan konotasi positif tidak berlebih-lebihan makan minum (misalnya) kecuali dalam memperbanyak ibadah kepada Allah SWT. 

Semoga ibadah Ramadhan tahun ini lebih baik dari sebelumnya. Lebih memberikan kita rasa untuk tidak lagi melalaikan waktu tetapi sebaliknya merasa takut menyia-nyiakan kesempatan disisa hidup yang kita pun tidak pernah tahu kapan hingga Allah memanggil melalui Malaikat Izrail. 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Pay Later Syariah Oleh: Joko Intarto Namanya ‘’BankZiska’’ Tapi BankZiska ....

Suara Muhammadiyah

30 October 2023

Wawasan

Imajinasi Memajukan Kesejahteraan Bangsa Oleh: Hendar Riyadi, Wakil Rektor I Universitas Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

18 November 2025

Wawasan

Maxwell Beach: Kisah Pengampunan yang Mengubah Hidup  Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu....

Suara Muhammadiyah

10 March 2025

Wawasan

Bisakah Muhammadiyah Menjawab Tantangan Kesehatan Mental? Oleh: Nurul Kodriati,Ph.D Hari kesehatan....

Suara Muhammadiyah

10 October 2023

Wawasan

Kekuasaan: Antara Amanah dan Alat Distribusi Keuntungan Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta&....

Suara Muhammadiyah

4 September 2025