Baitul Arqam SMK Muhammadiyah 4 Jakarta Soroti Bahaya Ketergantungan AI dan Media Sosial bagi Pelajar
JAKARTA, Suara Muhammadiyah — SMK Muhammadiyah 4 Jakarta menggelar Baitul Arqam bagi para siswa tahun pelajaran 2026/2027 pada Sabtu, 17/10. Kegiatan perkaderan yang sarat nilai spiritual dan keilmuan ini berlangsung khidmat di Masjid Al Muta'alimin, Komplek Perguruan Muhammadiyah Slipi, Jakarta Barat,
Sesuai dengan garis tajdid dan dakwah pencerahan Muhammadiyah, Baitul Arqam kali ini mengusung tema “Cerdas Bermedia, Beradab di Dunia Digital”. Majelis menghadirkan Dr. Gufron Amirullah, M.Pd., Wakil Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah sekaligus Tenaga Ahli Wamen Diktisaintek RI, untuk memberikan orientasi kepemimpinan dan keadaban digital kepada para peserta.
Dalam paparannya, Dr. Gufron menggarisbawahi pentingnya adab dan ketakwaan dalam memanfaatkan kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI) dan media sosial. Tenaga Ahli Wakil Menteri diktisaintek ini mengingatkan bahwa keterasingan emosional di dunia nyata telah mendorong banyak remaja menjadikan AI sebagai tempat curahan hati, di mana survei menunjukkan 88 persen siswa mencari dukungan emosional dari AI saat stres.
"Ketergantungan ini mengindikasikan makin besarnya rasa kesepian anak muda saat ini. Namun ingat, AI bukanlah dokter atau tenaga profesional. Hasil analisis AI sering kali keliru atau berlebihan. Jika butuh teman cerita, carilah guru BK, keluarga, atau tenaga profesional," tegas Dr. Gufron di hadapan ratusan peserta.
Lebih lanjut, dosen FKIP Uhamka ini memaparkan maraknya fenomena tawuran dan tindak kekerasan remaja yang dipicu oleh media sosial. Fenomena perselisihan di ruang digital yang berpindah menjadi pertikaian fisik di jalanan—seperti yang terjadi di beberapa daerah belakangan ini—merupakan cerminan dari lunturnya nilai-nilai akhlaqul karimah.
"Satu DM, satu provokasi, atau satu siaran langsung di media sosial bisa berujung pada jerat hukum. Banyak remaja hari ini terlibat perselisihan hanya demi eksistensi, validasi kelompok, atau konten video. Komunikasi instan di grup chat kerap mempercepat perencanaan aksi kekerasan tanpa memikirkan konsekuensinya," ungkapnya prihatin.
Selain penguatan mental dan akhlak, peserta juga diajak untuk menjaga amanah kesehatan tubuh melalui pola hidup seimbang. Penggunaan gawai berlebihan yang memicu malas bergerak dan pola makan buruk harus dihindari sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat sehat. Melalui pembekalan empat langkah ringkas—memeriksa durasi gawai, membatasi waktu layar, memperbanyak olahraga, serta menjaga pola makan dan tidur—diharapkan para kader Muhammadiyah ini mampu menjadi pelopor (muslih) di tengah masyarakat digital.
Kepala SMK Muhammadiyah 4 Jakarta, Adi Sugita, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi mendalam atas terselenggaranya kegiatan ini.
"Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas pembekalan yang sangat relevan ini. Harapan kami, seluruh siswa yang mengikuti Baitul Arqam tidak hanya menyerap ilmunya, tetapi mampu mengimplementasikan akhlaqul sosmediyah Netizen Muhammayah dalam kehidupan sehari-hari demi terwujudnya generasi pelopor yang berakhlak mulia dan berkemajuan," pungkas Adi Sugita.

