Belajar dari Ruang Kelas yang Sunyi
Oleh: Amrizal
Saya mulai mengajar sejak semester tiga kuliah tahun 2001. Bukan karena merasa paling mampu, melainkan karena kebutuhan. Saat itu, mengajar adalah cara bertahan hidup sekaligus ruang belajar yang sesungguhnya. Dari ruang-ruang kelas sederhana itulah saya mulai memahami bahwa pendidikan bukan sekadar profesi, melainkan proses panjang membentuk kesadaran—baik bagi murid maupun bagi guru itu sendiri.
Puncak dari pengalaman awal itu terjadi pada tahun 2002, ketika saya dan beberapa sahabat diberi amanah ikut mendirikan Madrasah Tsanawiyah Aisyiyah Wilayah Sumatera Utara. Murid pertama kami berjumlah tujuh orang. Tujuh. Sebuah angka yang barangkali hari ini terasa terlalu kecil untuk disebut “sekolah”. Namun justru dari angka kecil itulah saya belajar makna besar pendidikan.
Ruang belajar kami saat itu hanya satu ruangan berukuran sekitar 4 x 4 meter. Ruangan itu dibagi menjadi tiga sekat sederhana. Satu sekat menjadi ruang kelas, satu sekat ruang guru, dan satu sekat lainnya kami sebut dengan penuh harap sebagai ruang kepala sekolah. Tidak ada laboratorium, tidak ada perpustakaan, bahkan papan tulis pun seadanya. Yang ada hanyalah niat, keyakinan, dan semangat untuk menghadirkan pendidikan bagi mereka yang ingin belajar.
Ruang kelas itu sunyi. Sunyi dari hiruk pikuk administrasi, sunyi dari target angka-angka, sunyi dari tuntutan akreditasi. Namun justru dalam kesunyian itulah pendidikan hadir dalam bentuknya yang paling jujur.
Pendidikan sebagai relasi, bukan sekadar sistem
Di ruang kelas kecil itu, relasi antara guru dan murid terasa sangat dekat. Kami mengenal betul latar belakang setiap anak, memahami keterbatasan mereka, sekaligus menyaksikan harapan yang mereka bawa. Tidak ada jarak yang kaku. Tidak ada formalitas berlebihan. Yang ada adalah perjumpaan manusia dengan manusia.
Dari pengalaman itu saya belajar, pendidikan sejatinya tidak lahir dari megahnya bangunan atau canggihnya kurikulum, melainkan dari relasi yang hidup antara pendidik dan peserta didik. Relasi yang memanusiakan, bukan sekadar mengajar.
Pengalaman mengajar di MTs Aisyiyah Sumatera Utara menjadi fondasi cara pandang saya terhadap pendidikan hingga hari ini. Ketika kemudian saya mengajar di SMA, MA, lembaga bimbingan belajar, hingga akhirnya menjadi dosen, ingatan tentang ruang kelas sunyi itu selalu kembali. Ia menjadi pengingat bahwa esensi pendidikan sering kali justru hadir dalam kesederhanaan.
Ketika pendidikan terlalu ramai oleh formalitas
Seiring perjalanan waktu, dunia pendidikan kita justru semakin ramai. Ramai oleh regulasi, ramai oleh administrasi, ramai oleh berbagai indikator kinerja. Guru dituntut mengisi beragam dokumen, menyusun laporan, memenuhi target-target administratif yang sering kali menyita energi reflektif mereka.
Sebagai instruktur pelatihan guru, saya kerap berjumpa dengan para guru yang kelelahan. Bukan karena mengajar, tetapi karena terjebak dalam tumpukan kewajiban administratif. Banyak dari mereka mengeluh kehabisan waktu untuk membaca, merenung, dan mengembangkan diri sebagai pendidik.
Dalam konteks pendidikan nasional, kita seolah terlalu sibuk memastikan sistem berjalan, tetapi lupa bertanya apakah pendidikan benar-benar hidup. Kita mengukur mutu dengan angka, menilai keberhasilan dengan capaian formal, sementara proses pembentukan karakter dan kesadaran sering kali terpinggirkan.
Pengalaman awal di ruang kelas sunyi itu mengajarkan saya bahwa pendidikan yang terlalu ramai oleh formalitas justru berisiko kehilangan ruhnya.
Pendidikan Muhammadiyah dan spirit awal
Sebagai bagian dari Muhammadiyah, saya memandang pendidikan bukan sekadar layanan publik, tetapi juga amal usaha yang sarat nilai. Sejak awal, pendidikan Muhammadiyah lahir dari keterbatasan, namun dibangun dengan spirit tajdid dan keberanian untuk menghadirkan alternatif.
MTs Aisyiyah Sumatera Utara adalah contoh kecil dari semangat itu. Ia tidak lahir dari kelimpahan, tetapi dari keyakinan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang bermakna. Spirit itulah yang seharusnya terus kita rawat di sekolah-sekolah Muhammadiyah hari ini.
Namun, dalam perjalanan saya mendampingi dan mengkonsultasi berbagai sekolah Muhammadiyah, saya juga menyaksikan kegelisahan yang sama: antara menjaga identitas nilai dan memenuhi tuntutan sistem. Sekolah sering kali dipaksa menyesuaikan diri dengan logika pasar dan kompetisi, sementara nilai-nilai pendidikan sebagai proses pembentukan manusia perlahan terdesak.
Kita perlu jujur bertanya: apakah sekolah Muhammadiyah hari ini masih setia pada spirit awalnya, atau justru larut dalam arus formalitas yang membuat pendidikan kehilangan kedalaman?
Pendidikan sebagai Proses, Bukan Produk Instan
Dalam kajian ilmu pendidikan, pendidikan dipahami sebagai proses jangka panjang. Ia bukan produk instan yang bisa dihasilkan melalui prosedur cepat. Pengalaman lapangan saya—dari guru hingga dosen—justru menguatkan pandangan ini.
Anak-anak di MTs Aisyiyah Sumatera Utara tidak langsung menunjukkan prestasi gemilang. Namun mereka tumbuh dengan kepercayaan diri, dengan rasa dihargai, dan dengan kesadaran bahwa belajar adalah proses. Nilai-nilai itu tidak bisa diukur dalam waktu singkat, tetapi dampaknya terasa dalam jangka panjang.
Sayangnya, budaya instan semakin kuat dalam dunia pendidikan kita. Kita ingin hasil cepat, ranking tinggi, dan pengakuan formal, sering kali tanpa kesabaran merawat proses. Padahal, pendidikan sejatinya membutuhkan waktu, ketelatenan, dan keikhlasan.
Guru, kepemimpinan, dan keteladanan
Pengalaman saya sebagai wakil kepala sekolah dan pengelola pendidikan mengajarkan satu hal penting: kualitas pendidikan tidak pernah jauh dari kualitas kepemimpinan dan keteladanan guru. Sekolah bukan sekadar organisasi administratif, melainkan komunitas belajar.
Di ruang kelas sunyi itu, kami belajar memimpin dengan memberi contoh. Guru hadir lebih dulu, pulang paling akhir, dan terlibat langsung dalam setiap proses. Kepemimpinan tidak ditunjukkan lewat jabatan, tetapi lewat keteladanan.
Pengalaman itu relevan hingga kini. Di tengah kompleksitas sistem pendidikan, keteladanan guru dan pemimpin sekolah justru menjadi jangkar nilai yang menjaga pendidikan tetap manusiawi.
Mendengar kesunyian
Ruang kelas sunyi yang saya alami dua puluh empat tahun lalu bukanlah romantisme masa lalu. Ia adalah cermin untuk melihat kembali ke mana arah pendidikan kita hari ini. Dalam kesunyian itulah saya belajar bahwa pendidikan membutuhkan ruang untuk merenung, bukan sekadar bergerak.
Mungkin sudah saatnya kita, para pendidik, pengelola sekolah, dan pengambil kebijakan, kembali mendengar kesunyian itu. Kesunyian yang mengingatkan kita pada pertanyaan paling mendasar: untuk siapa pendidikan kita jalankan, dan nilai apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya?
Jika pendidikan kembali menemukan ruhnya, maka meski ruang kelas itu sederhana dan sunyi, ia akan tetap melahirkan manusia-manusia yang berdaya, berkesadaran, dan berkeadaban.
Wallahu a’lam Bish shawab
Penulis adalah Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut/Mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Sekolah Pascasarjana UNY/Dosen Universitas Negeri Medan

