Belajar sebagai Jalan Hijrah: Dari Tahu Menuju Bertindak
Penulis: Nur Ngazizah, Mahasiswa Doktoral UAD, Dosen UMPWR
Ada saat-saat ketika kita perlu jujur pada diri sendiri. Bahwa tidak semua yang kita ketahui benar-benar kita lakukan. Kita paham mana yang baik dan mana yang seharusnya, bahkan sering menyampaikannya kepada orang lain. Namun, dalam keheningan batin, kita menyadari ada jarak sunyi antara apa yang kita pahami dan apa yang sungguh-sungguh kita hidupi. Pengetahuan ada, tetapi tindakan belum selalu menyusul.
Di tengah dunia yang riuh oleh informasi, kegelisahan ini semakin terasa. Belajar menjadi rutinitas, nasihat kebaikan diulang-ulang, tetapi perubahan nyata sering berjalan tertatih. Di titik inilah pertanyaan mendasar itu muncul: untuk apa ilmu, jika ia tidak menggerakkan langkah dan menumbuhkan keberanian bertindak?
Al-Qur’an sejak awal mengingatkan kegelisahan ini. Dalam QS. Ash-Shaff ayat 2–3, Allah menegur dengan nada yang jujur dan menggugah: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?” Ayat ini bukan sekadar peringatan moral, melainkan ajakan lembut untuk bercermin. Ia mengajak manusia beriman menata ulang hubungan antara ilmu, iman, dan amal.
Dalam kehidupan belajar, jarak antara tahu dan bertindak kerap lahir karena belajar dipahami terlalu sempit. Belajar direduksi menjadi aktivitas kognitif: mendengar, mencatat, menghafal, dan diuji. Padahal, dalam pandangan Islam, belajar adalah proses yang utuh, melibatkan akal, hati, dan kehendak. Ilmu tidak berhenti pada pemahaman, tetapi menuntut penghayatan.
Al-Qur’an menggunakan istilah-istilah reflektif seperti tadabbur, tafakkur, dan ta‘aqqul. Semua istilah ini menandakan bahwa belajar sejati adalah perjalanan batin. Ada proses merenung, menimbang, dan menyadari. Dari proses itulah tumbuh kesadaran,bukan kesadaran yang gaduh, tetapi kesadaran yang tenang, jujur, dan bertanggung jawab.
Namun, kesadaran tidak tumbuh tanpa kesungguhan. Allah menegaskan dalam QS. Al-‘Ankabut ayat 69: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” Ayat ini menempatkan keseriusan sebagai syarat perubahan. Belajar yang sungguh-sungguh bukan sekadar hadir secara fisik, melainkan hadir sepenuh hati. Ia menuntut keberanian untuk menghadapi ketidaknyamanan, menguji asumsi lama, dan membuka diri pada perubahan.
Kesungguhan inilah yang perlahan melahirkan refleksi. Refleksi membawa seseorang pada kesadaran diri: tentang apa yang diyakini, mengapa diyakini, dan bagaimana keyakinan itu seharusnya diwujudkan. Pada titik ini, belajar tidak lagi berhenti pada “tahu”, tetapi mulai bergerak menuju “mau”. Dari mau, lahirlah tindakan.
Islam tidak pernah memisahkan iman dari amal. Bahkan waktu, sebagaimana diingatkan dalam QS. Al-‘Asr, menjadi saksi bahwa manusia berada dalam kerugian jika iman tidak diwujudkan dalam perbuatan baik dan komitmen sosial. Amal bukan sekadar pelengkap, melainkan bukti. Bukan untuk dipamerkan, tetapi sebagai tanggung jawab manusia sebagai hamba dan khalifah di bumi.
Nilai inilah yang sejak awal menghidupi gerakan Muhammadiyah. Muhammadiyah lahir dari keyakinan bahwa ilmu harus membumi dan amal harus tercerahkan. Ilmu amaliyah dan amal ilmiah bukan sekadar slogan, melainkan jalan hidup. Pendidikan Muhammadiyah tidak berhenti pada pencerdasan akal, tetapi berikhtiar menumbuhkan manusia yang mau bergerak, peduli, dan memberi manfaat nyata bagi sesama.
Pada akhirnya, belajar sejati adalah jalan hijrah. Hijrah dari pengetahuan yang dingin menuju kesadaran yang hidup. Hijrah dari kesadaran menuju tindakan yang jujur dan bertanggung jawab. Ketika ilmu dipelajari dengan kesungguhan, direnungi dengan hati yang terbuka, lalu dibuktikan dalam amal nyata, di situlah belajar menemukan kemuliaannya. Ia tidak hanya menerangi pikiran, tetapi juga menuntun langkah. Dan dari langkah-langkah kecil yang konsisten itulah, perubahan besar perlahan dilahirkan dari diri, untuk masyarakat, dan bagi umat.

