BENARKAH KITA TELAH MERUSAK BUMI?
“Kita jangan menganggap biasa saja peristiwa alam berupa bencana alam. Baik yang menimpa negara kita, maupun yang terjadi di mana-mnana di dunia. Seperti banjir, badai, musim dingin yang hebat dll. Sebagai ummat Islam, peristiwa tersebut harus dijadikan sebagai suatu peringatan dari Allah. Agar kita menginsafi kekuasaan Allah. Dan agar kita mengoreksi diri kita apakah kita telah melakukan hal-hal yang kurang baik di dunia ini, sehingga Allah menimpakan musibah kepada kita.”
Tulisan Allahuyarham AR Fachrudin yang dimuat di Majalah Suara Muhammadiyah Edisi 03 Tahun 1982 ini seharusnya menyentak kesadaran bersama kita sebagai penduduk bumi. Hidup kita di bumi ini hanya singgah sementara. Sementara, tugas utama yang dimandatkan Allah —selain beribadah kepada Allah— adalah merawat bumi. Pertanyaannya kemudian, apakah kita sudah melakukan itu?
Coba kita telusuri di dalam ruang kehidupan kita tentang kondisi alam belakangan ini. Kondisinya sangat menyesakkan dada. Alam mengalami perubahan luar biasa akibat ulah manusia yang melakukan tindakan destruktif (merusak, al-fasad). Secara snegaja maupun tidak.
Hal ini merupakan paradoks dengan amaran Tuhan , “Janganlah berbuat kerusakan di bumi.” Seketika dijawab, “Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” Namun, itulah jawaban manusia yang sembrono. Karena itu, Al-Qur’an meluruhkan jawaban tersebut dengan menyebut “Sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.” (Qs Al-Baqarah: 11-12).
Secara redaksional, ayat di atas ini memberikan sinyalemen kepada kita, agar jangan melakukan perusakan (al-fasad) di muka bumi. Akibat dari perusakan dan efek yang ditimbulkan juga jelas. Bencana ekologi terus masif menyeruak dengan intensitas tinggi.
Selengkapnya dapat membeli Majalah Suara Muhammadiyah digital di sini Majalah SM Digital Edisi 07/2026

