Berbagi Bahagia untuk Semua
Oleh: Mohammad Fakhrudin
Sejak beberapa tahun terakhir ini ungkapan “Jangan lupa bahagia” sangat popular. Ungkapan itu biasanya digunakan oleh motivator atau konsultan psikologi. Dari ungkapan itu kita ketahui bahwa setiap orang idealnya bahagia. Memang demikianlah yang seharusnya. Bagi muslim mukmin, bahagia harus dirasakan di dunia dan di akhirat.
Kita tidak menafikan bahwa pengertian bahagia sangat beragam. Variasi pengertian tersebut dapat kita pahami dari berbagai sudut pandangan. Latar belakang “pengalam” dapat melahirkan variasi itu.
“Jangan lupa bahagia” kiranya perlu dilanjutkan dengan “berbagi bahagia untuk semua” agar setiap orang dapat merasakan bahagia. Karena variasi latar belakang “pengalam berbeda”, materi dan cara berbagi bahagia berbeda juga.
Fenomena berbagi untuk semua makin marak di kalangan muslim. Ada Jumat Berkah, Sedekah Subuh, Berbagi Rezeki dan mungkin masih ada lagi sebutan lain.
Berbagi bahagia untuk semua tidak hanya dilakukan oleh perseorangan, tetapi juga organisasi, dan perusahaan. Fenomena yang sangat menarik adalah amalan tersebut dilakukan juga oleh muslim Indonesia di luar negeri yang mayoritas berpenduduk nonislam.
Bahagia dengan Berbagi
Bagi muslim mukmin berbagi itu sangat membahagiakan. Di antara mereka ada yang berbagi dengan sebagian hartanya. Mereka yakin bahwa berbagi sama sekali tidak mengurangi rezekinya. Memang benar secara materiel ada harta yang berkurang karena sebagian telah dipakai untuk berbagi. Namun, ada keyakinan yang kuat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti menggantinya dengan yang jauh lebih banyak dan hal itu sudah dirasakannya.
Guru dan dosen berbagi ilmu dan nilai-nilai kebaikan. Mereka bahagia melakukannya. Lebih-lebih lagi, jika murid dan mahasiswanya telah berbuat cerdas secara utuh sebagaimana diharapkan. Mereka bahagia meskipun murid dan mahasiswanya tidak berucap terima kasih. Baginya, tujuan utama berbagi ilmu dan nilai-nilai kebaikan adalah memperoleh rida Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Pedagang sayur, tahu, atau jajanan keliling bahagia ketika dagangannya terjual habis. Namun, mereka lebih bahagia lagi ketika dapat berbagi kepada saudara, tetangga, dan temannya yang lebih memerlukan perhatian.
Ekspresi Bahagia
Tersenyum dan tertawa umumnya menjadi bagian eskpresi bahagia. Ketika bahagia, banyak orang yang mengekspresikannya dengan tersenyum atau tertawa. Bahkan, ada yang tertawa terbahak-bahak. Lalu, mereka mengadakan pesta dengan mengundang teman-temannya. Niatnya adalah berbagi bahagia.
Ada pula yang mengekspresikan kebahagiannya dengan tersenyum. Mereka berbagi juga dengan cara yang sangat sederhana tanpa kehilangan makna bahagianya.
Masih ada lagi, yakni sujud syukur. Cara ini biasanya dilakukan orang-orang yang sangat tawaduk. Di dunia olahraga ada pevoli, pesepak bola, atau pebulu tangkis muslim yang melakukannya. Tentu masih ada lagi cara mereka mengekspresikan kebahagiaan misalnya selebrasi berlari-lari mengelilingi lapangan sambil tersenyum.
Menangis dapat pula menjadi ekspresi kebahagiaan. Mahasiswa yang mencapai kesuksesan melalui perjuangan berat biasanya mengekspresikan kebahagaiannya dengan cara demikian. Orang tua yang telah berjuang penuh tantangan demi kesuksesan anaknya pun biasa mengekspresikan kebahagiannya dengan deraian air mata. Mereka menyadari bahwa keberhasilannya itu tidak lepas dari pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka mereka melakukan sujud syukur.
Ada yang sama sekali tidak tahu asal kebahagiaan yang sebenarnya sehingga mereka mengekspresikan kebahagiannya dengan kesombongan dan membanggakan diri. Hal ini dijelaskan di dalam Al-Qur’an surat Hud (11): 10,
وَلَىِٕنْ اَذَقْنٰهُ نَعْمَاۤءَ بَعْدَ ضَرَّاۤءَ مَسَّتْهُ لَيَقُوْلَنَّ ذَهَبَ السَّيِّاٰتُ عَنِّيْۗ اِنَّهٗ لَفَرِحٌ فَخُوْرٌۙ
“Sungguh, jika Kami cicipkan kepadanya (manusia) suatu nikmat setelah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata, “Telah hilang keburukan itu dariku.” Sesungguhnya, dia sangat gembira lagi sangat membanggakan diri.”
Sedih Tidak Bisa Berbagi
Di antara muslim mukmin, ada yang telah merasakan kebahagiaan dengan berbagi. Mereka justru merasa sangat sedih jika tidak berbagi. Baginya, ada yang hilang atau berkurang ketika tidak dapat berbagi. Mereka benar-benar menyadari bahwa kebaikan yang dilakukannya sesungguhnya diperuntukkan bagi dirinya sendiri sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an surat al-Isra (17): 7,
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْۗ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ
“Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri.”
Kesedihannya dapat disebabkan juga oleh kesadaran yang mendalam bahwa manfaat dan pahala berbagi dalam rangka bersyukur, kembali kepadanya sebagaimana dijelaskan di dalam surat ar-Rum (30): 44
وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِأَنْفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ
"Dan barang siapa yang beramal saleh, maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan).”
Mereka dapat pula bersedih karena menyadari bahwa jika bersyukur hakikatnya bersyukur untuk diri sendiri. Hal ini dijelaskan di dalam firman Allah Subhanahu wa T’ala di dalam surat Luqman (31): 12,
وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ
“Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri.”
Dalam hubungannya dengan pahala bagi orang yang berbuat kebaikan, dijelaskan misalnya di dalam surat ar-Ra’d (13): 29,
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ طُوْبٰى لَهُمْ وَحُسْنُ مَاٰبٍ
“Mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan mengerjakan kebajikan serta amal saleh. Mereka pasti mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik di akhirat kelak, berupa surga dan keridaan Allah.”
Sementra itu, di dalam surat az-Zumar (39): 73 dijelaskan,
وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ اِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًاۗ حَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا وَفُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خٰلِدِيْنَ
“Orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan sehingga apabila mereka telah sampai di sana dan pintu-pintunya telah dibuka, para penjaganya berkata kepada mereka, “Salāmun ‘alaikum (semoga keselamatan tercurah kepadamu), berbahagialah kamu, maka, masuklah ke dalamnya (untuk tinggal) selama-lamanya!”
Sedih karena tidak dapat berbagi bahagia merupakan akhlak yang sangat terpuji. Namun, jika kesedihan itu membuatnya merasa “berdosa” dan kehilangan keyakinan bahwa Allah Suhanahu wa Ta’ala pasti mencatat kebiasaan berbagi yang telah dilakukannya, kiranya merupakan sikap yang berlebihan. Di dalam hati setiap muslim mukmin harus tetap ada keyakinan yang kuat bahwa kebiasaan berbagi ketika tidak beruzur pasti memperoleh balasan kebaikan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala meskipun kebiasaan itu tidak dapat dilakukannya ketika beruzur. Hal itu dijelaskan di dalam HR al-Bukhari berikut ini.
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
“Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.”
Sementara itu, di HR Ahmad dijelaskan, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radiaallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْعَبْدَ إِذَا كَانَ عَلَى طَرِيقَةٍ حَسَنَةٍ مِنَ الْعِبَادَةِ ثُمَّ مَرِضَ قِيلَ لِلْمَلَكِ الْمُوَكَّلِ بِهِ اكْتُبْ لَهُ مِثْلَ عَمَلِهِ إِذَا كَانَ طَلِيقاً حَتَّى أُطْلِقَهُ أَوْ أَكْفِتَهُ إِلَىَّ
“Seorang hamba jika ia berada pada jalan yang baik dalam ibadah, kemudian ia sakit, maka dikatakan pada malaikat yang bertugas mencatat amalan, “Tulislah padanya semisal yang diamalkan rutin jika ia tidak terikat sampai Aku melepasnya atau sampai Aku mencabut nyawanya.”
Subhanallah!

