Berbuat Baik di dalam Pergaulan
Oleh: Mohammad Fakhrudin
Setiap muslim wajib berbuat baik di dalam pergaulan. Berbuat baik merupakan bagian dari akhlakul karimah.
Pada era volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity (VUCA) perilaku manusia yang mengejutkan dan menyesakkan dada dengan mudah dapat kita saksikan. “Oknum” penegak hukum melanggar hukum. “Oknum” penegak keadilan, berbuat tidak adil. Sampai-sampai ada orang yang mengatakan bahwa hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. Ada juga orang yang sampai seperti frustrasi karena kompetensi tidak lagi berarti, sedangkan “loyalitas” menjadi prioritas. Meritokrasi hanya ada di dalam mimpi.
Kebaikan dibalas dengan keburukan. Keburukan dibalas dengan berlipat keburukan.
Akibatnya, cukup banyak orang yang memilih jalur pintas. Mereka membuang idealisme. Mereka mengkhianati hati nurani, menjual harga diri, bahkan, memfitnah teman sendiri. Mereka mengaku beriman, tetapi berkawan dengan preman hingga menghalalkan segala jalan demi tercapainya tujuan. Kebenaran dan kemunkaran pun dicampuradukkan.
Hubungan Iman dengan Akhlak
Ada hubungan antara iman dan akhlak sebagaimana dijelaskan di dalam HR at-Tirmizi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya.”
Berdasarkan hadis tersebut kita ketahui bahwa bukti kesempurnaan iman setiap muslim adalah kemuliaan akhlaknya. Dengan merujuk kepada pendapat Yunahar Ilyas, kemuliaan akhlak seseorang tidak hanya ditentukan oleh kebaikannya terhadap sesama manusia, tetapi juga akhlaknya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Pendapat tersebut relevan dengan standar yang digunakannya di dalam hal akhlak, yakni Al-Qur’an dan as-Sunnah.
Jadi, jika seseorang terhadap sesama manusia berbicara dan berperilaku santun dan menghargai haknya, tetapi tidak melaksanakan shalat misalnya, sesungguhnya belum dapat dikatakan berakhlak mulia karena dia berakhlak buruk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Dia buruk akhlak karena ketidaktakwaannya, yakni tidak mengerjakan perintah shalat.
Berbicara santun merupakan bagian perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perintah shalat merupakan bagian perintah-Nya juga dan yang sangat penting bagi proses berakhlak mulia. Di dalam shalat terdapat pendidikan akhlak.
Berkenaan dengan itu, sangat relevan jika di dalam Bab III.A.3 Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah dikemukakan, ”Setiap warga Muhammadiyah melaksanakan ibadah mahdah dengan sebaik-baiknya dan menghidupsuburkan amal nawafil (ibadah sunnah) sesuai dengan tuntunan Rasulullah serta menghiasi diri dengan iman yang kokoh, ilmu yang luas, dan amal saleh yang tulus sehingga tecermin dalam kepribadian dan tingkah laku yang terpuji.”
Keutamaan Berakhlak Mulia
Di dalam HR at-Tirmizi dijelaskan bahwa orang yang dicintai dan dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang bagus akhlaknya.
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya, yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.”
Sesungguhnya, di dunia pun orang yang berakhlak mulia dicintai oleh sesama manusia tanpa tersekat oleh perbedaan agama, suku, bangsa, dan ras. Hal itu dapat kita saksikan di dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa yang dilandasi fitrah manusia, yang antara lain, suka pada kebaikan. Ketika dirinya dan/atau keluarganya diperlakukan tidak baik, dia tidak suka. Ketidaksukaan kepada ketidakbaikan itulah sesungguhnya fitrah manusia.
Contoh Akhlak Mulia di dalam Pergaulan
Mulia tidaknya akhlak kita di dalam pergaulan dapat dilihat dari amal kebaikan, antara lain, (1) berbuat kebaikan kepada sesama, (2) membalas kebaikan dengan yang lebih baik, (3) membalas keburukan dengan kebaikan, dan (4) meningkatkan amal kebaikan.
Jika semua itu kita lakukan berdasarkan iman, kita memperoleh pahala dunia akhirat.
1. Berbuat Kebaikan kepada Sesama
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an surat an-Nisa (4):36
وَا عْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـئًـا وَّبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَا لْيَتٰمٰى وَ الْمَسٰكِيْنِ وَا لْجَـارِ ذِى الْقُرْبٰى وَا لْجَـارِ الْجُـنُبِ وَا لصَّا حِبِ بِا لْجَـنْبِۢ وَا بْنِ السَّبِيْلِ ۙ وَمَا مَلَـكَتْ اَيْمَا نُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَا نَ مُخْتَا لًا فَخُوْرًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.”
Peristiwa fenomenal yang akhir-akhir ini kita saksikan dan rasakan, antara lain, adalah perilaku-baik takmir masjid kepada anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, ibnu sabil, dan musyafir. Mereka diperlakukan dengan baik meskipun di antara mereka bukan muslim. Mereka diizinkan beristirahat di masjid. Untuk mereka disediakan tempat beristirahat dan makan yang layak.
2. Membalas Kebaikan dengan yang Lebih Baik
Allah Subhanahu wa Ta’ala mendidik kita aagar membalas kebaikan dengan yang lebih baik. Hal itu dijelaskan di dalam firman-Nya misalnya di dalam surat al-An’am (6): 160
مَنْ جَآءَ بِا لْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَا لِهَا ۚ وَمَنْ جَآءَ بِا لسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزٰۤى اِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
“Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi).”
Masih dalam hubungannya dengan balasan atas kebaikan, di surat an-Najm (53): 31 dijelaskan bahwa orang yang berbuat baik mendapat balasan surga,
وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ لِيَجْزِىَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔوا۟ بِمَا عَمِلُوا۟ وَيَجْزِىَ ٱلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ بِٱلْحُسْنَى
“Milik Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. (Dengan demikian,) Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).”
Sementara itu, di dalam surat an-Nisa (4): 86 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَاۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا
“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah dengan yang sepadan. Sesungguhnya, Allah Maha Memperhitungkan segala sesuatu.”
Dari ayat-ayat tersebut kita ketahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mendidik kita agar membalas kebaikan dengan ucapan dan/atau tindakan yang lebih baik dan balasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, semestinya kita berusaha agar dapat membalas kebaikan dengan yang lebih baik.
3. Membalas Keburukan dengan Kebaikan
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintah kita agar membalas keburukan dengan kebaikan. Hal itu dapat kita ketahui misalnya di dalam surat ar-Ra’d (13):22-23
والَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً وَّيَدْرَءُوْنَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِۙ
جَنّٰتُ عَدْنٍ يَّدْخُلُوْنَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ اٰبَاۤىِٕهِمْ وَاَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ
“Orang-orang yang bersabar demi mencari keridaan Tuhan mereka, mendirikan salat, menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, dan membalas keburukan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapatkan tempat kesudahan (yang baik)
(Yaitu) surga-surga ‘Adn. Mereka memasukinya bersama orang saleh dari leluhur, pasangan-pasangan, dan keturunan-keturunan mereka, sedangkan malaikat-malaikat masuk ke tempat mereka dari semua pintu.”
Perintah membalas keburukan dengan kebaikan terdapat pula di salam surat al-Furqan (25): 63
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا
“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam.”
Perintah yang sama terdapat juga di dalam surat al-Qashash (28):54 dan Fushilat (41): 34-35.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memaafkan dan mendoakan kebaikan bagi orang yang menganiayanya. K.H.A.Dahlan membalas perlakuan buruk dengan kebaikan misalnya mendirikan sekolah dan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO), Jitmoud memaafkan Troy Refford (pembunuh anaknya), dan Hamka menjadi imam shalat jenazah Soekarno (Presiden I RI), padahal pada rezim Soekarno Hamka dipenjarakan tanpa proses peradilan. Semua itu merupakan contoh pengamalan perintah membalas keburukan dengan kebaikan..
4. Meningkatkan Amal Kebaikan
Ada orang bilang tua itu pasti dewasa itu pilihan. Yang sebenarnya terjadi tua pun tak pasti. Yang pasti adalah mati. Mati tak pernah kompromi dengan siapa pun; kapan pun; di mana pun, dan bagaimana pun,
Mati tak selalu melalui tua atau sakit dulu; dapat datang kala menyanyi hura-hura atau mengaji sepenuh jiwa; bermaksiat atau beribadat; nyinyir atau zikir, marah atau ramah. Entah usia tinggal berapa tahun, bulan, pekan, hari, jam, menit, detik dalam genggaman kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Oleh karena itu, semestinya kita berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah (2): 148
وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِ ۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
"Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Perintah agar setiap muslim meningkatan kebaikan dapat kita ketahui pula di dalam urat Fathir (35): 32
ثُمَّ اَوْرَثْنَا الْكِتٰبَ الَّذِيْنَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَا دِنَا ۚ فَمِنْهُمْ ظَا لِمٌ لِّنَفْسِهٖ ۚ وَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌ ۚ وَمِنْهُمْ سَا بِقٌ بِۢا لْخَيْرٰتِ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيْرُ
"Kemudian, Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar."
Mari kita mawas diri. Mungkin ada di antara kita ketika mengendarai mobil dibantu oleh pembantu pengatur lalu lintas sehingga kita dapat masuk ke jalan yang kita tuju dengan lancar. Lalu, kita memberinya uang. Tindakan tersebut merupakan kebaikan. Namun, kebaikan tersebut meningkat jika kita mengucapkan terima kasih kepadanya juga. Kita telah dibantu. Pantaskah jika kita berharap agar dia yang berterima kasih kepada? Pantaskah jika kita bergumam dengan menyebut dia sebagai orang yang tidak tahu berterima kasih?
Ketika naik mobil lewat jalan kampung, menyapa dengan klakson merupakan kebaikan. Namun, membuka kaca jendela mobil dan berucap.mohon izin, lebih baik. Berucap salam jauh lebih baik lagi.
Suami menafkahi keluarga merupakan kebaikan. Suami menafkahi keluarga dengan rezeki yang halal dan baik merupakan kebaikan yang lebih tinggi.
Berhijab dan berkaos kaki ketika kondangan, takziah, dan mengaji merupakan kebaikan. Membiasakan di rumah, pada pertemuan PKK, pada pertemuan Dasawisma, dan belanja ke tetangga berhijab dan berkaos kaki merupakan kebaikan yang lebih tinggi.
Berucap salam.dan bertegur sapa kepada tetangga usia dewasa merupakan kebaikan. Berucap salam dan bertegur sapa kepada tetangga usia kanak-kanak merupakan kebaikan yang lebih tinggi.
Kita mulai meningkatkan kebaikan dari ucapan dan tindakan yang sederhana.
Bismillaahirrahmaanirrahiim!

